-
Oleh: Margono Dwi Susilo
Berdasarkan TRADISI LISAN yang dimuat dalam komik Aceh. Penulis tambah yakin tentang cerita komik itu saat Anthony Reid sendiri juga memberikan catatan tentang keberadaan ramalan tersebut dan protes Cut Nyak Dhien (Reid, 2005 : 297 catatan kaki no.64)
Sumber lokal (Anonim, 1995 : 74) yang dikutip www.acehprov.go.id juga “mencurigai” motif Teuku Umar, dikatakan “sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit dimengerti bai oleh lawan maupun oleh kawannya.
Benarkah Teuku Umar hanya “pura-pura” menyerah? Atau sebenarnya itu adalah cerminan jiwa oportunis? Atau ingin menjadi Sultan Aceh dengan bantuan Belanda?
Anthony Reid dalam bukunya menuduh Umar sebagai “oportunis brilian yang memilih saat-saat seperti ini untuk berpihak kepada Belanda.” Reid mendiskripsikan perilaku Umar tersebut pada peristiwa S.S Nisero. Lebih jauh Reid juga memberi catatan “Teuku Umar adalah sebuah contoh klasik dari seorang petualang berbakat yang melihat perang sebagai sebuah peluang besar” (Reid, 2005 : catatan kaki bab 7 no.65).
Dengan spd motor saya hanya menderu di jalanan Banda Aceh yang sedang bersolek menyambut “Visit Banda Aceh 2011”. Saat melintasi jalan Taman Makam Pahlawan mata saya kembali melihat baliho besar yang menampilkan enam sosok pahlawan nasional asal Aceh, mereka adalah Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Tengku Chik Ditiro, Panglima Polem, Teuku Nyak Arif dan Teuku Umar.
Baliho itu sebenarnya sudah lama dipasang, sejak Nopember lalu saat Indonesia memperingati hari Pahlawan. Yang mencolok adalah wajah tirus Teuku Umar dengan peci miringnya, ia dicetak paling atas dengan ukuran paling besar. Ini wajar karena Teuku Umar pahlawan yang sungguh komplit, pakai “pura-pura” menyerah segala untuk mendapatkan senjata dan mempelajari strategi musuh. Justru itulah yang mengusik pikiran saya.
Benarkah “menyerahnya” Teuku Umar merupakan strategi perjuangannya? Atau jangan jangan…
Tanggal 8 April 1873 di lepas pantai Ceureumen Banda Aceh, kapal perang Belanda, Citadel van Antwerpen buang sauh. Lalu tanggal 11 April 1873 dengan penuh percaya diri pasukan Belanda yang terdiri dari 3.198 pasukan termasuk 168 perwira KNIL, didukung oleh kurang lebih 1000 kuli, diturunkan dari kapal untuk menggempur kedudukan pejuang Aceh (Kawilarang, 2008 : 60).
Bagi bangsa Aceh tidak ada kata lain : lawan. Dokumen Belanda sendiri menyebutkan bahwa Aceh bukan petarung sembarangan. Berbeda dengan suku bangsa lain di Indonesia, Aceh menerapkan taktik jitu, termasuk memasang sniper di ketinggingan bangunan.
Malang bagi Belanda karena sang panglima, Jenderal JHR Kohler, tewas pada 14 April 1873 terkena bidikan senapan mauser yang beberapa tahun sebelumnya diimpor dari Penang. Penggantinya, Kolonel van Daalen gagal mengangkat moral pasukan sehingga memaksanya mundur pada 25 April 1873.
Berita perang dan kekalahan Belanda diulas di London Time (edisi 22 April 1873) dan The New York Time (edisi 15 Mei 1873). Batavia tersentak.
Tetapi orang Aceh juga tahu bahwa Belanda bukan kolonialis sembarangan. Artinya Aceh tetap butuh bantuan. Tetapi siapa yang bisa membantu? Inggris, Perancis atau Amerika?
