• Jakarta - Kemampuan tenaga ahli perkapalan Indonesia tidak perlu diragukan. Mereka telah mampu memproduksi kapal angkut militer yakni KRI Banjarmasin dan KRI Banda Aceh. Di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara KRI Banjarmasin dikenalkan ke publik melalui acara HUT ke-50 Seskoal.

    Pantauan repoter detikcom di dermaga Markas Komando Lintas Laut, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (24/9/2012), bersandar sebuah kapal sepanjang 125 meter dengan lebar 22 meter bernomor lambung 592. Kapal tersebut adalah KRI Banjarmasin buatan PT PAL, yang mampu mengangkut 5 helikopter dan 22 tank berukuran standar.

    "Sementara ini kapal paling besar buatan kita. Kapal ini juga mampu menggangkut kapal kecil jenis Landing Craft Unit (LCU) dan di atas ada Landing Craft or Personel," kata Kepala Departemen Senjata Bahari, Kapten Laut (P) Homa Sugama.

    KRI Banjarmasin merupakan kapal docking sehingga separuh badannya bisa tenggelam hingga 2 meter. Mampu melaju dengan kecepatan maksimum 15 knot dan bobot 2500 ton, kapal ini mampu menerjang ombak 5 meter menghadang.

    "Bisa docking hingga kedalaman 1,8 meter sehingga LCU bisa keluar. Pada saat posisi tenggelam posisi ombak maksimal 1-2 meter. Tapi ketika tidak docking, kita pernah berlayar dengan ombak setinggi 5 meter di perairan Papua, kita mampu," kata Homa.

    Kapal ini dibuat pada tahun 2007 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 28 November 2009 oleh Menteri Pertahanan RI. Kapal ini memiliki kru sebanyak 130 orang dan ruang tidur 220 personel dinahkodai oleh Letkol Laut Stanley Lekahena.

    "Kapal jenis ini di Indonesia ada 5, tiga buatan Korea Selatan, dan dua buatan PT PAL. Kapal ini menggunakan mesin dari Korea Selatan, karena kita memang ada kerja sama dengan mereka," ujar Homa.
  • 2014, Alutsista TNI Terkuat di ASEANJAKARTA - Pembangunan kekuatan militer besar-besaran yang dilakukan Pemerintah Indonesia, telah menimbulkan kekhawatiran negara-negara lain. Pada tahun 2014 kekuatan militer Indonesia dengan berbagai alat utama sistem senjata (alutsista) yang ada akan memimpin di ASEAN.

    "Bayak negara lain mengkhawatirkan pembangunanan kekuatan kita saat ini," kata Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa, di Jakarta, Selasa (17/1).

    Meski demikian, tambah dia, pembangunanan kekuatan militer besar-besaran yang tengah dilakukan oleh pemerintah saat ini, bukan dalam rangka offensive, tetapi lebih pada mempertahankan kedaulatan bangsa.
    Menurutnya, pembangunan kekuatan militer dan keamanan suatu bangsa akan seiring sejalan dengan laju perkembangan ekonomi dalam negara tersebut. Tampa terkecuali di Indonesia dengan perkembangan ekonomi dan kesejahteraan yang terus membaik.

    Sejak reformasi dilakukan 1998, termasuk di sektor pertahanan, TNI tidak luput melakukan reformasi melalui restrukturisasi dalam tubuh TNI. Namun saat itu, belum menyentuh pada reformasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI. "Karena ekonomi yang terus membaik, sekarang dengan anggaran alutsista yang besar, kita membangun kekuatan TNI yang besar-besaran dalam lima tahun ini," tambah Menhan.

    Sebagai gambaran kasar, kekuatan militer Indonesia, dalam waktu dekat, Indonesia akan memiliki pesawat tempur generasi 4,5, pemantapan alutsista untuk TNI Angkatan Darat dengan datangnya tank-tank berat, modernisasi alutsista di Angkatan Laut. "Akhir 2014 TNI akan kuat sekali, nanti kita akan kuat di ASEAN," kata Menhan.

    Dalam kesempatan yang sama Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan persyaratan sebuah negara yang berdaulat adalah dari kekuatan militernya. Namun, kekuatan militer tidak hanya diukur dari kuantitas kekuatan militer saja, tetapi juga dari strategi militer yang digunakan. "Pembangunan kekuatan militer lebih untuk kepentingan perdamaian dunia," katanya.

    Pada kesempatan tersebut, Sjafrie mengatakan Departemen Pertahanan (Dephan) memastikan anggaran belanja alutsista yang cukup besar bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Dephan melakukan audit berlapis dalam pembelian alustista sebagai langkah pencegahan penyimpangan.

    Menurut dia, tambahan anggaran yang besar dalam revitalisasi alutsista sebenarnya merupakan pil pahit bagi Dephan. Namun merupkan gula bagi perkembangan industri pertahanan Indonesia. "Tambahan anggaran besar ini menjadi gula untuk pengembangan bisnis militer, namun juga ternyata menjadi pil pahit bagi kami. Yakni bagaimana untuk menghindari adanya penyimpangan," ujarnya.

    Kemhan sendiri telah membentuk tim konsultasi pencegahan penyimpangan pembelian (TKP3B) dalam rangka pengawasan pengadaan pembelian alutsista. Untuk memastikan tidak adanya penyimpangan dalam anggaran yang besar tersebut, maka TKP3B melalukukan audit berlapis dalam proses pengadaan alutsista.

    Pengadaan alutsista nantinya akan dilakukan secara hati-hati dan teliti dengan skema pembelian langsung, yakni dari pemerintah ke pemerintah atau G to G ataupun antara pemerintah dan produsen secara langsung. "Jadi auditnya tidak hanya di ujung, tapi untuk pembelian alutsista akan ada audit awal. Kalau masih lolos, udah keterlaluan," ujarnya. nik/P-3
  • Instalasi Rudal Yakhont pada KRI A Yani ClassAda sebuah baliho yang dipasang pada sebuah uji tanding ketangguhan prajurit sebuah negara tetangga, bunyinya: Biarpun tak menang yang penting jaguh.  Slogan ini boleh jadi mengisyarakan kualitas  prajurit negara tersebut yang tahu diri dengan kemampuannya atau bisa juga mencerminkan sebagai pasukan seremonial belaka.

    TNI sebagai pengawal republik tentu bukan sekelas itu.  Dalam setiap uji tanding kemampuan dan kedayatahanan prajurit di rantau ini, TNI selalu tampil sebagai yang terbaik, juara pertama, juara umum, tak tergoyahkan selama bertahun-tahun.  Ini adalah sebuah muara bintang dari pola pembinaan jasmani militer, ketangkasan, bela diri, terampil dalam penggunaan alutsista dan cerdas olah pikir.

    Ketangguhan personal TNI secara de yure dan defacto diakui oleh para jiran. Dilihat dari uji tampil dan terampil sosok penampilan personil TNI jauh lebih garang ketimbang tentara Singapura atau Malaysia. Belum lagi bicara endurance.  Buktinya dalam sebuah latihan bersama pasukan Marinir RI dengan pasukan marinir AS di Jawa Timur  setahun lalu, pasukan marinir AS rontok dan menyerah dalam latihan survival di tengah hutan Banyuwangi.


    Sudah tentu kualitas daya tahan dan keunggulan jasmani militer TNI akan semakin berbinar dengan bertambahnya beragam alutsista di gudang arsenalnya.  Berita dan fakta sepanjang semester I tahun 2011 ini sudah terang benderang menyampaikan kegembiraan yang luar biasa bagi jajaran TNI bahwa sebentar lagi menghadapi panen raya alutsista, tepatnya mulai tahun depan.  Meskipun begitu tahun ini dan tahun sebelumnya TNI juga sudah banyak mendapatkan alutsista baru, tetapi itu belum bisa disebut panen raya, ya panen kecil-kecilan lah.

