Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
  • Ledakan keras yang diduga bom di Yayasan Panti Asuhan Pondok Bitara di Jalan Nusantara, Beji, Depok, Jawa Barat, diduga dilakukan Muhammad Toriq, pria pemilik sejumlah bahan peledak di Tambora, Jakarta Barat. Toriq memang sudah masuk dalam daftar buron polisi.

    Toriq Diduga Ada Dibalik Peledakan Bom di Depok

    "Ini hampir dipastikan Toriq," kata seorang perwira polisi di lokasi kejadian, Jalan Nusantara, Beji, Depok, Minggu dini hari 9 September 2012.

    Meski begitu, perwira ini meminta agar publik sebaiknya keterangan resmi dari pejabat berwenang. Dari kejadian ini, dua orang luka ringan dan satu lainnya masih kritis.

    Sebelumnya, Kapolsek Beji Ajun Komisaris Polisi Agus Widodo menduga kuat ledakan itu diakibatkan oleh bahan peledak bom. Tetapi, kesimpulan itu tetap harus menunggu hasil olah TKP dari Gegana.


    Toriq menjadi buruan setelah polisi menemukan sejumlah bahan peledak di kediamannya di Tambora, Jakarta Barat. Pria yang kesehariannya sebagai penjual pulsa itu menyimpan sejumlah bahan-bahan berbahaya.

    "Ada powder, aluminun, detonator, paku dua dus, buku panduan cara merakit bom dan cara membuat racun california," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Kamis 6 September 2012 lalu.

    Setelah dilakukan penggeledahan, polisi menemukan sejumlah bahan pembuat bom seperti belerang, arang, potasium, serbuk almunium, paku panjang, lakban, dan peralatan elektronik untuk switch.

    Polisi juga menemukan batere 9 volt sebanyak 4 buah, beberapa detonator, 5 potong paralon ukuran 25 cm berisi bahan peledak yang sudah dilakban tanpa power.





    Sumber : VivaNews
  • Wilayah perairan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai masih rawan tindakan kriminal seperti perompakan atau pembajakan kapal. Untuk itu, TNI AL dan kepolisian akan meningkatkan pengawasan dan patroli di laut untuk memperkecil ruang gerak pelaku kejahatan.



    "Aksi pembajakan kapal oleh pelaku kejahatan di Kepri semakin sering terjadi, dan tindakan para pembajak semakin nekat dengan melukai aparat dan merampok senjata milik aparat," kata Panglima Armada Barat RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Sadiman, di Batam, Kamis (6/9).

    Menurut dia, wilayah perairan Kepri masih terbilang rawan dengan aksi-aksi kriminalitas. Hal itu bisa diketahui dari seringnya aksi perompakan. Dua aksi pembajakan kapal terjadi pada hari Rabu (5/9). Perompakan pertama terjadi pada Tugboat Leo 1 yang menarik tongkang Prince Capricorn 1 di Perairan Selat Riau.


    Tugboat itu hendak kembali ke Dumai setelah membongkar sekitar 4.000 ton minyak mentah di pelabuhan CPO Kabil Batam. Pelaku yang diperkirakan lebih dari empat orang berhasil melumpuhkan tujuh anak buah kapal (ABK) dan aparat Brimob yang bertugas. Pelaku kemudian membawa kabur barang-barang berharga dan sebuah senjata laras panjang milik anggota Brimob beserta amunisinya.

    Perompakan kedua terjadi pada tanker Bum Chin berbendera Hong Kong yang sedang berlabuh di Pelabuhan CPO Kabil. Pelaku berhasil menggasak barang-barang berharga milik ABK yang semuanya warga negara asing. Pelaku berhasil membawa kabur beberapa barang kapal, di antaranya beberapa mesin kompresor kapal.

    "Pelaku di dua aksi perompakan beberapa hari lalu ternyata merupakan sindikat yang sudah lama beroperasi di wilayah Perairan Selat Malaka," kata dia.

    Sementara itu, pada bulan sebelumnya, terjadi perompakan di Perairan Karimun, Provinsi Kepri, yang menimpa kapal berbendera Singapura. Namun, para pelaku perompakan berhasil ditangkap aparat TNI AL di tempat persembunyianya setelah aksi tersebut.

    Kepala Staf TNI AL (Kasal), Soeparno, mengatakan wilayah Perairan Kepri, khususnya Batam, memang perlu mendapat perhatian khusus mengingat lokasinya yang cukup strategis berbatasan dengan negara tetangga dan berada di jalur lintasan perdagangan dunia, yakni Selat Malaka.

    "Perairan Batam sangat rawan atas berbagai tindakan kejahatan dan pertahanan. Bila tidak dikawal dengan baik, memungkinkan praktik penyelundupan dan tindakan kriminal lainnya," kata dia. Untuk meminimalisasi aksi kejahatan di Perairan Kepri, aparat keamanan perlu dilengkapi dengan peralatan canggih karena pelaku kejahatan di laut saat ini sudah menggunakan peralatan canggih. Beberapa peralatan yang diperlukan, seperti kapal selam, penambahan kapal patrol dan penambahan personel.

    Markas Komando
    Kasal mengatakan untuk memperkecil ruang gerak pelaku kejahatan di Perairan Kepri, khususnya Batam, TNI AL telah membangun Dermaga Markas Komando Lanal Batam senilai 23 miliar rupiah. Dermaga tersebut akan digunakan untuk mempertahankan kedaulatan RI dan mengatasi tindakan kejahatan seperti praktik penyelundupan dan aksi kriminalitas lainnya.

    Dengan adanya markas komando tersebut, diharapkan birokrasi lebih efi sien dan akan semakin banyak aparat TNI yang bertugas mengawasi Perairan Kepri. Dengan demikian, ruang gerak para pelaku kejahatan semakin sempit sehingga aksi-aksi kriminal bisa dihindari dan dicegah.

    Secara terpisah, Ketua Institut Keamanan Keselamatan Maritim Indonesia (IK2MI), Laksdya TNI Y Didik Heru Purnomo, saat meluncurkan IK2MI, mengatakan 13 instansi yang berhubungan dengan pengelolaan keamanan dan keselamatan laut dinilai kurang efektif. Apalagi masing-masing instansi masih mengedepankan ego sektoral. 







    Sumber :  Koran Jakarta
  • Polri menangkap Dani Kogoya yang diduga salah satu tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di salah satu hotel di Jayapura, Papua, Minggu (2/9). Karena melawan, penyidik menembak kaki Dani. Dalam penangkapan tersebut, aparat menemukan dua senjata api jenis double loop dari kamar Dani.


    Dani diduga sebagai pelaku penembakan anggota TNI di kawasan Nafri, Jayapura. "Standar yang sudah dilakukan tim dalam menangkap pelaku kejahatan apabila diperkirakan membahayakan petugas dan masyarakat, maka dilakukan diskresi," kata Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Sutarman, seusai rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, Jakarta, Senin (3/9).


    Saat ini, kasus Dani masih ditangani Polda Jayapura untuk dilakukan pengembangan penyidikan. "Kita tidak melihat itu OPM atau tidak, tetapi itu pelaku kejahatan yang membunuh, menembak anggota TNI. Saya tidak kaitkan dengan pelaku apa pun karena saya dari aspek penegakan hukum terhadap pelaku-pelaku tindak kriminal yang terjadi, melakukan penembakan dan pembunuhan terhadap masyarakat yang tidak berdosa, baik masyarakat umum maupun TNI," jelas Sutarman menutup pembicaraan.



    Sumber : Koran Jakarta
  • Pelaku teror yang menewaskan dua orang polisi di Solo, Jawa Tengah, ditengarai merupakan bagian dari jaringan Abu Omar yang memiliki keterkaitan dengan jaringan Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang berpusat di daerah Filipina Selatan.

     
    Pengamat Terorisme, Al Chaidar, meyakini pelaku tersebut jaringan Abu Omar karena kecenderungan yang menjadi sasaran teror adalah aparat kepolisian. Penyerangan tersebut juga dinilai murni alasan ideologi bukan karena faktor ekonomi. "Jaringan ini begitu membenci kepolisian karena keseriusan mereka dalam memberantas terorisme. Nanti kalau militer yang aktif memberantas, jaringan ini juga akan menyerang militer juga," ujar Al Chaidar saat berbincang dengan Jurnal Nasional, Minggu (2/9).