Tidak! Sesama kolonial tidak akan saling menghancurkan. Satu-satunya jalan adalah meminta perlindungan pada pusat kekuasaan islam, khilafah Turki Utsmaniah. Sultan Aceh (Mahmud) bersegera memerintahkan diplomatnya Habib Abdul Rahman Az-Zahir – yang waktu itu di Mekah (saat itu Arabia adalah propinsi Turki) — menuju Istambul. Pada tanggal 27 April 1873 Habib tiba di Istambul (Reid, 2005 : 129).
Belanda sempat gemetar tatkala tersiar kabar bahwa kapal perang Turki “Ertogrul” beserta beberapa kapal pendamping bergerak cepat menuju Aceh. Tetapi kabar itu ternyata bohong. Turki abad-19 berbeda dengan Turki Abad-15. Turki abad-19 adalah imperium yang tengah menggali liang kubur dalam-dalam. Misi Habib gagal total.
Dari Istambul ia mendengar kabar bahwa Kutaraja (Banda Aceh) telah jatuh ketangan Belanda, sedangkan Sultan dan para pejuang mengungsi ke Indrapuri kemudian Keumala.
Saat Citadel menembakan meriam pertamanya, Teuku Umar baru menginjak 19 tahun (lahir 1854 di Meulaboh, Wikipedia). Seperti layaknya orang Aceh, Umar muda juga terimbas gejolak perang. Waktu itu sebagai Keuchik (Kepala Gampong) ia adalah pemimpin perlawanan di Kampungnya. Ia dikenal cerdas dan pandai mempengaruhi orang. Umarpun menyaksikan bahwa perang itu telah berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda selesai. Satu hal yang pasti perang menimbulkan penderitaan.
Tetapi perangpun di mata Umar pada akhirnya membuka peluang. Setidaknya ia melihat banyak ulee balang (bangsawan, penguasa daerah) yang telah berdamai dengan Belanda mendapatkan perlindungan dan keuntungan finansial, berupa gaji dan izin untuk berdagang.
Pada tahun-tahun tersebut Aceh terkenal dengan perdagangan lada. Komuditas ekonomi ini yang menjadikan kaum ulee balang menangguk keuntungan. Berbeda dengan kaum ulama dan santri yang menganjurkan perang total tanpa kompromi demi kehormatan, kaum ulee balang dan serdadunya tidak senantiasa demikian. Baginya kehormatan perlu, tetapi uang juga penting.
Setelah bermain kucing-kucingan dengan Belanda, pada akhirnya, Teuku Umar beserta pasukannya berdamai dengan Belanda tahun 1883 (Rusdi Sufi, 1994 : 88) dan menyerah secara resmi pada Maret 1984 (Reid, 2005 : 256). Hal ini menimbulkan kemarahan besar dari pejuang Aceh.
Penyerahan tersebut sangat menyakinkan karena Teuku Umar akhirnya ikut aktif bertempur untuk Belanda. Anthony Reid dalam bukunya menuduh Umar sebagai “oportunis brilian yang memilih saat-saat seperti ini untuk berpihak kepada Belanda.” Reid mendiskripsikan perilaku Umar tersebut pada peristiwa S.S Nisero. Lebih jauh Reid juga memberi catatan “Teuku Umar adalah sebuah contoh klasik dari seorang petualang berbakat yang melihat perang sebagai sebuah peluang besar” (Reid, 2005 : catatan kaki bab 7 no.65).
Saat perang Aceh memasuki masa yang rumit, pada 8 Nopember 1883 kapal dagang Inggris S.S Nisero berisi 29 ABK kandas di dekat Panga (40 mil di utara Meulaboh) dan disandera oleh penguasa Teunom, Teuku Imam. Upaya Belanda untuk membebaskan sandera tidak mudah sehingga menimbulkan perselisihan di Amsterdam dan London. Belanda tahu bahwa Teuku Imam dari Teunom ini adalah musuh bebuyutan Teuku Umar.