    Alutsista-alutsista yang bernilai strategis sudah, sedang dan akan memenuhi kesatrian-kesatrian TNI. Pesawat tempur Sukhoi sudah ada 10 biji, tahun ini kontraknya ditambah 6 lagi lengkap dengan ragam arsenalnya, kemudian tahun berikutnya ditambah lagi sampai mencapai 32 unit (2 Skuadron). Pesawat tempur F16 eksisting ada 10 biji, Desember tahun ini dipastikan bertambah 24 biji sehingga mencapai 34 unit (2 Skuadron).  Tahun 2012 Super Tucano made in Brazil mulai berdatangan sebanyak 16 unit, tahun yang sama pesawat tempur latih T50 buatan Korsel sebanyak 16 unit juga masuk skuadron di Madiun. TNI AU juga naksir berat untuk mendapatkan 24 unit pesawat tempur Typhoon buatan Inggris, 16 unit Sukhoi SU35 dan 12 unit pesawat tempur stealth F35.  

    Nah, kalau ini diurut-urut jumlahnya akan mencapai 180 unit alias sama dengan 10 skuadron. Ini belum ditambah dengan 50 unit pesawat tempur KFX hasil kerjasama teknologi Korsel dan Indonesia. Sementara 12 batalyon Paskhas TNI AU dilengkapi dengan rudal jarak pendek dan rudal jarak menengah surface to air untuk pertahanan pangkalan udara. Sangat wajar untuk melindungi alutsista strategis yang dimilikinya.

    Matra laut sejak jaman Trikora dan Dwikora sampai saat ini merupakan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.  Kekuatan AL kita secara kuantitas mengungguli Malaysia, Thailand dan Singapura. Posisi juara bertahan itu akan terus dipertahankan dengan menambah jumlah KRI sampai 300 unit.  Maka proyek  100 KCR (Kapal Cepat Rudal) murni buatan dalam negeri sudah dan sedang digelar. Proyek  kerjasama pembuatan PKR (Perusak Kawal Rudal) untuk membuat 10 PKR sedang berjalan, proyek kerjasama pengadaan kapal selam Juni 2011 ini sudah sign kontrak.  TNI AL  akan mendapatkan tambahan kapal selam sebanyak 5 unit dalam 2 kontrak pengadaan.  Penerbal yang sudah dibagi menjadi 2 wing juga sedang mempersiapkan kedatangan 1 skuadron Heli AKS (anti kapal selam) dan 1 skuadron Heli AKP (anti kapal permukaan).

    Sementara kontrak pengadaan 11 LST dengan PAL dan Koja Bahari sudah berjalan.  Proyek Yakhont dan C802 yakni pemasangan rudal dan sistem integrasi tempur pada puluhan KRI sudah dan sedang berjalan.  TNI AL juga mempersiapkan pembuatan 2 unit LHD yang  dikerjakan PAL.  Benar-benar sibuk si PAL dapat order seabreg.  Belum pernah sepanjang sejarah perjalanan hidupnya PAL mendapat order sebanyak itu.  Galangan kapal dalam negeri juga ikut menikmati pesta alutsista.  Mulai dari Lundin Banyuwangi, Koja, sampai Batam dapat proyek milyaran buat KCR ,Trimaran dan LST.

    Bisa dibayangkan kelak (tidak lama lagi kok) perairan Nusantara dikawal 300 an KRI,  14 kapal selam, 450 KAL dan ratusan kapal Bakorkamla (DKP, Polisi Air, Bea Cukai).  Armada tempur dengan kekuatan 300 KRI ini dibagi menjadi 3 armada tempur, demikian juga pasukan Marinir yang saat ini berkekuatan 2 divisi ditambah menjadi 3 divisi sesuai dengan kekuatan armada TNI AL. Marinir sudah dilengkapi dengan tank amphibi BMP-3F, RM Grad, Rudal QW3, BTR-80, BTR-50, AMX, Howtizer dan Roket.  Korps Marinir akan terus menambah kekuatan pukulnya dengan menambah tank amphibi BMP-3F dan BTR-90 sampai mencapai minimal 300 unit.  Perlu dicatat, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki kekuatan Marinir terkuat dan disegani.

    Walau tidak “seheboh” dengan revolusi alutsista di matra laut dan udara, Angkatan Darat juga berbenah dengan sejumlah target. Diantaranya pembentukan Divisi Lintas Udara Kostrad, pembentukan puluhan batalyon baru baik satuan organik Kodam maupun satuan organik Kostrad. Pembentukan Kodam Tanjungpura Kalbar sudah jadi. Rematerialisasi alutsista Armed dengan menambah satuan roket dan rudal dalam jumlah besar.  Repowering 300 tank AMX, penambahan 150 panser Anoa, penambahan 100  Tank IFV,  pengadaan 80 Howitzer, pengadaan ratusan rudal anti tank, pengadaan 100 panser Canon.

    Penerbad juga dimekarkan menjadi 5 skuadron dengan mendatangkan  alutsista baru yaitu  8 Heli Mi35, 16 Heli Mi17 dan 40 Heli Bell 412EP.  TNI AD juga sedang mempersiapkan metamorfosis puluhan batalyon infantri menjadi batalyon infantri mekanis dengan menambah alutsista tempur berupa panser dan tank IFV.  Jika ada 10 batalyon yang dimetamorfosis maka diperlukan paling sedikit 600 panser dan atau tank IFV yang gress. Sementara itu proyek strategis yang paling sepi publisitas adalah proyek rudal Lapan-Pindad-China. Rudal surface to surface ini mampu menjangkau jarak tembak sampai 300 km.  Bisa dibayangkan jika dari Sumatra, Batam dan Kalimantan disebar ratusan rudal jenis ini akan memberikan nilai detterens yang begitu kuat gaungnya bagi kedigdayaan alutsista TNI.

    Itu semua menggambarkan kekuatan TNI sebagai pejantan tangguh, ayam kinantan yang mampu berkokok dan berkelahi baik berkelahi dengan alutsista atau berkelahi tanpa alutsista.  Kita meyakini dengan kekuatan daya tahan dan bela diri yang dimiliki personil TNI, setiap satu personil TNI mampu mengalahkan 3 prajurit Malaysia dan 5 prajurit Singapura.  Artinya jika 1 prajurit TNI dikeroyok 3 prajurit  Malaysia atau dengan 5 prajurit Singapura tanpa senjata, pertarungan itu akan dimenangkan oleh prajurit TNI.
  • Pemerintah Indonesia dengan resmi telah melakukan permintaan untuk kemungkinan pembelian 8 Heli Serang AH-64D Apache Block III Longbow beserta perlengkapan, suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik kepada Pemerintah AS.   Permintaan tersebut telah mendapat lampu hijau dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA) yang memberitahukan Kongres AS pada tanggal 19 September 2012.  Perkiraan biaya pembelian ke 8 Heli Serang tersebut adalah: $1,4 miliar
    Daftar permintaan Pemerintah Indonesia antara lain:
    • 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters
    • 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares),
    • 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors,
    • 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component),
    • 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers,
    • 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser,
    • 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets,
    • 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets,
    • 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21),
    • 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, and
    • 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles.
    HELLFIRE AGM-114R3 Missiles
    Dalam paket pembelian tersebut juga termasuk perangkat IFF (Identification Friend of Foe), Senjata dan Amunisi 30mm, perangkat komunikasi,  tool dan test equipment, perangkat latihan, simulator, generator, transportasi, kendaraan pendukung, suku cadang, pelatihan personal dan perangkat pelatihannya.
    Proposal penjualan senjata ini oleh Pemerintah AS dianggap akan memberikan bantuan kepada kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan dari negara-negara yang telah dan terus akan menjadi sahabat Pemerintah AS,yang menjadi kekuatan penting dalam stabilitas ekonomi dan politik di Asia Tenggara
    Dalam proposal tersebut, Pemerintah Indonesia akan mendapatkan aset vital untuk melindungi dan menghalangi ancaman keamanan potensial baik dari dalam maupun luar.  Pemerintah Indonesia akan menggunakan Heli Serang Apache untuk pertahanan perbatasan, operasi anti terorismd dan pembajakan laut dan mengontrol kelancaran alur transportasi laut di Selat Malaka. 
     Peralatan dan Servis yang dilakukan dalam program pembelian ini akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah kekuatan pertahanan yang lebih baik dan menjadi bagian penting dalam kerjasama pertahanan dengan pasukan AS.
    DSCA menganggap penjualan Heli Serang Apache beserta perangkat dan pendukungnya dianggap tidak akan mengubah keseimbangan militer di regional Asia Tenggara.
    Sumber : ARC
  • Swedish Gripen (photo : Militaryphotos)