    Menurutnya, Abu Omar pernah mendapat pendidikan dari Pondok Pesantren Ngruki, milik Ustadz Abu Bakar Baasyir. Namun begitu, ia tak memiliki hubungan dengan Baasyir.


    Menurutnya, jaringan Abu Omar ini merekrut orang-orang baru. "Dia malah memiliki keterkaitan dengan pelaku teror di Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu," ujarnya.

    Jaringan ini, katanya, sangat terlatih secara kemiliteran di Filipina Selatan. Mereka juga memiliki pasokan senjata yang banyak, seperti laras pendek (FN, Bareta dll) juga laras panjang (AK 47). "Persenjataan mereka banyak, bahkan sampai kesulitan untuk menyembunyikannya," ujarnya.

    Untuk mengantisipasi jaringan ini, Chaidar mengatakan, aparat harus menjaga wilayah perbatasan yang dekat dengan Filipina. Dikarenakan, jaringan ini begitu mudah masuk ke Indonesia untuk menyelundukan senjata misalnya melalui Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan (Kalimantan Timur), Tawau di Sabah, Malaysia berbatasan dengan Kalimantan dan Sulawesi Utara."Jalur-jalur perbatasan ini harus dikuasai dan diawasi oleh aparat," katanya.

    Analisa Chaidar ini berbeda dengan kepolisian yang menyebutkan bahwa pelaku di Solo memiliki keterkaitan dengan jaringan Abu Sayyaf.

    Menurut Al Chaidar, jaringan Abu Sayyaf cenderung menyerang orang-orang barat, simbol asing, atau Amerika Serikat. "Jarang sekali menyerang aparat," katanya.

    Meski begitu membenci Amerika Serikat, jaringan Abu Sayyaf ini tidak memiliki afiliasi dengan jaringan Al Qaedah. Ini dikarenakan, kata Chaidar, Al Qaedah tidak suka dengan Abu Sayyaf yang menganut Syiah.



    Sumber : Jurnas
  • Detasemen Khusus 88/Anti Teror Mabes Polri menangkap MK (27) yang diduga sebagai anggota teroris di Bandung, Jawa Barat. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anang Iskandar menyebutkan, penangkapan tersebut dilakukan pada Kamis (30/8) sekitar pukul 08.30 WIB.


    "Tersangka langsung dibawa ke Jakarta untuk disidik lebih lanjut oleh Mabes Polri," kata Anang di Jakarta, Kamis (30/8).


    Menurutnya, Densus 88 dibantu Polda Jabar dalam pengamanan wilayah pada saat penangkapan dan penggeledahan.

    Pada pukul 12.30 WIB Densus melanjutkan penggeledahan di perusahaan Soft Ware JI Golf 3 B4-26 Komplek PU Binamarga blok 4, Cisaranten Bina Harapan RT 3/10 kec Arcamanik Bandung. MK diduga merupakan ahli IT, programer, dan seorang hacker handal.



    Sumber : Jurnas
  • Densus 88 menerima pelatihan, dukungan perbekalan dan operasional yang luas dari Kepolisian Federal Australia. Namun muncul bukti yang semakin besar bahwa satuan anti teroris itu terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan sewenang-wenang dalam upaya menumpas gerakan separatis di Papua.

    Pasukan Densus 88
    Pasukan Densus 88

    Jurnalis ABC, Hayden Cooper dan Lisa Main, pergi ke Papua secara undercover dan bertemu dengan banyak orang yang mengatakan, Densus 88 yang dibiayai Australia melancarkan kampanye berdarah terhadap para aktivis.

    Pada tanggal 14 Juni, pemimpin kemerdekaan Mako Tabuni ditembak ketika lari dari polisi di sebuah jalan sepi di ibukota Papua. Orang-orang yang menewaskan Tabuni diduga adalah bagian dari Densus 88, yang dibentuk menyusul peristiwa Bom Bali.

    Dengan pelatihan forensik, pengumpulan intelijen, pengintaian dan penegakan hukum oleh pejabat-pejabat dari Amerika Serikat, Inggris dan Australia, Densus 88 memainkan peranan utama dalam upaya kontra terorisme di Indonesia.


    Mandat anti terorisme mereka kini meluas ke bidang-bidang lain seperti penumpasan separatis Papua. Pada bulan Desember 2010, Densus 88 membunuh Kelly Kwalik, seorang pemimpin OPM.

    Densus 88 secara terbuka menyatakan bertanggung jawab.

    Cara yang lunak

    Pemimpin Komisi Nasional Papua Barat, KNPB, yang sekarang, Victor Yeimo, mengatakan, tidak seperti OPM, KNPB menggunakan cara non-kekerasan dan mengusahakan solusi politik. Menurut saksi mata, setelah didekati oleh polisi tak berseragam dalam mobil, Mato Tabuni berusaha untuk lari.

    Polisi disebutkan melepaskan tembakan terhadap aktivis tersebut ketika ia lari di jalan.

    Berlumuran darah, Tabuni bukannya dibawa ke rumah sakit Katolik yang dekat, tapi ke rumah sakit polisi yang letaknya paling tidak 20 kilometer jauhnya, dimana seorang saksi mata lain melihat pihak berwenang membawanya masuk.

    Saksi tersebut mengatakan, mereka dari Densus 88 yang dikenali dari masker yang sering mereka kenakan dalam operasi. Gustaf Kawer, pengacara Kabuni, juga menduga, Densus 88 terlibat.

    Laporan pihak kepolisian mengatakan, Tabuni memegang sebuah senjata api ketika ditembak, dan bahwa ia merebut senjata lainnya dari seorang anggota polisi. Juga disebutkan, Tabuni terlibat dalam beberapa insiden kekerasan sebelumnya.

    Tapi Gustaf Kawer, yang diakui secara internasional, mengatakan, tidak ada bukti atas laporan tersebut. Menurutnya, semuanya adalah skenario oleh aparat keamanan supaya mereka dapat menembaknya.

    Kematian Tabuni hanya satu dari banyak contoh Densus 88 beroperasi dengan impuniti. Sebuah bocoran video yang muncul tahun lalu menunjukkan polisi setelah mereka merebut kembali sebuah landasan udara yang terpencil dari tangan separatis.

    Video yang diambil dengan HP oleh polisi itu mengidentifikasi Densus 88 dan sejumlah mayat orang Papua tergeletak di tanah, termasuk gambar beberapa remaja yang diikat dengan tali.

    Dan menurut saksi mata, Densus 88 termasuk diantara aparat yang melepaskan tembakan terhadap warga sipil pada Kongres Nasional Papua Oktober lalu.

    Respon Australia

    Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, mengatakan telah meminta kepada Indonesia untuk melakukan pengusutan atas pembunuhan Tabuni.

    Ia mengatakan, Kepolisian Federal Australia melatih satuan Densus 88 karena ingin Indonesia mempunyai kapasitas anti terorisme yang kuat, tapi bukan untuk menumpas pemberontakan.

    Namun aktifis kemerdekaan, Victor Yeimo, mengatakan dalam Program 7:30 Report di saluran televisi ABC bahwa Australia dan Amerika Serikat ikut bersalah atas kematian banyak orang, karena mendanai dan melatih para aktor kekerasan di Papua.

    Sementara itu, Partai Hijau Australia mengatakan, Kepolisian Federal sebaiknya berhenti melatih satuan-satuan anti terorisme Indonesia sampai investigasi dilakukan atas pelanggaran HAM di Papua.

    Jurubicara Partai Hijau mengatakan, tidak ada 'checks and balances' yang memadai tentang bagaimana pelatihan dan peralatan Kepolisian Australia digunakan.


    Respon dari pihak Indonesia

    Kedutaan besar Indonesia di Canberra memberikan tanggapan yang menguraikan bagaimana tindakan kekerasan di provinsi Papua dan Papua Barat merupakan sesuatu yang patut disesalkan, dan bahwa pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga keamanan di kedua provinsi tersebut.

    Mengirimkan pasukan keamanan ke 'seluruh bagian Republik Indonesia', dalam pernyataan tersebut dikatakan sebagai hak pemerintah Indonesia, selama masih mengikuti prinsip dasar Hak Asasi Manusia.