Akhirnya Umar yang telah menyerah dipilih untuk menjadi pimpinan pasukan komando membebaskan sandera. Pada tanggal 3 Juli 1884 pasukan komando itu bergerak menuju Rigas (dekat Teunom) dengan membawa senjata, amunisi dan uang tebusan.
Di perjalanan rupanya Teuku Umar dan pasukannya mendapat perlakuan diskriminatif dari kapten dan awak kapal perang Belanda. Umar dan pasukannya disuruh tidur digeladak dan dilarang mondar-mandir. Sebagai orang Aceh yang menjunjung kehormatan, Umar tersinggung. Pada saat kapal mendarat di Rigas maka Umar dan anak buahnya membunuh seluruh awak kapal belanda dan membawa lari senjata, amunisi dan uang. Hal ini membawa kemarahan Belanda. Sejak itu Umar dan Belanda pecah kongsi. Tetapi perlu diingat ini bukan yang terakhir Umar menyerah lalu pecah kongsi dengan Belanda.
Setidaknya Kawilarang mencatat bahwa tahun 1885 Teuku Umar ditengarai kembali berdamai dengan Belanda. Mungkin saja Umar telah berhasil menjelaskan tragedi pasukan komando S.S Nisero, bahwa ia terpaksa membunuh karena dilecehkan, sehingga akhirnya ia diterima kembali oleh Belanda. Menyerahnya Umar tahun 1885 ini perlu diklarifikasi ulang, karena Kawilarang tidak secara tegas menyertakan sumbernya. Justru Kawilarang melakukan kesalahan pengutipan “mendengar ayahnya berkhianat Cut Gambang – anak Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien – menangis tersedu.
Sang Ibu (Cut Nyak Dhien) langsung menghardik : Seorang perempuan Aceh tidak pernah menangis kepada siapapun yang syahid” (Kawilarang, 2008 : 129). Setahu saya hardikan Cut Nyak Dhien ini dilakukan saat Teuku Umar tewas tahun 1899, bukan pengkhianatan 1885.
Hal yang paling mungkin adalah bahwa sejak peristiwa pasukan komando S.S Nisero, Teuku Umar menerapkan strategi “dua muka” untuk meraih keuntungan pribadi. Ini masuk akal karena Umar mempunyai naluri bisnis yang kuat, “di beberapa daerah daerah ia (Teuku Umar) mempersatukan ekspor lada yang menguntungkan itu dalam satu tangan, yakni tangannya sendiri; di daerah lain ia memungut hasil sebesar $0,25 per pikul, di atas kertas atas nama Sultan. Kekayaan ini dengan murah hati ia bagi-bagikan kepada para pengikutnya, dan juga kepada istana dan kaum ulama di Keumala” (Reid, 2005 : 282). Reid juga menjelaskan bahwa kapal Hok Kanton membuang sauh di Rigas pada 14 Juni 1886 “untuk berdagang seperti biasa dengan Teuku Umar”.
Dari penjelasan Reid setidaknya kita tahu bahwa Umar terbiasa berdagang di pantai Barat Aceh. Padahal Belanda menerapkan blokade yang cukup ketat atas perdagangan. Hanya orang-orang yang pro Belanda – atau setidaknya yang bermain mata – yang bisa berdagang bebas seperti itu. Itulah kecerdikan Teuku Umar.
Disunting kembali oleh Atl Lisan
Sejak 1891 perang Aceh memasuki babak baru, ditandai dengan peran Snouck Hoergronye, yang terkenal dengan rekomendasinya: agar dilakukan pengejaran tidak kenal ampun terhadap pejuang Aceh. Untuk itulah pasukan khusus marsose dibentuk. Hasilnya jelas, pejuang Aceh mengalami tekanan hebat.