    PETALING JAYA : The Royal Malaysian Air Force (RMAF) is considering an offer from Sweden to lease up to 18 JAS39 Gripen fighter jets for its Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) programme.
    RMAF chief Tan Sri Rodzali Daud told theSun leasing the Gripens is a cheaper solution considering the huge capital expenditure needed for the procurement of new fighters.
    "The Gripens had been leased to European air forces, so there is nothing new about such a deal.
    "The aircraft also meets all of our MRCA requirements although I admit it is short on gas and range due to its small size," he said when asked to comment on claims by defence industry sources that Sweden has offered a lease-buy option for the Gripens.
    Sources told theSun that offer was made after Gripen and the Sukhoi Su-30MKM were eliminated from the MRCA programme following technical evaluation by RMAF test pilots.
    They said the three top contenders, namely Boeing F/A-18 Super Hornet, Dassault Rafale and Eurofighter Typhoon, would compete for the final stage of the programme, where their transfer of technology packages and off-set offers would be evaluated before the winner is selected.
    Rodzali denied that Gripen and Sukhoi were no longer considered for the MRCA programme as "we are still evaluating all of the aircraft".
    He also denied that RMAF had ranked the aircraft in the technical evaluation.
    Instead, he said, the aircraft's strengths and weaknesses were documented for further evaluation.
    According to him, one important factor for the final selection would be the lowest support cost. "If the Super Hornet is seen as the favourite, it is because we already have the Hornets (eight units) in service."
    Asked how many Gripens will be leased if the offer is accepted, he said "preferably it will be 18 planes as specified in the MRCA".
    He said despite budgetary constraints, the MRCA programme will go ahead as the air force has planned to retire the 10 MiG-29N Fulcrum air superiority fighters by 2015. "We may need a special budget, one that covers three Malaysian plans," he added.
    Rodzali declined to confirm the budget allocation for the MRCA programme but sources told theSun the air force could only procure 12 jets if it opts for the Super Hornet, Rafale or Typhoon.
    Hungary and Czech operate the Gripens under a 10-year lease-and-buy contract, for around RM398 million a year, which covers servicing and training.
    Rodzali dismissed any hint of an arm race in the impending buy.
    "The reason we are looking for new fighters is because of the capability gap. We need to ensure we are on par with other nations.
    "Another reason is technology. Technology is moving rapidly. We cannot afford to be left behind."





  • AH-64 Apache adalah sebuah helikopter tempur yang sesuai untuk semua keadaan cuaca. Ia dikendalikan oleh dua orang krew dan persenjataan utamanya merupakan sebuah meriam rantai M230 30 mm yang terletak di bawah moncongnya. Helikopter ini juga bisa membawa kombinasi persenjataan lain seperti AGM-114 Hellfire dan pod roket Hydra 70 empat tenggekan pada pilon pangkal sayap. AH-64 Apache adalah helikopter penyerang utama untuk Angkatan Darat Amerika Serikat dan merupakan pengganti dari helikopter penyerang AH-1 Cobra.

    Ah-64 Apache telah dirancang oleh perusahaan Hughes Helicoptersuntukmerespon program Helikopter Penyerang maju (HPT) Angkatan Darat AS Firma McDonnell Douglas kemudian membeli Hughes Helicopters dan melanjutkan pembangunan helikopter ini. Pembangunan ke atas helikopter ini kemudian telah menghasilkan helikopter AH-64D Apache Longbow yang kini dikeluarkan oleh Boeing Integrated Defense Systems. Helikopter-helikopter AH-64 milik Angkatan Darat AS ini pernah beraksi dalam operasi-operasi diinvasi Amerika Serikat ke Panama 1989, Perang Teluk, Afghanistan, dan Iraq.

    Pembangunan
    Helikopter Penyerang Termaju
    Menyusul pembatalan program AH-56 Cheyenne untuk memberi akses kepada proyek-proyek Angkatan Udara Amerika Serikat dan Korps Marinir Amerika Serikat seperti A-10 Thunderbolt II dan Harrier Jump Jet , Angkatan Darat Amerika Serikat membutuhkan sebuah pesawat untuk memenuhi peran serangan anti tank yang mana masih menjadi tanggungjawab di bawah Angkatan Darat; Perjanjian Key West 1948 melarang tentara darat dari menggunakan pesawat kepak kaku. Pihak Angkatan Darat menginginkan sebuah helikopter yang lebih baik dibandingkan AH-1 Cobra dari segi kekuatan tembak, kinerja dan jarak. Ia harus memiliki kemampuan untuk terbang dalam misi nap-of-the-earth (noe). Angkatan Darat AS kemudian mengeluarkan Permintaan Untuk Rekomendasi untuk program Helikopter Penyerang maju pada tahun 1972.

    Saran untuk program ini kemudian dikirim oleh lima produsen yaitu Bell, Boeing Vertol (bekerjasama dengan Grumman), Hughes,Lockheed, dan Sikorsky. Pada 1973, Jabatan Pertahanan Amerika Syarikat telah memilih dua peserta akhir iaitu firma Bell dan Hughes Aircraft/Toolco Aircraft Division (kemudian Hughes Helicopters). Pemilihan ini menandakan permulaan fasa 1 persaingan program ini.

    Setiap perusahaan kemudian membangun helikopter prototipe untuk mengarungi program tes penerbangan. Helikopter prototipe buatan Hughes yaitu Model 77/YAH-64A telah melakukan penerbangan sulung pada 30 September, 1975, sementara prototipe dari perusahaan Bell yaitu Model 409/YAH-63A ​​pula melakukan penerbangan sulung sehari kemudian. Setelah mengevaluasi hasil tes, militer darat telah memilih helikopter buatan Hughes Helikopters yaitu YAH-64A dibandingkan YAH-63a buatan Bell pada 1976. Antara alasan untuk pemilihan YAH-64A termasuk bilah rotor utamanya yang lebih tahan kerusakan dan ketidakstabilan susunan giar pendaratan tiga roda di helikopter YAH-6.

    Helikopter AH-64A kemudian memasuki fase 2 program HPT. Dalam fase ini, Hughes akan membangun tiga buah helikopter AH-64 pra-produksi dan mengupgrade dua buah helikopter prototipe AH-64 yang digunakan dalam tes penerbangan dan darat ke standar yang sama.Biaya keseluruhan program AH-64D adalah AS $ 10.5 miliar hingga April 2007.

    Mula dikeluarkan
    Pada 1981, tiga buah helikopter AH-64 pra-pengeluaran diserahkan kepada Tentera Darat A.S bagi Ujian Operasi II. Ujian oleh pihak Tentera Darat A.S berjaya, tetapi kemudian memutuskan untuk menaiktaraf enjin kepada versi T700-GE-701, yang mana menghasilkan 1,690 shp (1,259 kW). Pada akhir 1981, AH-64 telah dinamakan sebagai "Apache", yang mana selari dengan tradisi tentera darat yang menggunakan nama-nama puak asli Amerika untuk helikopter mereka. Pengeluaran berskala penuh telah diluluskan kepada Hughes pada 1982. Pada 1983, helikopter pengeluaran pertama dikeluarkan daripada kemudahan Hughes Helicopter di Mesa, Arizona. Pada 1984, Hughes Helicopters dibeli oleh McDonnell Douglas dengan harga AS$ 500 juta. Hughes kemudian menjadi sebahagian daripada syarikat Boeing ekoran penggabungan di antara Boeing dan McDonnell Douglas pada Ogos 1997. Pada 1984, kos bagi menerbangkan sebuah AH-64A adalah AS$7.8 juta dan unit kos purata dianggarkan kira-kira AS$14 juta termasuk kos pembangunan.