    Kekerasan berlebihan yang dilakukan oleh pasukan keamanan, menurut pernyataan Kedubes Republik Indonesia di Canberra, akan ditangani secara hukum. Selain itu, pihak pemerintah Indonesia juga menekankan pentingnya untuk menjaga kedaulatan Indonesia di dalam 'langkah-langkah menuju perdamaian' di provinsi-provinsi di Papua, dan mengundang pihak media Australia untuk melakukan reportase yang 'lebih mendalam dan seimbang'.

    Sementara itu, melalui SMS, juru bicara Kepolisian, Inspektur Jenderal Anang Iskandar, membalas pertanyaan wartawan Radio Australia mengenai keterlibatan Detasemen Khusus 88 di Papua dengan mengatakan bahwa Densus 88 tidak terlibat dalam penangkapan Mako Tabuni. 

    Menurutnya, "Tim yang dilibatkan adalah tim penyidik dari polres Jayapura dan polda papua serta tim penyidik dari bareskrim (Badan Reserse Kriminal)."



    Sumber : ROL
  • Menyusul terjadinya peristiwa penyerangan terhadap penganut Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai kerja intelijen lokal belum optimal. "Saya menilai memang ada yang belum optimal. Pertama, maksud saya yang mengait pada solusi pertama intelijen lokal, dalam hal ini kepolisian maupun komando teritorial TNI," kata Presiden SBY kepada pers usai memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (27/8).

    SBY Kritik Kinerja Intelijen Soal Insiden Sampang
    SBY Kritik Kinerja Intelijen Soal Insiden Sampang
     
    Menurut Presiden, apabila fungsi intelijen kuat, maka aksi kekerasan di Sampang bisa diantisipasi. Dalam insiden penyerangan kelompok Islam Syiah di Sampang, aparat kepolisian dan TNI tidak siaga mendeteksi potensi bentrokan.

    Presiden SBY menggarisbawahi kelemahan ini agar menjadi catatan bagi Polri dan TNI. "Mestinya kalau intelijen itu bekerja dengan benar dan baik, akan lebih bisa diantisipasi, dideteksi keganjilan yang ada di wilayah itu," tegas Presiden.

    Arahan Presiden mengenai solusi kasus kekerasan di Sampang juga ditujukan kepada Mahkamah Agung (MA). Presiden SBY meminta agar hukuman terhadap aksi kekerasan bisa lebih tegas dan adil. Hal ini sebagai efek jera agar kejadian kekerasan tidak terulang lagi di masa mendatang. "Kalau tidak tegas dan adil, memancing hal serupa di masa depan. Kalau tegas dan adil, kalau kesalahannya berat hukumannya berat, maka itu akan baik bagi negara kita. Dengan demikian tidak begitu saja warga negara kita, komunitas atau pihak tertentu melakukan kekerasan dan pelanggaran hukum seperti itu," papar Kepala Negara.

    Kepada pemerintah daerah Jawa Timur dan Sampang, Presiden menghimbau agar terus melakukan sinergi dengan pemerintah pusat. Presiden SBY juga berharap agar Pemda Jatim dan para pemimpin agama bisa membimbing masyarakat agar tidak melakukan aksi kekerasan maupun tindakan main hakim sendiri.

    Dikatakan Presiden, pemerintah pusat akan membantu Pemda Jatim terkait penanganan korban pasca insiden penyerangan di desa Nangkernang, Sampang. Bantuan akan diberikan kepada kedua kelompok yang bentrok dalam insiden itu. "Kita akan bantu untuk membantu mereka-mereka yang jadi korban insiden ini, apakah rumah dibakar atau yang luka-luka, secara adil bagi kedua belah pihak," imbuh Kepala Negara. (Jurnas)



    Kepala BIN Akui Kecolongan 

    KEPALA Badan Intelijen Negara (BIN), Marciano Norman mengakui bahwa fungsi intelejen gagal untuk mengantisipasi aksi penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di Sampang, Jawa Timur, Hari Minggu lalu.

    Kepala BIN, Letjen TNI Marciano Norman.
    Kepala BIN, Letjen TNI Marciano Norman
    Marciano berjanji akan melakukan evaluasi agar intelijen tidak lagi kecolongan. "Ya, kita harus mengakui kalau hal itu terjadi, intelejennya harus diperbaiki. Kita harus mengevaluasi, harusnya intelejen yang baik mempunyai kemampuan mendeteksi secara dini hal-hal yang akan timbul," kata Marciano kepada wartawan usai menghadiri rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (27/8).

    Marciano membantah bahwa intelijen tidak bekerja dengan baik di daerah Sampang yang menjadi lokasi penyerangan. Ia menegaskan, lembaganya bekerja namun memang perlu ada perbaikan. "Tetap terjadi walaupun kita juga telah lakukan langkah-langkah itu (intelijen). Ya, memang kita harus memperbaiki," ujar mantan Pangdam Jaya tersebut.

    Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai kerja intelejen lokal belum optimal. Presiden SBY meminta agar fungsi intelejen di daerah diperkuat agar insiden penyerangan seperti yang terjadi di Sampang tidak terulang. "Saya menilai memang ada yang belum optimal. Pertama, maksud saya yang mengait pada solusi pertama intelijen lokal, dalam hal ini kepolisian maupun komando teritorial TNI," kata Presiden SBY dalam jumpa pers hari ini.

    Aksi penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di desa Nangkernang, Sampang, Jawa Timur terjadi Minggu kemarin (26/8). Penyerangan oleh ribuan orang itu menewaskan dua korban tewas yakni Thohir (40) dan Muhammad Khosim alias Hamamah (45). Sedangkan lima orang korban luka dalam keadaan kritis.

    Kejadian berawal saat pagi hari rombongan kelompok Syiah pimpinan Tadjul Muluk yang mayoritas anak-anak berangkat menuju Pesantren Bangil di Malang. Saat di perjalanan, mobil yang membawa rombongan dari Desa Nangkerenang itu dihadang ribuan orang dan terjadi bentrokan. Massa yang marah kemudian membakar dusun warga kelompok Syiah. 

     Sumber : Jurnas
  • SIANG ini Kapolri Jendral Timur Pradopo akan mendatangi tempat kejadian penyerangan kelompok Islam Syiah di Nangkernang, Sampang, Jawa Timur (Jatim). Kapolri yang meninjau lokasi bersama dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono akan mengumpulkan fakta-fakta terkait insiden penyerangan.

    Tragedi Kerusuhan Sampang
    Tragedi Kerusuhan Sampang

    "Tentunya kami lihat secara fakta nanti. Saya dan panglima TNI akan ke lokasi siang ini," kata Timur kepada pers usai menghadiri rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (27/8). Timur menjelaskan, Polda Jatim telah menurunkan tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) yang jumlahnya sekitar 450 orang ke desa Nangkernang.

    Penempatan SSK untuk mencegah meluasnya aksi penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah yang bermukim di desa tersebut. "Ada tiga SSK dari sana, termasuk SSK TNI untuk membantu Polri dalam rangka pencegahan dan tidak meluas (bentrokan)," ujar polisi berpangkat bintang empat itu.

    Sementara itu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi juga akan terbang ke Surabaya, siang ini. Gamawan bersama dengan Menkumham Amir Syamsudin akan berangkat bersama ke Surabaya untuk mendalami kasus kekerasan di Sampang. "Ya, saya akan berangkat hari ini ke Surabaya, akan mendalami itu. Staf saya tadi pagi sudah berangkat, dari kemarin saya sudah komunikasi dengan gubernur," ucap Gamawan.

    Gamawan mengungkapkan, malam ini akan digelar rapat di Surabaya terkait temuan dan fakta di lapangan mengenai penyerangan kelompok masyarakat di Sampang. Rapat juga akan dihadiri oleh Kapolri, Panglima TNI dan Menkumham. "Nanti malam kami rapat," imbuh Gamawan.

    Aksi penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di desa Nangkernang, Sampang, Jawa Timur terjadi Minggu kemarin (26/8). Penyerangan oleh ribuan orang itu menewaskan dua korban tewas yakni Thohir (40) dan Muhammad Khosim alias Hamamah (45).

    Sedangkan lima orang korban luka dalam keadaan kritis. Kejadian berawal saat rombongan kelompok Syiah pimpinan Tadjul Muluk yang mayoritas anak-anak berangkat menuju Pesantren Bangil di Malang. Saat di perjalanan, mobil yang membawa rombongan dari Desa Nangkernang itu dihadang ribuan orang dan terjadi bentrokan. Massa yang marah kemudian membakar dusun warga kelompok Syiah.