Snouck dengan jeli juga menyimpulkan bahwa kekuatan utama perang Aceh ada pada ulama, bukan Sultan, bukan pula kaum ulee balang. Belanda mencoba mengadu domba antara golongan ulama dan ulee balang.
-50AHasilnya segera nampak, Aceh pecah. Harry Kawilarang, dengan merangkum berbagai sumber menjelaskan : “Pada tahun 1891, Aceh berduka karena Teungku Chik Di Tiro wafat (diracun oleh anak buah sendiri-Pen)…Serangan gerilya oleh pasukan aceh berkurang.
Aceh mengalami krisis kepemimpinan. Habib Samalanga yang memperoleh wewenang dari Sultan gagal menggalang kekuatan. Begitu juga usaha Chik Kutakarang atau Mat Amin, putra Teungku Chik Ditiro. Semua dikalahkan oleh pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil hingga timbul perpecahan” (Kawilarang, 2008 : 119).
Siapakah pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil itu? Tidak lain ulee balang yang bersedia kompromi dengan Belanda.
Dalam situasi seperti ini Teuku Umar pada akhirnya kembali menyerah pada Belanda pada September 1893 beserta 13 orang panglima bawahan dan 250 pasukannya. Buku sejarah kita menyebutkan bahwa penyerahan ini hanya “pura-pura” untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat Belanda.
Setelah melakukan tugas-tugas penumpasan perlawanan Aceh dan melakukan sumpah setia pada tanggal 1 Januari 1894 Teuku Umar memperoleh gelar Tuanku Johan Pahlawan, dengan jabatan Panglima Besar Nedherland. Rumahnya di Lampisang juga diperindah oleh Belanda. Sejak itu pakaian yang dikenakan adalah pakaian seorang Jenderal dengan beberapa buah bintang emas didadanya (www.acehprov.go.id/T.umar mengutip Hazil, 1955:97).
Cut Nyak Dhien sangat marah terhadap Teuku Umar sebab ia tidak setuju dengan sikap suaminya yang nampak hanya mementingkan diri sendiri, yang hanya mengejar kemewahan dan kedudukan dengan mengorbankan kepentingan bangsa (www.acehprov.go.id/T.Umar). Paul van T. Veer dalam buku Perang Aceh penerbit Grafitti Press, menceritakan bahwa Umar mampu berkomunikasi dan menyerap informasi dalam bahasa Belanda dan Inggris, hidup dengan gaya seorang Baron Eropa. Lebih jauh Paul van T.Veer juga mengatakan bahwa Umar pernah bercita-cita menjadi Sultan Aceh, ketika ia mendapatkan kepercayaan penuh dari Belanda.
Hal ini membuktikan bahwa Umar punya ambisi politik. Melihat situasi saat itu, hanya Belandalah yang mampu mewujudkan ambisi tersebut. Hal ini penting untuk diketahui, untuk menelaah lebih lanjut motif Umar sebenarnya.
Benarkah Teuku Umar hanya “pura-pura” menyerah? Atau sebenarnya itu adalah cerminan jiwa oportunis? Atau ingin menjadi Sultan Aceh dengan bantuan Belanda? Tidak ada kepastian, yang jelas sumber sejarah resmi kita dari SD sampai perguruan tinggi meyakini bahwa Umar hanya “pura-pura” menyerah untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat Belanda.
Tetapi segera timbul pertanyaan? Apakah Belanda sebodoh itu dengan bisa ditipu Teuku Umar berkali-kali? Atau mengapa Cut Nyak Dhien sendiri begitu kecewa dengan menyerahnya Teuku Umar? Sumber lokal (Anonim, 1995 : 74) yang dikutip www.acehprov.go.id juga “mencurigai” motif Teuku Umar, dikatakan “sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya. Dalam perjuangannya ia mempunyai cara tersendiri yang sering kali sulit dipahami. Oleh karena itu, ia dianggap oleh teman-teman seperjuangannya sebagai tokoh yang kontroversial.”