    Pada 2004, General Electric Aviation mula mengeluarkan enjin T700-GE-701D yang lebih berkuasa, dan berupaya untuk menghasilkan kuasa sebanyak 2000 shp bagi AH-64D. Kos keseluruhan program AH-64D adalah AS$10.5 bilion sehingga April 2007.


    Desain
    AH-64 dihasilkan oleh dua buah mesin turbin poros General Electric T700 dengan ekszos terletak tinggi di kedua belah poros rotor. Apache memiliki empat bilah rotor utama dan empat bilah rotor ekor. Peringkat kru dalam susunan paralel, di mana pilot akan duduk di belakang dan pada pembantu pilot-penembak dalam ruang kokpit berperisai. Ruang kru dan tangki bahan bakar dilindungi sedemikian rupa di mana helikopter berupaya untuk diterbangkan meskipun menerima tembakan dari senjata kaliber 23 mm.

    Helikopter ini dipersenjatai dengan meriam rantai M230 berkaliber 30 mm yang boleh disambungkan kepada paparan lekapan helmetpenembak, yang ditetapkan pada kedudukan terkunci menembak ke hadapan, atai dikawal melalui Sistem Penandaan dan Perolehan Sasaran (TADS). AH-64 membawa beberapa kombinasi persenjataan pada pilon di pangkal sayapnya, biasanya gabungan rudal anti tank AGM-114 Hellfire, roket kegunaan am tanpa panduan 70 mm (2.75 in) Hydra 70 dan rudal udara ke udara AIM-92 Stinger untuk mempertahankan diri. Jika terjadi darurat, titik beban pada pilon juga dapat digunakan untuk mentransfer anggota.

    AH-64 dirancang untuk bertahan dalam lingkungan garis depan dan digunakan pada waktu siang atau malam, dan dalam cuaca buruk dengan menggunakan avionik dan elektronik seperti Sistem Penandaan dan Perolehan Sasaran, Sistem Penglihatan Malam Juruterbang (TADS/PNVS), pertahanan diri pasif inframerah, (GPS), dan Sistem Paparan Bidikan dan Helmet Terpadu (IHADSS).

    Sejarah operasi
    Amerika Serikat
    Apache mulai pertama kalinya digunakan dalam pertempuran selama invasi ke Panama pada 1989 dalam Operasi Just Cause . AH-64A Apache dan AH-64D Apache Longbow telah memainkan peran penting dalam beberapa perang di Timur Tengah , termasuk Perang Teluk , Operasi Enduring Freedom di Afghanistan , dan Operasi Pembebasan Irak di Irak . Apache telah membuktikan kecermalangannya dalam memburu tank dan juga menghapus ratusan kendaraan berperisai Angkatan Darat Irak.

    Selama Perang Teluk pada 17 Januari 1991, delapan buah AH-64A dengan dipandu oleh empat buah MH-53 Pave Low III, telah digunakan bagi memusnahkan sebagian jaringan radar Irak untuk memungkinkan pesawat pengebom memasuki Irak tanpa terdeteksi. Ini merupakan serangan pertama semasa Operasi Desert Storm. Helikopter Apache telah membawa muatan bukan normal yaitu roket Hydra 70, Hellfire, dan satu tangki bahan bakar ekternal. Semasa 100-jam perang di darat, sejumlah 277 buah helikopter AH-64 telah terlibat. Apache memusnahkan lebih 500 buah kereta kebal, sebilangan besar kenderaan pembawa anggota berperisai dan banyak lagi kenderaan lain semasa operasi ini. Atur gerak ke Balkan berlaku semasa pertikaian di Bosnia dan Kosovo in the later 1990s, akan tetapi Apache berdepan dengan masalah di mana kecekapannya telah menurun secara mendadak. Kritikan termasuk kekurangan latihan untuk krew dan kekurangan peralatan penglihatan malam, tangki-tangki bahan api dan aircraft survivability. Sebuah helikopter Apache terhempas semasa latihan di Albaniapada 27 April 1999.

    Akhirnya, keseluruhan angkatan helikopter di Balkan telah disadaikan semala dua minggu pada Desember 2000. Mayor Jenderal Dick Cody, pejabat pemerintah Udara ke-101 pada masa itu, telah menulis memo kepada Kepala Staf, Angkatan Darat AS terkait kegagalan dalam pelatihan dan peralatan.

    Saat Operasi Pembebasan Irak , beberapa Apache telah rusak dalam pertempuran, termasuk sebuah yang ditawan oleh pasukan Irak dekat Karbala pada 24 Maret 2003, dan telah dipertontonkan di televisi Irak. Helikopter yang ditawan ini kemudian dihancurkan dengan serangan udara sehari setelah ia ditembak jatuh. Dalam serangan pada 24 Mac, menentang briged berperisai Divisyen Medina, Pengawal Republikan Irak, telah mengalami kegagalan teruk: Para pegawai A.S telah mendakwa kegagalan ini disebabkan krew kereta kebal telah membuat "perangkap sisi" in broken terrain, employing their guns to good effect  sementara itu, para pejabat Irak mengatakan helikopter Apache telah ditembak jatuh oleh petani dengan menggunakan senapan Brno karena membuat suara.Helikopter yang ditembak jatuh ini masih berada dalam kondisi baik dan kedua pilot dan asisten pilot tidak mengalami cedera dalam kejadian ini. Antara 28 Januari dan 2 Februari, 2007, dua buah Apache telah hilang bersama-sama dengan krewnya disebabkan tembakan dari darat oleh pejuang Irak di Taji dan Najaf.

    Helikopter AH-64D A.S yang kini digunakan di Iraq dan Afghanistan tidak memiliki Radar Kawalan Tembakan Longbow kerana secara ringkasnya tiada ancaman pasukan armor yang akan ditentang oleh tentera bersekutu.

    Mayoritas besar helikopter Apache yang mengalami kerusakan parah dalam pertempuran berupaya untuk melanjutkan tugas misi dan kembali dengan selamat ke pangkalan. Sebagai contoh, dari 33 buah Apache yang terlibat dalam serangan pada 24 Maret 2003, 30 buah telah dirosakan oleh tembakan dari darat oleh tentara Irak dan beberapa darinya tidak bisa diperbaiki, akan tetapi hanya satu darinya yang tidak kembali ke pangkalan.
    Israel
    Angkatan Udara Israel menggunakan Apache untuk menyerang berbagai sasaran dengan menggunakan rudal. AH-64A telah menyerang dan menghancurkan beberapa pos pengamat Hezbollah di Lebanon selama tahun 1990-an. Serangan ini dilakukan dalam banyak kondisi cuaca - siang dan malam. Saat Intifada al-Aqsa , Angkatan Udara Israel telah menggunakan Apache untuk membunuh tokoh senior Hamas , seperti Ahmed Yasin dan Adnan al-Ghoul , dengan menggunakan rudal.