    Sumber : Jurnas
  • SIAPA yang tidak mengenal lambang palang merah dan bulan sabit merah? Hampir dapat dipastikan bahwa mayoritas masyarakat pasti mengenal lambang ini. Bahkan, khususnya lambang palang merah masuk dalam kategori logo atau lambang paling terkenal di dunia, selain logo Coca Cola dan Mc Donalds.




    Namun, saat ini, banyak pihak yang menggunakan lambang palang merah dan bulan sabit merah. Di Indonesia masyarakat umumnya mengenal lambang palang merah dan bulan sabit merah sebagai lambang kesehatan, obat, rumah sakit, dan segala hal yang berhubungan dengan medis.

    Padalahal sejatinya, kedua lambang tersebut tidak boleh digunakan dalam sembarang kegiatan, bahkan yang berkaitan dengan urusan medis sekalipun. "Hanya perhimpunan nasional dan kesatuan medis militer suatu negara saja yang berhak menggunakan lambang-lambang tersebut," kata Legal Advisor Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Rina Rusman, dalam acara Media Briefing Sosialisasi RUU Kepalangmerahan, di Jakarta, Rabu (18/7).

    Menurut Rina, hal itu sudah diatur dalam Konvensi Jenewa 1949 dan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-20 di Wina, tahun 1965. Ia menjelaskan, dalam Konvensi Jenewa 1949 disebutkan bahwa lambang palang merah dan bulan sabit merah, hanya diperuntukan bagi dinas kesehatan angkatan perang suatu negara serta perhimpunan nasional yang dibentuk atau ditunjuk oleh negara. "Jadi, hanya dinas kesehatan angkatan laut, darat, udara dan PMI saja yang berwenang menggunakan nama dan lambang palang merah. Pihak lainnya dilarang menggunakan lambang palang merah," ujarnya.

    Rina menjelaskan bahwa bebasnya penggunaan lambang-lambang milik dinas kesehatan angkatan perang dan perhimpunan nasional, artinya adalah pengguna lambang itu tidak sah menggunakannya. Hal itu bisa berarti memberi kesempatan angkatan perang negara lain untuk menilai, misalnya, apakah penggunanya adalah mata-mata atau bukan. Jika demikian, pada akhirnya akan merugikan dan membahayakan semua pihak. "Bisa jadi pihak yang sah pun dianggap tidak sah menggunakannya, dan akses untuk menolong korban dapat menjadi terbatas," kata Rina.

    Oleh karena itu, menurut Rina, seluruh negara harus konsekuen untuk mencegah penyalahgunaan lambang-lambang Kenvensi Jenewa, termasuk dengan mentertibkan tata cara penggunaannya. Maka, LSM dan pihak lain apa pun kegiatannya, dilarang menggunakan lambang-lambang milik dinas kesehatan angkatan perang dan perhimpunan nasional.

    "Jika ada pelanggaran, pelanggarnya dapat dikenakan sanksi," kata Rina. Sanksinya bisa pidana atau perdata yang mengacu pada UU No. 23 tahun 1959 tentang keadaan bahaya, dimana sanksi pelanggarnya adalah hukuman kurung selama-lamannya sembilan bulan, dan denda setinggi-tingginya 20 ribu rupiah.

    Ia mengusulkan agar pihak-pihak yang terlanjur menggunakan nama dan lambang palang merah dan bulan sabit merah, merubah nama dan logonya secara keseluruhan, atau nerubah warnanya menjadi warna yang lain. "Misalnya palang hijau atau bulan sabit hijau. Yang penting warnanya bukan merah, warna dan sebutan merah untuk palang merah," kata Rina.



    Sumber : Jurnas
  • TNI Angkatan Laut kehilangan dua perwira terbaiknya saat menggelar latihan Search and Rescue (SAR) Kapal Selam Tahun 2012 di perairan Situbondo, Jawa Timur. Bagaimana kronologi kejadian dan latar belakang kegiatan tersebut?

     
    Dalam rilisnya, Senin (9/7/20120), Dispen TNI AL memberi penjelasan bahwa sebelum gladi lapangan, latihan tersebut diawali dengan Gladi Posko di ASTT (Action Speed Tactical Trainer) Pusat Operasi Laut Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI Angkatan Laut, serta gelar pasukan di dermaga Madura Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Rabu (4/7). Sementara gladi lapangan berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 6-7 Juli 2012.

    "Latihan SAR Kapal Selam merupakan salah satu upaya meningkatkan kemampuan
    unsur-unsur SAR TNI Angkatan Laut dalam menyelenggarakan pencarian dan
    penyelamatan kapal selam di lingkungan TNI Angkatan Laut," kata Kepala Dispenal
    Kasubdispenum Kolonel Laut J Widjojono.

    Unsur-unsur peserta latihan yang terlibat terdiri dari 1 kapal selam (KRI Cakra-
    401), 2 kapal atas air (KRI Diponegoro-365 dan KRI Pulau Rupat-712), 2 Tim Dislambair, 1 ponton (Ponton Lumba Lumba), 1 Tim Pasukan Katak serta 2 Tim Kesehatan dari Lakesla dan RSAL dr Ramelan Surabaya. Sedangkan dari unsur Tugas Udara, yaitu 1 pesawat Cassa U-617 dan 1 Heli Bolcow-NV 411.

    Sasaran yang ingin dicapai dalam latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menyusun rencana operasi serta prosedur pencarian dan penyelamatan kapal selam, meningkatkan kerja sama dan koordinasi di bidang pencarian dan penyelamatan kapal selam, mulai dari tingkat masing-masing unsur sampai ke tingkat satuan, serta penyesuaian terhadap perlunya pengembangan teknologi alat
    penyelamatan bawah air ataupun dalam piranti lunak pendukung latihan.

    Pada gladi, gugur dua Perwira terbaik TNI Angkatan Laut, masing-masing Kolonel Laut (P) Jefri Stanly Sanggel, S.H., yang sehari-hanya sebagai Komandan Satuan Kapal Selam Komando Armada RI Kawasan Timur dan Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo yang merupakan Kepala Divisi Mesin Pokok KRI Cakra-401.

    Almarhum Kolonel Laut (P) Jefri Stanly Sanggel merupakan alumni Akademi
    Angkatan Laut, Angkatan ke-35 Tahun 1989 yang beralamat lengkap Jl Pulau Dewata
    Kaveling D1-7 Kepala Gading, Jakarta Utara.

    Sementara Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo merupakan Alumni Akademi
    Angkatan Laut, Angkatan ke-46 Tahun 2000 beralamat lengkap Jl Brigjen Katamso
    IV Blok C-9, Waru, Sidoardjo.

    "Kedua perwira tersebut gugur pada hari kedua Latihan SAR Kapal Selam TNI Angkatan Laut Tahun 2012," sambung Widjojono.

    Menurut Widjojono, saat hari pertama latihan, semua berjalan lancar, termasuk juga hari kedua. Baru pada latihan kedua terjadi insiden.

    "Pada Latihan SAR Kapal Selam TNI Angkatan Laut Tahun 2012, KRI Cakra-401 berhenti dan duduk di dasar laut, kemudian para prajurit keluar dari dalam atau perut kapal melalui conning tower," terang Widjojono.

    Kedua perwira telah dimakamkan pada Minggu (8/7) kemarin.



    Sumber : Detik
  • Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim Kolonel Laut (P) Jeffry Stanley Sanggel dan seorang perwira Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo meninggal dunia saat mengikuti latihan SAR di perairan Pasir Putih, Situbondo, Jatim, Sabtu.

    KRI Cakra
    KRI Cakra

    Kadispen Koarmatim Letkol laut (KH) Yayan Sugiana saat hadir di rumah duka Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo, Kepala Divisi Mesin Pendorong Pokok KRI Cakra-401, di Sidoarjo, Sabtu malam belum bisa menjelaskan secara perinci mengenai peristiwa tersebut.

    KRI Cakra adalah satu dari dua kapal selam milik TNI AL. Kapal yang dikomandani Letkol laut (P) Indra Agus Wijaya itu terlibat dalam latihan SAR tersebut.