Setelah memperoleh jabatan Jenderal, Umar diberi senjata dan uang untuk membersihkan musuh-musuh Belanda di bagian wilayah XXV Mukim dan XXVI Mukim. Umar sukses, sebagian memang bukan karena kemampuan bertempur tetapi lebih karena kemampuan diplomasi.
Umar membentuk persekutuan dengan Teungku Kutakarang, guru agama terkemuka XXV Mukim. Umar dan Kutakarang sangat menentang kelompok-kelompok gerilya pimpinan putra-putra Tengku Chik Ditiro yang berusaha menegakkan hak sabil (Pajak perang) di XXV Mukim, yang merugikan Teungku Kutakarang. Teungku inilah yang menyebarkan fatwa bahwa melawan Teuku Umar tidak dapat dianggap sebagai perang suci.
Dukungan fatwa inilah kiranya yang menyebabkan pasukan Aceh setengah hati melawan Umar, sehingga Umar berhasil menaklukan sebelas benteng/pos pasukan Aceh untuk Belanda (Reid, 2005 : 296-297). Melihat prestasi tersebut Deijkerhoff — Gubernur Sipil dan Militer Aceh periode 1892-1896—memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada Umar.
Hal tersebut memicu rasa iri dari tokoh Aceh yang terlebih dahulu menyerah, seperti Panglima Muhammad Tibang dan Teuku Nek Meuraxa. Namun ada perkembangan situasi di lapangan, pada November 1895 Teungku Kutakarang meninggal dunia, ini adalah pukulan berat bagi Teuku Umar, karena sejak itu para ulama di XXV Mukim mulai berani memprotes cara-cara Umar.
Pada suatu hari Umar mengajukan proposal untuk menaklukkan benteng Lam Krak, benteng yang dipertahankan oleh pejuang perempuan Aceh. Proposal disetujui, dan Teuku Umar beserta pasukannya mendapatkan perlengkapan berupa 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg peledak dan uang tunai 18.000 dollar.
Tetapi rupanya pihak Aceh telah menyebarkan perang urat syaraf berupa ramalan, bahwa Umar akan tewas saat penyerbuan ke benteng perempuan. Saya bisa memahami jika Umar terkejut bukan main, terkait dengan hubungan proposal dan ramalan itu.
Dari mana orang aceh tahu tentang proposal Lamk Krak itu? Umar yang seorang muslim dan kuyup tradisi Aceh tentu percaya akan ramalan tersebut, apalagi konon ramalan tersebut datang dari ulama besar.
Umar tentu berpikir keras dan menyimpulkan, amatlah celaka jika ia sebagai muslim mati saat membela Belanda (kafir). Keislaman Umarpun bangkit, apalagi protes dari Cut Nyak Dhien semakin tak tertahankan.
Akhirnya Teuku Umar membangkang dari Belanda dan berbalik ke kaum muslimin Aceh pada tanggal 30 Maret 1896. Aceh bersorak, Belanda meradang. Sejak itu prestasi tempur Teuku Umar sungguh mengagumkan. Anthony Reid sendiri mencatat bahwa sejak itu perlawanan Aceh berada dalam satu komando, yakni Teuku Umar.
Penulis mendapati kisah tentang ramalan ini berdasarkan TRADISI LISAN yang dimuat dalam komik Aceh. Penulis tambah yakin tentang cerita komik itu saat Anthony Reid sendiri juga memberikan catatan tentang keberadaan ramalan tersebut dan protes Cut Nyak Dhien (Reid, 2005 : 297 catatan kaki no.64).
Motif inilah yang tidak diungkap dalam sejarah kita. Padahal hal ini penting untuk mengungkap karakter pahlawan kita ini.