    Selama Perang Lebanon 2006, dua buah helikopter AH-64A Israel telah menabrak, membunuh seorang pilot dan tiga lainnya mengalami luka parah. Dalam kejadian yang lain, sebuah helikopter AH-64D Longbow terhempas karena masalah kegagalan pada hub rotor dan membunuh kedua pilotnya.
    Inggris
    Inggris menggunakan versi Apache Longbow yang ditingkatkan yang dikenal sebagaWestland WAH-64 Apache, dan diberi tanda Apache AH Mk1 oleh Tentera Darat British.Westland telah membina 67 buah WAH-64 Apache dengan lisensi dari Boeing dan mengantikan dengan mesin Rolls-Royce yang lebih berkuasa, yang dapat menghasilkan tambahan 25% kuasa tujahan berbanding model buatan A.S. Sistem bilah berlipat bagi operasi di laut merupakan satu lagi perubahan yang ketara. Ini membolehkan helikopter Apache British digunakan bersama-sama dan menyokong operasi amfibia, diterbangkan dari kapal perang Angkatan Laut Britania Raya dan auxiliaries. Helikopter Westland Apache mengantikan helikopter Westland Lynx AH7 sebagai helikopter penyerang taktis Angkatan Darat Inggris. Helikopter WAH-64 kini diatur gerak ke Afghanistan , di mana ia telah beraksi cemerlang dalam mendukung pasukan Inggris dan berafiliasi di selatan Afghanistan. Helikopter WAH-64 Apache milik Inggris menggunakan Radar Kontrol Tembakan Longbow di Afghanistan, dengan mengatakan ia telah meningkatkan kesadaran situasi dan menghindari pesawat lain saat melakukan gerakan taktis. Helikopter WAH-64 Apache milik UK menggunakan Radar Kawalan Tembakan Longbow di Afghanistan, dengan mengatakan ia telah meningkatkan kesedaran situasi dan mengelak dari pesawat lain semasa melakukan pergerakkan taktikal.
    Belanda
    Angkatan Udara Belanda telah memesan 30 buah AH-64D Apache pada 1996,  selepas menyewa 12 buah AH-64A. Helikopter Ah-64D ini tidak memiliki radom, maka helikopter milik Belanda ini bukan merupakan jenis Longbow. Helikopter ini diatur gerak buat pertama kali ke Djibouti, Afrika, dan merupakan operasi pertama bagi helikopter Apache dari jenis model-D. Helikopter ini juga telah diatur gerak bersama-sama AH-64 milik A.S bagi menyokong pasukan pengaman NATO di Bosnia dan Herzegovina. Pada 2004, AH-64 Belanda telah diatur gerak sebagai sebahagian sumbangan Belanda kepada tentera pelbagai negara di Iraq. Sementara itu, Belanda mengirim Apache ke Kabul sebagai bagian kontribusi Belanda kepada ISAF. Pada Februari 2006, kontribusi Belanda kepada pasukan NATO di Afghanistan telah meningkat dari 600 ke 1.400 orang anggota dan 6 buah AH-64 telah dikirim sebagai dukungan.
    Kegunaan-kegunaan lain
    Pada September 2003, Yunani telah memesan 12 buah AH-64D (sebagai tambahan pada angkatan ada sejumlah 20 buah AH-64A +) untuk biaya keseluruhan senilai US $ 675 juta (anggapan termasuk persenjataan dan dukungan), indicating biaya unit kasar untuk AH-64D senilai AS $ 56.25 juta per unit.

    Singapore membeli sejumlah 20 buah helikopter AH-64D Longbow Apache dalam dua kelompok di antara 1999 dan 2001. Uni Emirat Arab telah memperoleh sejumlah 30 buah AH-64A pada 1991 dan 1994, yang mana kini sedang ditingkat upaya ke spesifikasi AH-64D. Kuwait telah memperoleh 16 buah helikopter Longbow. Negara-negara lain yang memiliki helikopter Apache termasuk Mesir, Israel, Jepun dan Arab Saudi.

    Pakistan telah memesan 12 buah Apache Longbow untuk pelbagai misi menentang keganasan. Korea Selatan sedang meneliti rencana untuk membeli 36 buah AH-64D, meskipun pada waktu sama sedang mengembangkan helikopter penyerang buatan lokal. Helikopter Penyerang Korea (HPK) di bawah program kerjasama dengan perusahaan Eurocopter, yang berdasarkan helikopterEurocopter Tiger.

    Jepang telah memesan 50 buah helikopter AH-64D. Ia dibangun secara lisensi oleh Fuji Heavy Industries, dengan helikopter pertama diserahkan kepada Angkatan Darat Bela Diri Jepang pada awal 2006. selepas penghantaran awal bermula pada 2005.Designasi bagi helikopter AH-64D buatan Fuji adalah AH-64DJP.

    Republik China (Taiwan) merencanakan untuk membeli 30 buah helikopter AH-64D dimulai dari 2008 dan seterusnya untuk tentara daratnya .  India juga telah mengeluarkan permintaan untuk cadangan untuk 22 buah helikopter penyerang untuk Angkatan Udara India. Apache Longbow adalah merupakan dari beberapa jenis helikopter yang bersaing untuk dipasok ke Angkatan Udara India pada masa depan.

    Varian

    AH-64A
    AH-64A adalah merupakan helikopter penyerang produksi asli. Ia digerakkan oleh dua buah mesin turboshaft GE T700. Krew disusun dalam bentuk paralel dalam ruang berperisai. Helikopter ini dipersenjatai dengan meriam rantai M230 kaliber 30 mm yang dapat dihubungkan ke slaved tampilan lekapan helmet Pembidik meriam penembak. Helikopter AH-64A juga membawa berbagai persenjataan muatan luar di pilon pangkal sayap. Gabungan persenjataan termasuk rudal anti tank AGM-114 Hellfire , roket penggunaan umum tanpa panduan 70 mm (2.75 in) Hydra 70 dan rudal udara ke udara AIM-92 Stinger untuk mempertahankan diri.
    AH-64B
    Pada 1991, setelah Operasi Desert Storm, AH-64b telah diajukan untuk meningkatkan 254 buah helikopter AH-64A. Peningkatan ini termasuk bilah-bilah rotor baru, GPS, sistem navigasi yang ditingkatkan dan radio baru. Kongres AS kemudian menyetujui AS $ 82 juta untuk program tingkat upaya ke versi Apache B. Program Apache B kemudian dibatalkan pada tahun 1992.Pengubahsuaian radio, navigasi dan GPS kemudian dilakukan pada kebanyakan helikopter Apache model A sebagai sebagian program tingkat upaya.
    AH-64C
    Dana tambahan dari Kongres AS pada akhir 1991, telah menghasilkan program baik meningkatkan AH-64A pada versi AH-64b +. Penambahan dana mengubah direncanakan pada program peningkatan ke versi AH-64C. Versi C termasuk semua perubahan dalam versi Longbow kecuali mast mounted radar dan mesin baru. Namun, setelah 1993, pengenalan C telah digugurkan. Program tingkat upaya ini akan diteruskan. Bagaimanapun, disebabkan perbezaan antara model C dengan model D adalah kelengkapan radar, yang mana boleh ditukar dari satu pesawat ke pesawat yang lain, keputusan telah dibuat untuk tidak membezakan dua versi ini, meskipun dengan atau tanpa kelengkapan radar.
    AH-64D
    Model paling maju, yaitu AH-64D Apache Longbow , dilengkapi dengan serangkaian sensor dan sisten persenjataan yang ditingkatkan. Perbaikan utama dibandingkan model A adalah kubah radar AN/APG-78 Longbow dome yang dipasang pada rotor utama yang menempatkan sistem perolehan target Radar Kontrol Tembakan gelombang-millimeter selain dari Radar Frequency Interferometer (RFI). Peringkat radome yang ditinggikan memungkinkan pelacakan dan penembakan rudal (arcing) ke arah sasaran meskipun pada waktu itu helikopter itu sendiri dilindungi oleh hambatan (seperti permukaan bumi, pohon atau bangunan). Selain itu, modem radio terintegrasi dengan serangkaian sensor untuk memungkinkan Apache versi-D berbagi data sasaran dengan helikopter AH-64D lain yang tidak memiliki bidikan ke arah sasaran. Dengan cara ini, sekelompok helikopter Apache bisa menyerang sasaran beberapa dengan hanya mengungkapkan radome sebuah helikopter Apache versi-D. Helikopter Apache yang memiliki semua perbaikan yang terdapat pada helikopter Apache Longbow, dengan pengecualian Radar Kontrol Tembakan masih didesignasi sebagai "AH-64D Apache Longbow", karena radome nya bisa dilepas dan saling dapat dipertukarkan antara satu sama lain. Helikopter ini telah dinaik upaya dengan mesin lebih berkuasa yaitu T700-GE-701C , dan kokpit terintegrasi penuh. Fiuslaj depan helikopter telah dibesarkan untuk menempatkan sistem-sistem baru. Sebagai tambahan, helikopter ini juga menerima kemampuan ikhtiar hidup , komunikasi dan navigasi yang ditingkatkan. Kebanyakan keupayan ada helikopter AH-64A Apache dipertahankan. Helikopter Apache pertama yang ditingkatkan ke Blok II telah diserahkan kepada Angkatan Darat AS pada Februari 2003. Blok II termasuk tingkat upaya ke sistem komunikasi digital untuk meningkatkan komunikasi di antara "internet taktis".