    Dalam latihan tersebut diskenariokan, kapal selam tidak bisa naik, padahal di dalamnya enam personel. Keenam personel itu menyelamatkan diri dengan keluar dari kapal dalam tiga gelombang atau setiap gelombang dua orang.

    Kedua perwira itu termasuk dalam rombongan penyelamatan tahap kedua. Latihan SAR untuk kapal selam yang melibatkan sejumlah personel dan kapal perang lain serta helikopter itu merupakan pertama kalinya digelar oleh TNI AL.







    Sumber Gambar http://jakartagreater.com


    TNI-AL Selidiki Penyebab Kecelakaan

    Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut masih melakukan penyelidikan terhadap kecelakaan pada simulasi penyelamatan kapal selam di Perairan Situbondo, Jatim, yang menewaskan dua orang perwira menengah berpangkat kolonel dan mayor.

    "Kami membentuk tim khusus untuk melakukan penyelidikan terkait musibah yang menyebabkan putra-putra terbaik negeri ini," kata Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letnan Kolonel (KH) Yayan Sugiana, saat berada di rumah duka di Sidoarjo, Sabtu malam.

    Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim Kolonel Laut (P) Jeffry Stanley Sanggel dan seorang perwira Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo meninggal dalam saat mengikuti latihan SAR di perairan Pasir Putih, Situbondo, Jatim, Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB.

    Kadispen mengemukakan, tim tersebut akan bertugas untuk melakukan penyelidikan terkait penyebab peristiwa naas yang mengakibatkan dua orang putra terbaik bangsa itu meninggal dunia.

    "Kami mohon rekan-rekan media bersabar, karena kejadian kecelakaan tersebut baru terjadi hari ini. Oleh karena itu kami meminta waktu supaya penyelidikan ini bisa berjalan dengan lancar," katanya.

    Menurutnya, dalam skenario simulasi tersebut dua orang yang menjadi korban ini adalah pelaku yang akan dievakuasi dari dalam kapal selam KRI Cakra-401 yang dikomandani Letkol Laut (P) Indra Agus Wijaya itu.

    "Dalam skenario tersebut ada enam orang anak buah kapal selam KRI Cakra yang ada di dalam. Diskenariokan bahwa kapal selam tersebut tidak bisa muncul ke permukaan karena mengalami suatu kendala," katanya.

    Keenam orang ABK kapal selam tersebut dibagi dalam tiga sorti untuk menyelamatkan diri dari dalam kapal selam tersebut.

    "Tim pertama tidak ada masalah dan berhasil keluar dari kapal selam. Akan tetapi, tim kedua mengalami masalah dan kedua perwira itu meninggal dunia," katanya.


     Sumber : Antara
  • Tank Amfibi Tenggelam, 6 Orang Marinir Tewas
    SEBUAH tank pendarat amfibi Marinir jenis BTR 50 P yang ditumpangi 15 prajurit Marinir tenggelam di lepas Pantai Banongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (2/2) pukul 04.30.
     
    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJUFuhFYH25nEN_0_bmKuxJnL2VseTryMEKS6pzbaX8CpEhQ4YjOy_KD6OerDHxUynuEIChcNRL2neS4cvaTh70MjVX2ZdhtObxGdT9Yf_vcG2hWefWUM36LN0skNjpURGAqR7gg5OwRGE/s660/btr-50.jpg

    Dalam insiden yang berlangsung di tengah latihan TNI AL itu enam personel Marinir tewas dan seorang lainnya masih dicari.

    Keenam personel yang tewas adalah Prajurit Satu Agus Priyanto, Kopral Dua (Kopda) Rusli Heri, Kopda Nugroho Pamungkas, Kopda Hariyadi, Sersan Dua Hadi Sutrisno, dan Prajurit Kepala Dwiniar.


    Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (AL) Laksamana Pertama Iskandar Sitompul kemarin mengatakan, satu prajurit lainnya masih dicari, yakni Sersan Kepala Suryanto. ”Tank yang tenggelam sudah ditemukan di kedalaman sekitar 30 meter dengan jarak 400 meter dari pantai. Tank amfibi itu akan segera diangkat untuk kemudian diselidiki mengapa sampai tenggelam,” ujarnya.
     Latihan pendaratan

    SECARA terpisah, Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir Letkol Marinir Novarin Gunawan menjelaskan, musibah itu terjadi di tengah berlangsungnya latihan pendaratan amfibi yang melibatkan sekitar 1.300 prajurit Marinir di Pantai Banongan. ”Latihan itu merupakan bagian dari latihan tahunan TNI AL yang diberi nama Latihan Armada Jaya,” ujarnya.

    Musibah, lanjutnya, terjadi saat tank meluncur dari KRI Teluk Kau 504 sejauh lebih kurang 2 kilometer menuju daratan. ”Ketika sudah berada pada jarak sekitar 400 meter dari pantai, tiba-tiba tank tenggelam. Delapan personel berhasil dievakusi menggunakan perahu karet, sementara yang lainnya ikut tenggelam,” ujar Novarin.


    Ia menambahkan, saat latihan pendaratan itu berlangsung kondisi perairan masih gelap. ”Dari 15 penumpang, enam di antaranya adalah kru tank, sedangkan lainnya adalah prajurit infanteri yang akan didaratkan ke pantai,” kata Novarin.


    Kepala Dinas Penerangan Armada RI Kawasan Timur (Armatim) Letkol Laut (Kh) Toni Syaiful mengatakan, Sabtu siang ditemukan satu jenazah mengambang. ”Kemarin pagi penyelam TNI AL berhasil mengevakuasi lima jenazah yang terjebak di dalam tank,” ujarnya.


    Kemarin, keenam korban tewas diterbangkan ke Rumah Sakit TNI AL Dr Ramelan di Surabaya dan selanjutnya diterbangkan ke Jakarta. Menurut Novarin, korban tank tenggelam itu berasal dari Batalyon Infanteri 2 Marinir yang berkedudukan di Jakarta.


    Novarin menyatakan, BTR 50 P buatan Rusia tahun 1962 itu masih layak digunakan. ”Saat ini kami masih menyelidiki penyebab tenggelamnya karena kendaraan pendarat tersebut masih layak digunakan,” kata Novarin. (SET/NWO)
    (KOMPAS)
     6 Jenazah Marinir Diterbangkan ke Jakarta, 1 Masih Hilang

    JENAZAH 6 anggota Korps Marinir saat ini telah diterbangkan ke Jakarta dari Surabaya. Para jenazah ini akan tiba di Bandara Halim Perdanakusumah pukul 17.00 WIB, Minggu (3/2/2008).

    "Saat ini sudah diberangkatkan. Kemungkinan akan sampai pada pukul 17.00 WIB," kata Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Novarin Gunawan kepada detikcom.


    Jenazah diterbangkan dengan pesawat Cassa dari Bandara Juanda Surabaya dan akan tiba di lapangan Halim Perdanakusumah komersil. "Tiba di Halim yang komersialnya dan bukan base off," ujarnya.


    Ikut terbang bersama dengan para jenazah, Komandan Korps Marinir Mayjen Marinir Nono Sampono.


    Ke-6 anggota Marinir yang tewas itu adalah Pratu Marinir Agus Triyanto, Praka Marinir Dwiniar Triyanto, Kopda Marinir Hariyadi, Kopda Marinir Nugirojo Pamungkas, Kopda Sri Heri dan Serda Hadi Sutrisno.


    "Masih ada satu Marinir yang belum ditemukan. Dia adalah Serka Marinir Suriyanto," ujar Novarin. Namun pihak TNI AL masih terus melakukan pencarian terhadap Serka Marinir Suriyanto(detik)
     Latihan, Panser Amfibi Tenggelam di Situbondo

    Evakuasi Tank
    ENAM jenazah anggota Marinir yang menjadi korban tenggelam dalam latihan operasi amfibi di Pantai Banongan, Situbondo, Sabtu lalu, disemayamkan di Markas Divisi 2 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, kemarin (3/2). Keenam korban tewas itu adalah sebagian di antara 15 anggota Marinir di Panser Amfibi (Pansam) Marinir BTR-50 yang tenggelam 25 meter di bawah permukaan laut. Evakuasi korban kecelakaan yang terjadi pada pukul 04.30 itu berakhir kemarin. Operasi amfibi tersebut bagian dari latihan perang Armada Jaya di Situbondo, Jawa Timur.