Pada titik ini penulis menyimpulkan bahwa Teuku Umar sebelum membangkang dari Belanda telah mengalami proses psikologis yang berliku, dimulai dari meninggalnya Teungku Kutakarang (guru sekaligus pelindungnya), kritikan dari istrinya (Cut Nyak Dhien) yang bertubi-tubi, dan ketakutan akan kebenaran ramalan yang bermuara pada bangkitnya rasa keislaman.
Apapun motif dan ambisi Teuku Umar, Penulis tetap menghargai perannya. Disaat tokoh lain di seluruh Nusantara selalu dikibuli Belanda, Umarlah satu-satunya yang mampu menipu Belanda, bukan sekali, tetapi beberapa kali. Disinilah letak kehebatan pahlawan kita. Selebihnya wallahualam.
EPILOG :
Diplomat Aceh, Habib Abdur Rahman Az-Zahir, setelah gagal meyakinkan Turki Utsmaniah akhirnya kembali ke Aceh dan memimpin perlawanan, namun gagal, putus asa dan menyerah pada Belanda tanggal 13 Oktober 1878, sebagai imbalannya Belanda mengangkutnya ke Jeddah dan memberinya uang pensiun sebesar $1.000 per bulan.
Pemimpin Teunom, Teuku Imam akhirnya memperoleh uang tebusan $10.000 dalam kasus S.S Nissero, dan sejak itu menjadi kaki tangan setia Belanda.
Sejak pembangkangannya tanggal 30 Maret 1896, Belanda memutuskan Teuku Umar tidak bisa dipercaya lagi. Perang sengit terjadi sampai akhirnya Umar terbunuh oleh penyergapan pasukan marsose pada 11 Februari 1899.
Snouck Horgronye akhirnya menjadi muslim sejati, setidaknya ia pernah dua kali menikah secara islam dengan mojang Sunda.
Dr.P.S. Koningsvled (wawancara Kompas 6 Februari 1983, saya mengutipnya dari Seri Buku Tempo, 2011) menuturkan bahwa keluarga Kalifah Apo – mertua Snouck – yakin benar dengan keislaman Snouck secara lahir batin.
Koningsvled juga sempat bertemu dengan Raden Yusuf – anak Snouck dari perkawinan dengan Siti Saidah – yang menuturkan bahwa ibunya yakin dengan mutlak bahwa Snouck telah menjadi muslim sejati. Snouck disebut rajin sembahyang, puasa dan telah disunat.
Apakah kebetulan jika jumlah senjata GAM yang diserahkan kepada AMN yang mengakhiri konflik dengan TNI ternyata sama dengan jumlah senjata Teuku Umar saat membelot dari Belanda (880 pucuk).
sumber : KOMPAS -
M. Rizal - detikNews
Jakarta - Pagi masih sangat muda, semuda Republik Indonesia. Saat itu RI baru berusia 2 tahunan. Namun sepagi itu, Yogyakarta sudah diberondong bom. Saat itu, 19 Desember 1948, jam baru menunjuk pukul 05.30 WIB, tapi langit ibukota Indonesia itu sudah dipenuhi pesawat-pesawat pembom Belanda.
Pesawat-pesawat itu menyerang lapangan terbang Maguwo. Setelah 1 jam membombardir bom, pesawat menurunkan pasukan payung mereka untuk menduduki Maguwo dan menyerbu Yogya.
Serangan Belanda yang tiba-tiba membuat Kepresiden sangat mencekam. Di antara raungan pesawat dan dentuman bom, kabinet segera menggelar rapat darurat. Hadir Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohamad Hatta, Menteri Negara Sultan Hamenku Buwono, Menlu Agus Salim, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo, Menteri Pekerjaan Umum Ir Laoh dan Kepala Sekretaris Presiden A G Pringgodigdo.
Rapat memutuskan pembentukan Pemerintahan Darurat RI (PDRI) yang dikepalai Sjafruddin Prawiranegara. Keputusan ini untuk mengantisipasi pendudukan Belanda.