    Menyempurnakan Blok III, dijadwalkan pada 2008 dan seterusnya, termasuk meningkatkan pengdigitalan, sistem radio taktis bersama, sistem-sistem driver dan mesin ditingkatkan, kemampuan untuk mengendalikan UAV , bilah rotor komposit baru dan giar pendaratan yang ditingkat upaya. Bilah rotor baru yang berhasil menyudahkan tes penerbangan pada Mei 2004, telah meningkatkan kecepatan berselancar Apache, penilaian mendaki dan kemampuan beban muatan. Kontrak Sistem Pengembangan dan Demonstrasi Blok III telah diberikan kepada Boeing pada Juli 2006.
    Model helikopter Apache yang dieksport
    Sejumlah model-model lain diterbitkan berdasarkan model-model AH-64A dan AH-64D untuk pasar ekspor. Inggris mengeluarkan secara berlisensi helikopter Apache yang dikenal sebagai Westland WAH-64 Apache (diinstal dari komponen yang dibeli dari Boeing) yang mana berbasis model AH-64D dengan menggunakan beberapa sistem-sistem yang berbeda, termasuk mesin baru yang lebih kuat.

    Sea Apache
    Versi angkatan laut untuk helikopter AH-64A telah diusulkan kepada Korps Marinir Amerika Serikat dan Angkatan Laut Amerika Serikat dari 1984 sampai 1987. Beberapa konsep diteliti dengan susunan giar pendaratan yang dimodifikasi, senjata dan avionik yang ditingkatkan. Dana untuk versi angkatan laut tidak tersedia dan menyebabkan Korps Marinir harus terus menggunakan helikopter AH-1 SuperCobra sejauh tahun 2008.


     
    Pengguna
     Mesir
    • Angkatan Udara Mesir telah memesan 36 buah AH-64A pada 1995 dan merancang untuk menaik taraf kepada konfigurasi AH-64D pada 2005. 35 buah helikopter AH-64D masih dioperasikasetakat 2008.
     Greece
    • Angkatan Darat Yunani memiliki 20 buah helikopter AH-64A, dan memesan 12 buah helikopter AH-64D setakat 2005. Greece memiliki 20 buah AH-64A dan 8 buah AH-64D.
     Israel
    • Angkatan Udara Israel memiliki 37 buah AH-64A, dan 11 buah AH-64D sampai tahun 2008.
     Jepang
    • Angkatan Darat Bela Diri Jepang telah memesan 50 buah AH-64D pada 2005, dan menggunakan 2 buah AH-64 pada 2008.
     Kuwait
    • Tentera Udara Kuwait telah memesan 16 buah AH-64D pada 2004, dengan 6 buah AH-64D telah dioperasikan pada 2008.
     Belanda
    • Angkatan Udara Belanda telah menerima 30 buah AH-64D pada 2005, dengan 29 buah AH-64D masih digunakan setakat 2008.
     Arab Saudi
    • Angkatan Udara Arab Saudi memiliki 12 buah AH-64A dalam layanan aktif. Helikopter-helikopter ini akan diupgrade kepada AH-64D Longbow pada 2010.
     Singapura
    • Angkatan Udara Singapura memiliki 18 buah AH-64D pada tahun 2008.
     Turki
    • Angkatan Udara Turki telah memesan 10+ buah AH-64.
     Uni Emirat Arab
    • Angkatan Udara Uni Emirat Arab menerima 30 buah AH-64A pada tahunt 2005.Sehingga 2008, UAE mengoperasikan 12 buah AH-64A dan 14 buah AH-64D.
     Amerika Serikat
    • Angkatan Darat Amerika Serikat memiliki 698 buah AH-64 (241 buah AH-64A dan 457 buah AH-64D) dalam layanan tahun 2008.
     Britania Raya
    • Lihat Westland WAH-64 Apache


    Spesifikasi (AH-64A)

    Karakteristik umum

    • Kru: 2: juruterbang, pembantu juruterbang/penembak
    • Panjang: 58.17 kaki
    • Diameter baling-baling: 48 kaki 0 in
    • Tinggi: 12.7 kaki
    • Luas piringan: 1,809.5 kaki²
    • Bobot kosong: 11,387 lb
    • Bobot terisi: 18,000 lb
    • Bobot maksimum lepas landas: 21,000 lb
    • Mesin: 2× turboshaft General Electric T700-GE-701 dan kemudian dinaik taraf kepada T700-GE-701C & T700-GE-701D (1990-hari ini), -701: 1,690 shp, -701C: 1,890 shp -701D 2,000 shp masing-masingPanjang fiuslaj: 49 kaki 5 in (15.06 m)
    • Sistem rotor: 4 bilah rotor utama, 4 bilah rotor ekor dalam jajaran bukan-orthogonal

    Hydra 70 dan AGM-114 Hellfire.

    Kinerja

    • Laju yang tidak boleh dilewati: 197 knot (227 bsj, 365 km/j)
    • Laju maksimum: 158 knot (182 bsj, 293 km/j)
    • Laju jelajah: 143 knot (165 bsj, 265 km/j)
    • Radius tempur: 260 batu nautika
    • Jarak jangkau ferri: 1,024 batu nautika
    • Batas tertinggi servis: 21,000 kaki
    • Laju panjat: 2,500 kaki/min
    • Disc loading: 9.80 lb/kaki²
    • Power/massa: 0.18 hp/lb (310 W/kg)

    Persenjataan

    • Senjata api: 1× 30x113 mm (1.18x4.45 in) meriam rantai M230, 1,200 butir peluru
    • Roket: Roket Hydra 70 FFAR
    • Rudal: gabungan peluru berpandu AGM-114 Hellfire, AIM-92 Stinger, dan AIM-9 Sidewinder.

  • Tank Marder 1A3. (Foto: ©Bundeswehr/Modes)

    25 September 2012, Jakarta: Sebagian tank tempur utama (Main Battle Tank/MBT) Leopard dan tank tempur medium Marder dari Jerman dijadwalkan tiba di Indonesia pada awal November 2012 dengan pengiriman dilakukan melalui angkutan udara dan laut.

    "Leopard akan dikirim bersama dengan Marder pada awal November 2012 nanti. Sekarang Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) sedang di sana dan akan pulang tanggal 30 September 2012," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Hartind Asrin di Makodiv-1 Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Selasa.

    Pengiriman tahap pertama ini, lanjut dia, akan datang sekitar 15 unit tank berbobot 60 ton itu, sementara untuk tank Marder belum diketahui berapa yang akan datang.

    Staf Ahli Menhan bidang keamanan itu mengatakan, dipersiapkan dua unit pesawat yang akan digunakan khusus mengangkut tank-tank tersebut. "Tapi nanti kombinasi pengirimannya, ada yg melalui pesawat, ada juga melalui kapal," kata Hartind.

    Pengiriman ini molor dari rencana semula pada Oktober 2012 mendatang karena terkendala administrasi. Pada November mendatang, tank-tank tersebut akan ditunjukkan kepada publik.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menuturkan, pemerintah membeli tank Leopard sebanyak 103 unit, tank Marder sejumlah 50 unit dan membeli 10 tank pendukung.

    Finalisasi penandatanganan kontrak diharapkan bisa dilakukan akhir September 2012. "Pihak Rheinmetall (produsen) akan berada di Indonesia untuk finalisasi penandatanganan kontrak yang akan dilaksanakan pada minggu ke empat September 2012," katanya.

    Sumber: ANTARA News
  • (Foto: Lapan)

    26 September 2012, Garut: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali menyempurnakan kemampuan roket RX-550 yang segera diluncurkan pada 2013 mendatang.

    Dalam persiapannya itu, LAPAN kembali melakukan uji statik motor roket RX-550 yang akan dilakukan pada Sabtu( 29/9) di Kecamatan Pangmeungpek, Kabupaten Garut. Sejumlah alat instalasi mulai dipasang pada roket RX-550 tersebut. Kepala Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Sudihartono menyebutkan,beberapa alat tersebut terdiri dari alat untuk mengukur daya dorong, tekanan, vibrasi, tempratur, dan data visual.