    "Pansam itu buatan Rusia tahun 1962," ujar Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI Angkatan Laut Laksamana Iskandar Sitompul kepada wartawan di Wisma Elang Jakarta (3/2).


    Menurut Iskandar, panser yang mengalami musibah itu diluncurkan dari daerah serbuan amfibi oleh kapal pendarat KRI Teluk KAU/504 pada posisi 07'41'4"S-114'13'42"T pukul 04.30. "Saat itu, panser telah menempuh jarak 1.300 meter. Sekitar 400 meter lagi menuju pantai, tiba-tiba bagian belakang panser goyang karena tergulung ombak hampir dua meter," katanya.


    Adik kandung pengacara Ruhut Sitompul itu menjelaskan, saat panser tenggelam, pemimpin pasukan dalam panser segera melakukan prosedur penyelamatan. Di antara 15 personel itu, sembilan bisa keluar dan sisanya terperangkap di kabin. Di antara sembilan orang yang berhasil keluar, delapan selamat, satu orang masih hilang (Serka Marinir Suryanto).


    Enam orang yang terperangkap dan meninggal adalah Pratu Agus Priyanto, Kopda Rusli Heri, Serda Hadi Sutrisno, Kopda Nugroho Pamungkas, Kopda Hariyadi, dan Praka Dwi Niar Priyanto. Mereka itulah yang kemarin disemayamkan di Markas Divisi 2 Marinir, Cilandak.


    Delapan korban selamat yang dirawat di RSAL Ramelan Surabaya adalah Praka Sarmilih, Kopda Mulyono, Kopda Wahyono, Letda Krama Lubis, Praka Iwan Setiawan, Kopda Wigati, Pratu Purwanto, dan Sertu Mujirin.


    "Tim sudah menyelidiki dan sedang mengangkat tank yang karam," kata Iskandar. Dugaan sementara, cuaca buruk dan usia pansam yang sudah tua menjadi penyebab. Rencananya, pemakaman terhadap enam korban dilakukan di Ciledug, Banyumas, Cirebon, dan Pangkalan Jati Jakarta.


    Latihan Armada Jaya ke-27 tersebut melibatkan 28 KRI, 9 pesawat udara, 13 unit tank amfibi, dan 25 unit panser amfibi BTR 50 P 1962 serta melibatkan 3.758 personel. Marinir sebenarnya mempunyai 96 pansam jenis itu. Namun, dalam latihan tersebut, hanya 25 buah yang dipakai. Pada umumnya, BTR-50 berasal dari dua negara, yaitu BTR-50 P Rusia dan BTR-50 PK Ukraina.


    Kondisi pansam itu memang sangat tua sehingga beberapa kali dilakukan perawatan (retrofit). Misalnya, evaluasi power pack (engine dan transmisi) dan driveline sistem penggerak. Evaluasi pada power pack, khususnya engine dan transmisi, bertujuan untuk mengetahui daya dorong serta daya getar yang ditimbulkan saat terjadi combution dengan bahan bakar. Kendaraan berat mampu dipacu dengan kecepatan di darat 44 km/jam dan 10,2 km/jam di air.


    Secara terpisah, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menyatakan, TNI selalu memeriksa alutsista. "DPR juga sudah mendapat laporannya," katanya.


    Apakah ada pembelian alutsista baru terkait dengan musibah itu? Sagom mengakui kendala keterbatasan anggaran belum mungkin. "Kami akan evaluasi ulang dulu seluruhnya," jelasnya.
     Spesifikasi Tank Amfibi BTR-50P yang Naas di Situbondo

    BTR-50P adalah singkatan dari Browne Transporter 50 Palawa. Kalau sudah dimodifikasi, namanya menjadi BTR-50PM atau Browne Transporter 50 Palawa Modification. Tank amfibi inilah yang mengalami musibah di Situbondo. Apa kelemahan dan spesifikasi kendaraan tempur ini? Korps Marinir TNI AL, selain mengandalkan pasukan, juga mengedepankan kendaran lapis baja. Berbeda dengan arsenal sejenis milik TNI AD, kemampuan bermanuver di dua alam alias amfibi jadi syarat utamanya.

    Menurut catatan Surya, sejauh ini Korps Marinir punya beberapa kendaraan amfibi. Di antaranya tank PT-76 (buatan Rusia), BTR-50 PK Panser Amfibi (pansam) buatan Ukraina, Czech BVP-2 Arhanud (Slovakia) yang merupakan varian BMP 2 Rusia, Panhard VBL, BTR 80A, AMX 10 P/PAC 90, dan yang terbaru BMP 3F yang hadir akhir 2007.


    TNI pernah menggelar operasi serupa yang terbilang lumayan besar. Sebut saja pada 1958, TNI menggelar operasi amfibi di Pantai Padang dalam operasi penumpasan PRRI/Permesta.


    Bagi orang awam, perkara mendaratkan kendaraan tempur (ranpur) ke darat dari kapal pengangkut tank (LST-Landing Ship Tank) nampaknya gampang. Bayangannya tinggal buka pintu LST, lalu... byuuur, ranpur berenang menuju pantai sasaran. Kenyataannya tidak semudah itu. Persiapan yang dilakukan ternyata lumayan ribet.


    Kondisi mesin, misalnya, mesti fit benar kalau tak mau tank berubah jadi rumpon di dasar laut. Biar tak kedodoran saat berenang di laut, maka sistem propulsi di air pada ranpur amfibi juga mesti sehat. Kualifikasi tadi wajib dipatuhi, baik pada sistem water-jet, gerakan rantai, dan baling-baling.


    Tak kalah penting, setiap bagian bergerak semisal hub-hub (seal sambungan) roda juga wajib kena gemuk alias dipet. Demikian pula bagian pintu. Bagian-bagian ini ditengarai jadi biang rembesnya air ke dalam kabin. Untuk mengatasi rembesan air, kendaraan lapis baja juga dilengkapi pompa. Setidaknya ada empat pompa penghisap air bisa dioperasikan, baik secara elektrikal maupun mekanikal.


    Dalam operasi, pendaratan digelar pada jarak antara 2.000 hingga 3.000 mil dari tepi pantai. Satu unit kapal pendarat (LST) bisa dijejali sekitar 15 unit ranpur. Komposisi kendaraan tempur juga bervariasi, tergantung kebutuhan. Tapi biasanya komposisi yang dianut adalah satu banding dua. Artinya, satu ranpur berkemampuan serang (BVP-2 atau PT-76) untuk dua unit ranpur pengangkut personel/APC (BTR-50).


    Operasi amfibi umumnya digelar di pagi buta. Penerangan lampu jelas diharamkan lantaran dianggap mementahkan unsur pendadakan. Alhasil, selain radio komunikasi, agar tak terjadi tabrakan antar ranpur maka diandalkan semacam fosfor sebagai penandai antar ranpur. Masih untuk urusan sama, tiap ranpur yang keluar dari perut LST diberi jeda waktu sekitar satu menit.
    Selanjutnya, sampai jarak kurang lebih 500 mil dari pantai, formasi ranpur amfibi yang mulanya berbentuk banjaran (berbaris) diubah jadi shaft (jajaran). Saat mulai menyentuh daratan, maka sistem propulsi yang dipakaipun diubah, yaitu gabungan antara water-jet dengan putaran roda rantai. Hasilnya, laju ranpur terasa berat.

    Arsenal lapis baja yang biasa digelar Korps Marinir juga menarik dibedah. Tipe pertama adalah ranpur APC BTR-50 P/PK, atau di lingkungan Marinir sering dikategorikan Pansam (panser amfibi). Sedangkan tipe kedua, ranpur arhanud (arteleri pertahanan udara), BVP-2.
    Ranpur BTR-50 dii negeri asalnya, Uni Soviet (kini Rusia), kendaraan ini operasional tahun 1955. Awalnya, kabin berkapasitas 20 pasukan bersenjata lengkap ini tak punya penutup atas. Baru pada 1960 dengan alasan guna mendongkrak proteksi penumpang, maka varian BTR-50 PK dilengkapi tutup kabin (hatch). Varian terakhir inilah yang sampai sekarang dipakai Korps Marinir.