Sjafruddin sendiri tengah berada di Sumatera. Sebulan sebelumnya, sebagai menteri kemakmuran, ia ditugaskan Bung Hatta untuk membenahi kesejahteraan rakyat di Sumatera Tengah.
Pembentukan PDRI disertai dengan ketegasan selama pemerintah RI tidak bisa menjalankan fungsi dan tugasnya karena tertawan oleh Belanda maka pemerintah daruratlah yang harus meneruskannya.
Menteri Perhubungan Ir Djuanda ditugaskan untuk segera menyampaikan keputusan itu kepada Sjafruddin dengan telegram. Namun kabar ini tidak pernah sampai pada Sjafruddin.
Hari itu pula, dengan cepat Yogya bisa dikuasai Belanda. Sore hari setelah menguasai Kepresiden, Belanda pun menawan Soekarno, Hatta dan sejumlah menteri. Tiga hari setelah ditahan, pada 22 Desember, mereka dibuang ke Pulau Bangka.
Pada hari yang sama dini hari, sekitar pukul 03.40 WIB, Sjafruddin mengumumkan berdirinya PDRI. Pengumuman dilakukan pagi buta di tengah perkebunan teh Halabang, Sumatera.
Dalam pengumuman itu, Sjafrudin menyebut dirinya sebagai ketua PDRI merangkap menteri pertahanan, menteri penerangan dan menteri luar negeri adinterim.
Kemudian Wakil Ketua Teuku Mohamad Hassan merangkap menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama. Letnan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) , Komisaris Besar Polisi Umar Said sebagai Kepala Jawatan Kepolisian Negara.
Sebelum pengumuman itu, terjadi perdebatan soal jabatan Sjafruddin. Pertemuan itu antara lain dihadiri Koordinator Kemakmuran untuk Sumatera Abdul Latief, Koordinator Perhubungan untuk Sumatera Indracahya, Komisaris Negara urusan Keuangan Lukman Hakim, Direktur BNI Abdul Karim, Komisaris Besar Polisi Umar Said, Komodor Udara Suyono.
Para tokoh yang hadir menginginkan Sjafruddin disebut sebagai presiden PDRI, tapi pria kelahiran Banten itu menolaknya karena untuk menghindarkan kemungkinan dugaan makar. Maklum mandat dari Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI tidak pernah sampai kepada Sjafruddin.
Setelah disepakati jabatan Sjafrudin sebagai ketua, pembentukan PDRI dan kabinet diumumkan dengan dipancarluaskan langsung oleh stasiun radio darurat RPDRI yang dikawal anak buah Komodor Udara Suyono.
Dua hari setelah mendeklarasikan PDRI, 24 Desember 1948, Sjafruddin berpidato di radio AURI memberitahukan bangsa Indonesia tidak akan menyerah meskipun Soekarno dan Hatta sudah ditahan Belanda.
“Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin tertinggi kita, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung pada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah Tumbuh hilang berganti,” kata Sjafruddin.
Kepada seluruh angkatan perang negara RI, Sjafruddin menyerukan perlawanan habis-habisan kepada Belanda. “Kami serukan bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata atau menghentikan tembak menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin,” tegas Sjafruddin.
Setelah pidato pertama lewat radio itu, Syafruddin dan kabinetnya harus mengungsi lagi. Mereka harus mengungsi lagi agar tidak tertangkap karena Belanda bisa mengecek gelombang radio untuk menemukan keberadaan mereka. Menjelang subuh, rombongan berkumpul di depan rumah kediaman Sjafrudin. Mereka akan menuju Pekanbaru.
Rombongan yang terdiri sekitar 20 orang harus menembus rimba belantara, yang tentu saat itu masih banyak dihuni binatang buas. Tidak hanya terancam terkaman binatang buas, rombongan juga harus menyelamatkan diri dari berondongan bom.