    Sejumlah peralatan itu, kata Sudi, akan menentukan apakah motor roket senilai Rp5 miliar ini akan layak menjalani uji terbang atau tidak di 2013 nanti. ”Roket RX-550 sendiri masih dalam tahapan penelitian dan penyempurnaan. Di 2011 lalu,kami sempat melakukan uji statik.Namun,karena tidak sempurnanya struktur material pada bagian nossel motor roket saat itu, RX-550 masih belum bisa dikatakan layak uji terbang. Sekarang, uji statik motor pendorongnya akan kita lakukan kembali,”kata dia.

    Sudi mengungkapkan, belum sempurnanya struktur komponen nossel motor roket disebabkan terbatasnya kualitas material logam.Saat itu, logam pada komponen nossel motor roket hanya memiliki ketebalan 3 mm. ”Idealnya, ketebalan struktur material 6 mm. Sedangkan kondisi saat itu ketebalannya hanya 3 mm. Jadi yang seharusnya material itu bisa menahan panas sebesar 3.000 derajat celcius selama waktu pembakaran propelan sekitar 14 detik, ini malah hanya tahan dalam waktu 7 detik saja.Akibatnya, saat memasuki detik ke 8, material nossel robek dan pecah,”ungkapnya.

    Seperti diketahui, nama roket RX-550 diambil dari diameter motor roket yang berdiameter 550 milimeter. Panjang motor roket setidaknya mencapai 6 meter. Sedangkan panjang keseluruhan roket bisa mencapai 9 meter lebih. Fungsi khusus roket RX-550 adalah sebagai pendorong (booster) utama yang akan membawa satelit ke luar angkasa dengan kapasitas bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

    Roket ini diprediksi memiliki jarak tempuh sejauh 150 km dengan jangkauan sepanjang 300 km. Roket RX-550 merupakan penyempurnaan beberapa roket produksi Lapan sebelumnya, yaitu RX- 420 di tahun 2009 dan RX-320 di tahun 2008. Karena belum bisa menjangkau target yang ditetapkan, kedua roket itu pada akhirnya disempurnakan kembali melalui proyek pembangunan roket RX-550.

    Dana pembangunan roket RX-550 ini sebesar Rp5 miliar. Di bagian lain,Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN Clara Yono Yatini mengatakan, saat ini hanya ada 30 peneliti astronomi, itu pun terpusat di LAPAN. “Sebetulnya banyak, hanya saja kemungkinan penghargaan di dalam negeri terhadap mereka (peneliti antariksa) kurang,”katanya.

    Sumber: SINDO
  • KRI Banjarmasin - 592 saat melakukan proses penggenangan (platform) untuk mengeluarkan tank amfibi di Pantai Mapalus, Bitung, Sulawesi Utara, Senin (7/2). KRI Banjarmasin - 592 berada di Bitung dalam rangka melakukan uji coba pelayaran jarak jauh ( Long Sea Trial) selama 30 hari ke wilayah timur perairan Indonesia. (Foto: ANTARA/Basrul Haq/ed/ama/11)

    Jakarta Kapal perang terbesar buatan anak negeri milik TNI AL KRI Banjarmasin ternyata pernah digunakan dalam operasi penyelamatan internasional. KRI Banjarmasin dengan didampingi kapal tempur Belanda menyelamatkan KM Sinar Jaya Kudus yang dibajak di Somalia beberapa waktu lalu.

    "Pernah digunakan untuk operasi pembebasan kapal Sinar Kudus di Somalia. Kita jalan bareng kapal tempur kecil Belanda, dan operasi mereka berangkat duluan, baru dari Colombo sama-sama ke Somalia," kata Nahkoda KRI Banjarmasin, Letkol Laut Stanley Lekahena, di ruang nahkoda KRI Banjarmasin, Markas Komando Lintas Laut, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (24/9/2012).

    Hal ini berarti kapal buatan anak negeri telah diakui dunia internasional dengan dukungan navigasi dan kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Hanya saja KRI Banjarmasin belum mendapatkan identitas internasional untuk berlayar di laut internasional.

    "Kapal ini punya dua radar BR-3440, didukung peta digital, GPS, echo sounder, dan wheather text. Jadi untuk internasional kita sudah standar, tinggal transponder yang belum dipasang. Itu Automatic Identification System yang belum kita miliki," ujar Stanley.

    Kapal ini sendiri akan dilengkapi persenjataan meriam boffors 40 mm dan metraliur Oerlikon 20 mm, senapan anti udara. Namun kapal ini memang tidak diperuntukan untuk perang terbuka.

    "Persenjataan masih dalam proses, masih belum ada sekarang tapi akan dipasang senapan anti udara," ujar Stanley.

    Kapal KRI Banjarmasin dibuat oleh PT PAL dan yang terbesar yang pernah dibuat anak negeri. KRI Banjarmasin memiliki saudara kembar yakni KRI Banda Aceh yang diparkir di Jakarta dan KRI Banjarmasin sebenarnya di parkir di Surabaya.

    "Kapal ini diperuntukan di Surabaya, sedangkan KRI Banda Aceh di Jakarta," ujar Stanley.
  • Fighter dari bumi khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak dan Black Phanter dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, tiba di Lanud Iswahjudi dan disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos., di Shelter Skadron Udara 14, Senin (24/9).

    Pilot Tempur Pesawat Hawk 100/200 Latihan Tembak Sasaran

    Kehadiran para Fighter dari bumi khatulistiwa dan bumi lancang kuning tersebut, tak lain untuk mengasah kemampuan naluri Fighter sebagai penggempur dan penghacur sasaran baik udara maupun darat yang telah ditentukan dengan menggunakan roket maupun bom.

    Dengan menggunakan pesawat tempur jenis Hawk 100/200, baik dari Skadron Udara 1 maupun Skadron Udara 12, latihan dimaksudkan untuk menguji kualitas ketepatan menembak bukan menghancurkan sasaran. Sementara latihan direncanakan berlangsung selama 4 hari dengan lokasi latihan di Air Weapon Range (AWR), Pulung Ponorogo.


    Black Phanter dari skadron Udara 12, yang tiba lebih dulu di pimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb M. Yani, menyusul berikutnya, Elang Khatulistiwa dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, dengan Komandan Skadron Letkol Pnb Radar Suharsono, yang kedatanganya di sambut langsung pula oleh Danlanud Iwj Marsma TNI M. Syaugi, S.Sos., dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi.

  • Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut berencana memanfaatkan Bandara Trunojoyo Sumenep sebagai salah satu lokasi latihan calon penerbang TNI Angkatan Laut.

    Penerbal TNI AL Akan Manfaatkan Bandara Trunojoyo Sumenep

    "Kami memang berminat menjadikan Bandara Trunojoyo sebagai salah satu lokasi latihan calon penerbang TNI Angkatan Laut. Kunjungan kami ke Sumenep ini dalam rangka koordinasi awal," kata Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama (TNI) Sugianto di Sumenep, Senin.

    Kedatangan Sugianto diterima langsung oleh Wakil Bupati Sumenep Soengkono Sidik dan sejumlah pejabat pemerintah daerah, serta Kepala Satuan Kerja Bandara Trunojoyo Dwi Ariyanto.

    "Secara internal, kami ingin segera memanfaatkan Bandara Trunojoyo sebagai salah satu lokasi latihan calon penerbang TNI Angkatan Laut. Namun, itu semuanya tergantung pemerintah daerah," ujarnya.


    Sugianto mengatakan, pihaknya bisa langsung menginstruksikan penerbang TNI Angkatan Laut untuk latihan di Bandara Trunojoyo.

    "Pergeseran anggota (penerbang) kami beserta pesawat latih supaya latihan di Bandara Trunojoyo, bisa dilakukan kapan saja. Makin cepat makin bagus, karena Bandara Trunojoyo memang sudah layak digunakan untuk aktivitas penerbangan pesawat latih," ucapnya.

    Sejak beberapa tahun lalu, Pemkab Sumenep bersama Satuan Kerja Bandara Trunojoyo selalu bersinergi untuk menambah fasilitas di bandara tersebut supaya bisa disinggahi pesawat berjadwal reguler (komersial).