    Soal konsumsi bahan bakar jauh beda dibandingkan dengan kendaraan biasa. Sebagai gambaran, BTR-50 berkapasitas solar penuh (full tank) sekitar 260 liter ternyata hanya mampu menjelajah 260 km. Ini artinya, satu liter solar hanya mampu mendorong sejauh 1 km.
    Angka 44 km/jam adalah patokan kecepatan maksimal bila berjalan di jalan raya. Sedang bila melahap medan off-road kecepatan tadi anjlok pada angka 25 km/jam.

    Di laut, BTR- 50 mengandalkan dua unit water-jet saat bergerak di air. Kedua piranti ini sanggup menghela badan ranpur pada kecepatan 10 km/jam. Tak hanya maju, kendaraan ini bisa juga berenang mundur pada kecepatan 5 km/jam. Selain itu BTR-50 mampu menerjang ombak berketinggian maksimal 1,5 m.


    Identik dengan pansam meriam PT-76 , BTR-50 masuk jajaran organik Marinir tahun 1962. Pengadaannya waktu itu sebagai bagian persiapan Operasi Trikora. Tak langsung pensiun begitu operasi ini usai, perjalanan karir BTR-50P terus berlanjut. Keandalannya kembali teruji dalam berbagai operasi militer pasca Trikora, termasuk Operasi Seroja (1975/79).


    Namun, namanya musibah bisa datang dari apa saja. Dalam kasus musibah di Situbondo ini, ketika tank BTR-50P keluar dari LST, ternyata cuaca sangat tidak bersahabat. "Ketika menuju daerah pendaratan, ombak sangat besar dan menggulung tank tersebut," kata Laksma TNI Iskandar Sitompul, Kadispen TNI AL, melalui faksimili yang dikirimkan ke Harian Surya, Minggu (3/2) malam.
    Apesnya, ketika perintah escape dari panser amfibi diberikan dengan cara membuka pintu, sembilan prajurit pertama bisa keluar. Setelah itu ada satu prajurit tersangkut atau kecantol di pintu panser. "Maka enam prajurit yang masih ada di dalam terperangkap tidak bisa keluar," katanya.

    Kemudian diketahui, selain enam prajurit tewas, seorang prajurit lainnya masih hilang. Pada era 1990-an, TNI pernah mendatangkan ranpur sejenis asal Ukraina. Varian ini mengusung kode BTR-50PK dan dipakai untuk mengganti sejumlah BTR-50 P yang sudah tak layak operasional lagi.


    Data Teknis BTR-50 P/PK

    Dimensi : Panjang: 7,07m; lebar:3,14 m; tinggi:2,15 m

    Bobot : Berat kosong 14,5 ton; Berat siap tempur 16,5 ton

    Daya angkut :2,5 ton

    Kemiringan maksimal tanjakan : 38 derajat

    Rintangan tegak : Setinggi 1,1 m parit; selebar 2,8 m

    Kecepatan di jalan raya : 44 km/jam; di air: 10,2 km/jam
     Kronologi Musibah Tewas dan Hilangnya 7 Prajurit Marinir

    SABTU 02 Februari 2008
    1. Tank amfibi jenis BTR 50-P keluar dari perut kapal perang Landing Ship Tank (LST) KRI Teluk Kau-504, Sabtu (2/2) dini hari pukul 04.30 WIB dengan jumlah 15 orang personel korps marinir.


    2. Tank amfibi itu berlayar menuju pantai pendaratan dengan jarak sekitar 6.000 yard atau 1.700 meter. Setelah mendekati daerah pendaratan, sekitar 1.200 yard atau 400 meter, tank tergulung ombak.


    3. Oleh komandan tank/panser, para prajurit diperintahkan membuka pintu untuk prosedur escape. Sebagian personil dapat keluar sebanyak 9 orang, namun 1 orang tersangkut pada pintu sehigga enam orang yang masih di dalam tank tidak bisa keluar. Mereka terperangkap dalam tank dan tenggelam di kedalaman sekitar 25 meter.


    Personel yang tewas 6 orang dan satu orang hilang, semua dari Pasmar II Jakarta/Divisi II Marinir Wilayah Barat:

    * Pratu (Mar) Agus Triyanto

    * Praka (Mar) Dwiniar Triyanto

    * Kopda (Mar) Harijadi

    * Kopda (Mar) Nugirojo Pamungkas

    * Kopda (Mar) Sri Heri

    * Serda (Mar) Hadi Sutrisno

    * Korban hilang: Serka (Mar)
    Suriyanto
    Sumber : Kadispenal Laskma TNI Iskandar Sitompul
     Duka menyelimuti Korps Marinir

    ENAM prajuritnya tewas dan seorang lainnya masih hilang, saat mereka latihan tempur di Pantai Banongan, Situbondo, Sabtu (2/2) dini hari. Penyebabnya, usia panser amfibi sudah tua dan buruknya cuaca di lokasi latihan.

    Surabaya - Surya, Latihan tempur Korps Marinir di Pantai Banongan, Asembagus, Situbondo yang bersandi Armada Jaya XXVII/2008, menelan tewasnya enam prajurit dan seorang masih hilang.


    Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (2/2) dini hari sekitar pukul 04.30 WIB, saat pasukan marinir beraksi dalam pendaratan pasukan amfibi di pagi buta itu menggunakan tank atau panser amfibi (pansam) jenis BTR-50P buatan Rusia tahun 1962.


    Insiden tenggelamnya tank amfibi ini dikarenakan peralatan tempur tersebut sudah cukup tua, dan adanya cuaca buruk di lokasi latihan tempur.


    Laksma TNI Iskandar Sitompul, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, menjelaskan pansam BTR-50 P tersebut meluncur dari KRI Teluk Kau 504, sebuah kapal perang jenis Landing Ship Tank (LST), pada posisi 07' 41' 4" S - 114' 13' 42" T.
    Pansam ini meluncur sekitar pukul 04.30 WIB, Sabtu dini hari, menuju pantai dengan jarak sekitar 5.000 yard atau sekitar 1.700 meter. Pada awalnya pansam ini berlayar lancar dengan mengangkut 15 prajurit marinir. Namun di tengah pelayaran mendapat guncangan hebat karena diterjang ombak dan cuaca buruk. "Tergulungnya pansam oleh ombak itu tepat pada posisi sekitar 1.200 yard atau sekitar 400 meter dari bibir pantai," kata Iskandar Sitompul melalui rilisnya kepada Surya, Minggu (3/2) malam.

    Ketika panser terguncang ombak, seketika Komandna pansam Sertu (mar) Mujirin memerintahkan prajurit membuka pintu pansam untuk langkah escape atau penyelamatan para personel. Saat itu ada sembilan personel berhasil keluar, namun seorang di antaranya tersangkut pada pintu pansam.


    "Karena ada prajurit yang tersangkut di pintu, enam prajurit lainnya terkurung di dalam pansam," kata Iskandar. Beberapa saat kemudian, pansam tenggelam bersama enam prajurit terperangkap di dalamnya pada kedalaman laut 25 meter. Sedangkan dari sembilan yang berhasil keluar, seorang di antaranya kini masih belum ditemukan.


    Semua prajurit yang ada di dalam pansam tersebut berasal dari Batalyon II Korps Marinir yang berada di bawah Brigif II Korps Marinir Wilayah Barat yang bermarkas di Jakarta.
    Keenam prajurit yang tewas adalah Pratu (Mar) Agus Triyanto, Praka (Mar) Dwiniar Priyanto, Kopda (Mar) Hariyadi, Kopda (Mar) Nugroho Pamungkas, Kopda (Mar) Rusli Heri, dan Serda (Mar) Hadi Sutrisno, dan prajurit yang belum ditemukan adalah Serka (Mar) Suryanto. Sedangkan delapan prajurit yang selamat adalah Prama (Mar) Sarmili, Kopda (Mar) Mulyono, Kopda (Mar) Wahyuno, Letda (Mar) Krama Lubis, Praka (Mar) Iwan Setiawan, Kopda (Mar) Wijati, Pratu (Mar) Purwanto, dan Sertu (Mar) Mujirin sebagai Komandan pansam.

    "Kasus ini sekarang dalam penyelidikan Mabes TNI AL," ujar Iskandar Sitompul.
    Iskandar menyebut insiden itu lebih karena sudah tuanya usia panser buatan Rusia itu, yakni 62 tahun. "Faktor usia ada, tapi faktor cuaca juga kurang bersahabat," katanya.