Selain itu juga medan yang sulit juga membahayakan keselamatan mereka. Pernah suatu ketika, jep yang ditumpangi Sjafruddin terbalik karena kondisi jalan sangat buruk dan penuh lumpur. Kacamata Sjafruddin pecah dan tubuhnya terbalut lumpur. Untung ia tidak apa-apa.
Sjafruddin memimpin PDRI selama 6 bulan atau 207 hari. Karena dipimpin dari dalam hutan, oleh Belanda PDRI sering diplesetkan sebagai Pemerintah Dari Rimba RI. Perang terhadap Belanda tidak saja dilakukan secara fisik, perang juga dilakukan lewat radio dan diplomasi. Setiap mengungsi peralatan radio yang berfungsi mengumumkan kebijakan dan pidato Sjafruddin turut serta.
Melalui siaran Radio Sumba Raya dan Radio Angkatan Udara saat itu, Sjafruddin mengatakan pemerintahan RI masih ada. Karena Belanda mengatakan RI sudah jatuh, dibalas Sjafruddin RI tidak jatuh.
“Belanda balas kalau tidak jatuh kenapa pemerintahan ada di hutan. Dijawab Safruddin, walau pemerintahan ada di hutan tapi masih berada di dalam negeri sendiri," terang Najamudin Busro, kerabat Sjafruddin yang kini menjadi ahli sejarah Banten.
PDRI juga memimpin diplomasi di luar negeri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sjafrudin sebagai Ketua PDRI menunjuk AA Maramis yang sudah ada di luar negeri sebelum agresi militer Belanda menjadi Menteri Luar Negeri dalam pengasingan. Bersama-sama dengan Dr Sudarsono sebagai wakil RI di India, mereka memperjuangkan NKRI lewat konferensi di New Delhi.
“Hal itu menguntungkan sekali karena kedua pejabat itu bisa memberi keterangan selengkap-lengkapnya, kepada Nehru tentang keadaan Indonesia,” tulis Ali Sastro Amidjojo dalam bukunya 'Tonggak-Tonggak di Perjalananku'.
Resolusi konferensi New Delhi meminta Dewan Keamanan PBB supaya membebaskan semua anggota pemerintah Indonesia Selain itu juga, meminta Belanda segera menarik pasukannya dari Yogyakarta dan mengembalikan Yogya yang didudukinya kepada RI.
Berkat konferensi New Delhi, dunia internasional menekan Belanda. Akhirnya pada 7 Mei 1949, Belanda terpaksa menandatangani Perjanjian Roem-Van Royen. Inti perjanjian yakni menyetujui penarikan mundur pasukan Belanda dari Yogya.
Soekarno dan Hatta yang ditahan di Bangka dibebaskan dan kembali ke Yogya pada 6 Juli. Sementara Sjafrudin, kembali ke Yogya pada 13 Juli 1949 dan langsung menyerahkan mandatnya kepada Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta.
***
Meski memiliki jasa sangat besar, Sjafruddin merupakan orang yang rendah hati. Ia tidak pernah merasa tindakannya memimpin PDRI merupakan hal yang luar biasa.
"Saya ini seorang manusia biasa. I'm only doing my job. Apa yang dilakukan di PDRI itu sesuatu yang biasa-biasa saja," kata Sjafruddin seperti diungkap putranya, Farid Prawiranegara saat memperingati 100 Tahun Sjafruddin Prawiranegara, pada 28 Februari 2011.
Sjafruddin meninggal pada 15 Februari 1989 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Sebelum meninggal, ia pernah dijebloskan ke penjara oleh Presiden Soekarno dengan tudingan melakukan pemberontakan PRRI. Ia juga menjadi musuh Presiden Soeharto karena terus bersikap kritis.
Pada 8 November 2011, setelah perdebatan panjang soal cap pemberontak pada Sjafruddin terkait PRRI, akhirnya pria luar biasa ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
DETIK
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)