    Saat ini, Bandara Trunojoyo sudah dinyatakan layak untuk aktivitas penerbangan pesawat berukuran kecil dan sedang pada siang maupun malam hari.

    Sejak 2010, sekolah penerbang milik PT Merpati Nusantara Airlines telah menjadikan Bandara Trunojoyo Sumenep sebagai lokasi latihan terbang pesawat bagi siswanya.
  • Bandung - Setelah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir, PT Dirgantara Indonesia (Persero) kini mulai bangkit. Order pembuatan pesawat, komponen dan jasa datang dari berbagai negara. PTDI mulai merevitalisasi struktur dan SDM untuk mengimbangi meningkatnya pesanan dan kontrak pembuatan pesawat. Bagaimana itu dilakukan? Berikut wawancara wartawan FAJAR, Hasbi Zainuddin, dengan Direktur Umum & SDM PT Dirgantara Indonesia (Persero), Sukatwikanto, di ruang redaksi Harian FAJAR, 12 September lalu. PTDI lebih cenderung memproduksi pesawat untuk militer. Bagaimana perkembangannya? Klaster pesawat yang dibuat PTDI itu memang lebih kepada military, karena memang sejak awal didirikan, PTDI itu memang memproduksi pesawat militer. Orientasinya sebagai transportasi sipil dan membantu pertahanan. Meskipun kita belum memproduksi pesawat tempur. Pembiayaannya bagaimana? Jika dihitung, total nilai kontrak itu mencapai Rp8 triliun, hingga tahun 2016. Untuk modal dan pembiayaan pesawat ini, kita ambil dari APBN melalui bank pemerintah. Pembeli itu datang dari mana saja? Untuk pesawat-pesawat military ini, pembeli kita tahun ini semakin meningkat. Kita bahkan sudah punya kontrak pembuatan pesawat dengan beberapa pembeli dalam negeri dan negara luar. Baik itu berupa unit pesawat, maupun komponen dan jasa. Selain dari dalam negeri, pemesan kita yang sudah deal itu datang dari beberapa negara, di antaranya Korea Selatan, UAE (Uni Emirat Arab), Pakistan, Jepang, Malaysia, Brunei, Thailand, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Irlandia. Turki, Burkinafaso, dan Senegal. Negara-negara ini membangun kontrak pembelian pesawat, komponen, dan jasa. Selain beberapa negara itu, kami juga sementara mengikuti proses tender penjualan pesawat di Filipina. Pesawat tersebut antara lain tiga unit jenis CN 295, 4 unit CN235 untuk seri maritim transport, dan satu unit NC212 untuk seri 200 untuk maritim patroli. Tendernya sementara berlangsung di Finance State. Kita berharap tahun ini ada beritanya menang. Nah, di Thailand, kita sudah memenangkan tender satu unit NC 212-200. Penjualan di Thailand dan Filipina ini menambah nilai kontrak Rp8 triliun itu. Pesawat yang dipesan jenis apa saja? Macam-macam. Salah satu pemesan kita, Korea, itu menggunakan salah satu jenis pesawat CN235 sebagai pesawat kepresidenan. Sementara Malaysia, menggunakannya sebagai pesawat VIP, setingkat di bawah presiden. Untuk pesawat, kita mengandalkan N295. Pesawat ini ordernya sudah sembilan unit sampai tahun 2014, oleh TNI Angkatan Udara. Tahun ini sudah ada dua yang jadi dan kita delivery. CN295 ini adalah pesawat hasil pengembangan CN235 yang dilakukan Airbush Military. Bedanya, badan pesawat ini lebih panjang tiga meter, sehingga mampu membawa penumpang sampai 50 orang, dengan menggunakan mesin Turboprop Pratt & Whitney yang lebih besar. Pesawat ini juga mampu mengangkut satu unit mobil tank. PT Dirgantara bekerjasama dengan berbagai pihak dalam hal produksi beberapa pesawat. Apa kerjasama yang paling strategis? Jadi, pertama yang harus dipahami tentang konsep industri pesawat, tidak ada industri yang memproduksi sendiri pesawat secara utuh. Untuk PTDI, ada tiga jenis produksi kita. Pertama, pesawat yang kita diciptakan sendiri, dan hak kita untuk memproduksi dan menjualnya. Produk itu misalnya, pesawat CN235 yang pembuatannya kita kerjasama dengan CASA. Pesawat jenis ini adalah buatan Indonesia. Ada juga produk yang underlisence. Kita buat, tapi bukan kita pemiliknya. Itu seperti pesawat NC212-200 dan 400. Kita hanya berhak memodifikasi, mengubah sedikit hidungnya, dan sayap. Ketiga, industrial cooperation. Artinya, kita hanya membuat komponennya. Nah, untuk ini, PTDI merupakan satu-satunya pembuat komponen untuk bahu pesawat Airbush A380. Untuk komponen itu, kita mendapat order sampai 10 tahun ke depan. Nah, untuk pemasaran, kami saat ini juga bekerjasama dengan Airbush Military, yang dulunya bernama CASA, dengan ikut membantu mengelola pasar pesawat jenis NC 212-400, CN 235, dan CN 295, di Asia dan Pasifik. Selain itu? PTDI juga terlibat dalam pengembangan pesawat tempur multi roles IFX-KFX, kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan. Pesawat ini merupakan pesawat tempur generasi 41/2, setara dengan F16++. Dari kerja sama ini, kita target mulai beroperasi tahun 2020 mendatang. Komposisi saham Indonesia-Korea dalam kerja sama ini sebesar 20-80 persen. Selain PTDI, beberapa pihak yang terlibat dalam pengembangannya antara lain Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai koordinator, Kementerian Ristek (Riset dan Teknologi), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), ITB, dan Balitbang Kemhan. Nah, dengan kerjasama ini, kita tentu memiliki hak untuk memodifikasi, mendesain, dan membangun dua skuadron di Bandung. Meskipun, kalau ada pembeli dari luar negeri, kita dan Korea tentu harus duduk bersama, karena modalnya berdua. Selain itu, tentunya masih banyak lagi kerjasama dan kontrak yang kita lakukan, yang mencukupkan nilai kontrak itu sebesar Rp8 triliun. PTDI saat ini menunjukkan prestasi yang baik, dan mampu bangkit dari keterpurukan sejak krisis 1998 silam. Apa faktor yang mendukung prestasi besar ini? Tentu dari sisi kebijakan pemerintahan. Dulu, kita kesulitan karena barang yang dipesan itu bisa kita delivery dalam waktu paling cepat 36 bulan. Kenapa, karena kita dilarang stok. Jumlah barang yang ingin dibuat, harus berdasarkan order, dan pembiayaannya melalui APBN yang diputuskan setiap tahun. Sementara, pemesan maunya 12 sampai 18 bulan sejak ditandatangani kontrak. Sekarang, pemerintah sudah membolehkan stok, sehingga, pesawat itu bisa kita kirim lebih cepat, bisa sekitar 12 sampai 18 bulan. Pemerintah juga memberi kebijakan, khusus produksi pesawat, pembiayaannya melalui APBN multiyear, bisa sampai tiga tahun sekaligus. Pemerintah juga sudah lebih terbuka memberlakukan kredit impor. Target keuntungan dari order itu? Kita sampai sekarang sebenarnya masih menggendong utang. Kita tahun kemarin telah menyelesaikan utang masa lalu terhadap pemerintah yang manfaatnya sebagian sudah kita nikmati. Nah, sekarang masih punya utang riil. Berupa utang bisnis, yang sehari-hari kita gunakan membeli berbagai perangkat industri. Kita perkirakan tahun 2014, dengan order tersebut, utang riil itu bisa kita selesaikan. Apa harapan Anda? Untuk itu, yang kami butuhkan adalah tenaga SDM. Kita sedang mencari sarjana teknik yang punya idealisme dan integrasi yang tinggi, yang sanggup bekerja keras, meskipun gaji minim. Kita siap untuk melatih. Perekrutan SDM ini kita lakukan, karena dari sekitar 2.300 tenaga di PTDN, sekitar 70 persen di antaranya akan pensiun sampai tahun 2016 mendatang.