    Kadispen Armatim Letkol Laut Toni Syaiful ketika dikonfirmasi menjelaskan, dalam latihan di Situbondo itu TNI AL mengerahkan 23 kapal perang. Semuanya terdiiri Landing Ship Tank (LST) 5 unit yakni KRI Teluk Banten, KRI Teluk Penyu, KRI Teluk Sampit, KRI Teluk Hading, dan KRI Teluk Tank untuk pendaratan dimuat dalam lima KRI tersebut.


    Selain itu ada KRI KRI Surabaya (jenis Landing Platform Dock/LPD), KRI dr Suharso (jenis LPD khusus kapal rumah sakit), keduanya buatan Korea Selatan, juga KRI Ahmad Yani, KRI Oswaald Siahaan, KRI Karel Satsuitubun (jenis vanspeijk) buatan Belanda, KRI Fatahila, KRI Nala (jenis korvet buatan Belanda), KRI Patiunus, dan KRI Diponegoro (jenis korvet, kapal canggih buatan Belanda yang baru masuk TNI AL akhir 2007.


    Menurut Toni Syaiful, informasi terjadinya kecelakaan sebenarnya sudah diketahui sejak awal dan langsung dilakukan pencarian dengan menyelam. Evakuasi dilakukan pada Minggu (3/2) pagi sekitar pukul 10.00 WIB, dan berhasil mengeluarkan enam jenazah dari pansam.


    Keenam jenazah kemudian dievakuasi ke KRI dr Suharso. Dari sana kemudian diterbangkan dengan dua helikopter jenis Bell menuju RSAL Dr Ramelan Surabaya untuk kepentingan identifikasi.

    Setelah itu, dengan menggunakan pesawat Cassa dari Wing Udara Armatim, jenazah diterbangkan ke Halim Perdana Kusuma dan diteruskan ke Brigif II untuk diserahkan kepada keluarga masing-masing. Ikut terbang bersama dengan para jenazah, Komandan Korps Marinir Mayjen Marinir Nono Sampono
    , Sedangkan seorang prajurit yang belum ditemukan, menurut Toni Syaiful, masih terus dicari. Namun karena cuaca buruk, pencarian dihentikan pada Minggu (3/2) sore.
     Dilarang Diliput

    LIMA dari enam jenazah, Minggu sekitar pukul 17.30 WIB tiba di Base Off Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sekitar 10 menit setelah rombongan Wapres Jusuf Kalla mendarat di tempat yang sama usai memantau perkembangan banjir Jakarta lewat udara. Sedangkan satu jenazah lagi diberangkatkan ke Banyumas, Jateng, langsung dimakamkan oleh keluarga mereka.

    Kelima jenasah dibawa menggunakan pesawat Casa 212/200 Skuadron Udara 400 Lanud AL Juanda Surabaya. Kedatangan kelima jenazah disambut dengan upacara militer dipimpin Komandan Korps Marinir (Dankomar) Mayjen TNI Nono Sampurno. Suasana tampak hening ketika peti jenasah dipindahkan dari pesawat ke kereta jenasah.


    Usai upacara dilaksanakan, kelima peti jenazah yang ditutupi bendera merah putih tersebut langsung dimasukkan kedalam mobil jenazah berwarna biru muda milik TNI AL.
    Upacara penerimaan jenasah dilakukan tertutup bagi wartawan. Satu peleton pasukan marinir hadir dalam upacara tersebut. Tampak sejumlah ambulan mendekati pesawat yang mengangkut jenasah. Beberapa karangan bunga diletakkan dekat pesawat.
      Selalu Mencekam Saat Tank Meluncur dari Kapal

    AKSI pendaratan pasukan amfibi marinir dari kapal perang menuju pantai dalam sebuah penyerbuan ke daerah pertahanan musuh, selalu menjadi momen paling menegangkan dan penuh risiko. Proses itu selalu dibayang-bayangi ancaman kecelakaan, terutama saat para prajurit yang ada di dalam tank/panser amfibi (pansam) meluncur keluar dari perut kapal perang jenis Landing Ship Tank (LST). Saat keluar dari perut kapal perang, tank atau pansam langsung nyemplung ke laut. Jika mesinnya berfungsi baik, maka dalam beberapa detik saja tank itu muncul kembali ke permukaan laut sambil memompa air lewat dua lubang di belakang. Pansam kemudian berenang perlahan dengan kecepatan sekitar 10 knot ke pantai.

    Tetapi saat nyemplung laut dan mesin tiba-tiba mati atau tak berfungsi, maka tank berserta seluruh prajurit yang ada di dalamnya pasti akan tenggelam terus ke dasar laut. Langkah escape (keluar dengan cara membuka pintu/jendela pansam) biasanya diperintahkan komandan pansam. Akan berisiko tinggi apabila keluarnya para prajurit dibarengi kepanikan karena banyaknya prajurit yang harus antri keluar dari pintu atau jendela itu.


    "Detik-detik keluar dengan panser dari kapal perang memang sangat menegangkan bagi prajurit marinir," ujar seorang prajurit marinir yang tak mau disebut jati dirinya, saat menyaksikan pendaratan tank marinir di Pantai Banongan, Asembagus, Situbondo, Sabtu (2/2) lalu.
    Menurut prajurit berpakaian loreng plus baret ungu ini, kecelakaan saat pendaratan seperti ini sering terjadi. Karena itu, tank yang dinilai tidak layak atau mesinnya kurang bagus, biasanya tidak digunakan lagi dalam pendaratan karena risikonya terlalu besar. "Hanya tank yang bagus saja yang biasanya digunakan untuk pendaratan," ujarnya.

    Saat pendaratan di Pantai Banongan kemarin, ada lima KRI jenis LST yang mengangkut 17 tank atau pansam. Satu persatu tank keluar dari perut kapal perang dan menyeberang ke pantai dalam suasana pagi yang masih masih gelap.
    Surya yang menyaksikan aksi pendaratan itu dari pantai melihat aksi itu cukup mendebarkan. Raungan mesin tank dan kepulan asap tebal yang keluar dari cerobongnya mewarnai suasana pagi itu. Tak lama kemudian tank tersebut tiba di darat dan sebagian langsung meluncur ke arah pegunungan untuk melanjutkan serangan dan sebagian berhenti di bibir pantai.

    Dari sejumlah kendaraan pendarat amfibi (Ranratfib) tersebut ada dua jenis yang memiliki meriam yakni PT 76 buatan Rusia tahun 1961 yang sudah dimodifikasi menjadi PT 90 dengan menggunakan mesin baru buatan Detroit, Amerika Serikat.


    Tank amfibi ini menggunakan senjata atau meriam jenis Cannon 76 mm dengan jarak tembak maksimum 1.200 meter. Dengan kapasitas enam butir mampu meluncur setiap menit. Sedangkan tank BTR-50P terdiri dari dua jenis yakni BTR-50PM dan 50PK, keduanya buatan Rusia tahun 1961. Masing-masing mampu mengangkut 18 personel. Tank itu menggunakan senjata mesin 12,7 mm dengan efektif tembakan mencapi 1.800 meter.


    Kepada wartawan saat jumpah pers usai latihan, KSAL Laksamana TNI Sumardjono mengakui tank tersebut memang sudah tua, namun karena sudah dimodifikasi, tank ini dianggap masih layak. Hal itu dibenarkan oleh Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono. Dia mengatakan PT 76 sudah dimodifikasi menjadi PT 90 dan dapat digerakan otomatis serta masih layak digunakan.
    Namun dengan terjadinya musibah dalam latihan tempur di Situbondo kemarin, Mabes TNI AL memutuskan akan mengevaluasi seluruh pansam BTR-50P. "Tentu kita akan evaluasi, mulai hari ini (Minggu,3/2)," kata Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompul, di Jakarta, Minggu.

    Ia mengatakan, saat ini TNI AL memiliki 96 pansam tersebar di Brigade Infanteri (Brigif) I dan II Marinir. Ke-96 Pansam BTR-50P itu buatan Rusia tahun 1962 dan telah mengalami peremajaan pada 1996. "Jadi, sebenarnya masih dalam batas waktu pemakaian, namun dengan kejadian ini akan kita evaluasi seluruh pansam yang kita punya," ujar Iskandar. 
     
    Sumber :http://garudamiliter.blogspot.com/2012/05/mengenang-tenggelamnya-btr-50-p-marinir.html