Tampilkan postingan dengan label Propesionalisme TNI. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Propesionalisme TNI. Tampilkan semua postingan
  • Satgas Indonesian Batalion (Indobatt) TNI Kontingen Garuda XXIIIF/ UNIFIL(United Nations Interim Force In Lebanon) dalam waktu dekat akan mendapatkan area operasi baru di Lebanon Selatan, menggantikan salah satu pos dari Batalion Spanyol.

    PBB Perluas Wilayah Operasi TNI
     
    Penambahan ini membuat luas wilayah operasi Indobatt bertambah 40 kilometer persegi menjadi 160 kilometer persegi. Menurut Perwira Penerangan Satgas Konga XXIIIF/ UNIFIL Lettu Inf Suwandi, kepastian ini menyusul turunnya perintah dari Komandan Sektor Timur UNIFIL Brigadir Jenderal Manuel Romero Carril untuk mengisi pos baru.

    Menindaklanjuti perintah itu, pada Kamis (6/9) tim dari Indobatt yang dipimpin oleh Kepala Staf Umum Satgas Mayor Mar Agustinus Purba melakukan peninjauan ke lapangan. Rencana area yang diserahterimakan ke Satgas Indobatt seluas 40 kilometer persegi dengan satu buah compound atau markas UN POsn 9- 15,di Kafer Killa,yang menampung satu kompi.


    Dalam area tersebut, terdapat blue line garis perbatasan Lebanon-Israel sepanjang 5 kilometer.“Ini menyambung dengan blue line yang menjadi area tanggung jawab Indobatt sebelumnya sepanjang 4,7 kilometer,” katanya melalui surat elektronik, kemarin.

    Dalam surat itu disebutkan, Komandan Satgas Indobatt Letkol Inf Suharto Sudarsono yang didampingi Wadansatgas Letkol Mar FJH Pardosi,seusai menerima laporan hasil peninjauan, mengatakan bahwa rencana perluasan AOR (Area of Responsibility) Indobatt ini merupakan suatu kepercayaan UNIFIL atas kinerja yang selama ini ditunjukkan oleh seluruh personel Indobatt.

    “Kepercayaan ini sekaligus merupakan tantangan bagi personel Indobatt untuk lebih meningkatkan profesionalitasnya dalam melaksanakan tugas di lapangan, sehingga kepercayaan ini dapat dipertanggung jawabkan,” jelasnya.

    Penyerahan AOR baru kepada Satgas Indobatt akan dilaksanakan Oktober 2012 mendatang. Dengan penambahan area operasi baru ini, Indobatt akan memiliki luas wilayah operasi keseluruhan 160 kilometer persegi dari luas sebelumnya 120 kilometer persegi.



    Sumber : Sindo
  • Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksda TNI S.M. Darojatim membuka Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012 dalam suatu upacara militer bertempat di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (03/09).

    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim membuka Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012
    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim membuka Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012


    Panglima Kolinlamil dalam amanatnya mengatakan Latihan SAR dan Sea Survival yang akan dilaksanakan ini merupakan salah satu kegiatan pembinaan kemampuan prajurit untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan unsur, khususnya dalam melaksanakan SAR dan Sea Survival dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok Kolinlamil.

    Latihan merupakan salah satu kebutuhan satuan operasi, dengan latihan SAR diharapkan para peserta latihan dapat memahami prosedur dan mampu melaksanakan pencarian serta pertolongan terhadap korban kecelakaan di laut. Sedangkan dengan latihan Sea Survival, para peserta latihan diharapkan  akan mampu untuk mempertahankan diri dalam menghadapi situasi yang tidak diinginkan berupa kecelakaan yang sewaktu-waktu dapat terjadi di laut, tambahnya.


    Sementara itu, Asops Pangkolinlamil Kolonel Laut (P) Abdul Rasyid Kacong, S.E., selaku Papelat dalam laporannya menjelaskan Latihan dengan tema “Melalui Latihan SAR dan Sea Survival Tahun 2012, Kolinlamil siap meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan unsur dalam rangka menunjang tugas pokok TNI dalam OMSP” ini, dilaksanakan mulai hari ini hingga tanggal 20 September yang diawali dengan kegiatan teori secara klasikal dan latihan kering, dilanjutkan dengan pelaksanaan latihan di laut Jawa, perairan Kepulauan Seribu dan Pantai Banongan.

    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim memeriksa Peralatan Latihan SAR dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012
    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim memeriksa Peralatan Latihan SAR dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012

    Latihan SAR dan Sea Survival Tahun 2012 diikuti oleh 775 orang  terdiri dari pelaku 700 orang, pelatih dan pendukung 75 orang dengan menggunakan KRI Teluk Hading-537, KRI Teluk Parigi-539 serta alat bantu peraga dari Basarnas. Selaku Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) adalah Kolonel Laut (P) Tri Satrya Wijaya yang sehari-harinya sebagai  Komandan Satuan Lintas Laut Militer (Dansatlinlamil) Jakarta, yang  bertanggung jawab atas pelaksanaan latihan dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok Kolinlamil.

    Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Staf Koarmabar (Kasarmabar) Laksma TNI Muhammad Atok Urrahman, Kaskolinlamil Laksma TNI I.N.G.N. Ary Atmaja, S.E., para Asisten Pangkolinlamil, para Kadis Kolinlamil, Dansatlinlamil Jakarta, perwakilan dari Satpaskaarmabar, BNPB serta Basarnas. Bertindak selaku Komandan upacara dalam kegiatan kali ini Letkol Laut (T) Deddy Coredikris Lau yang sehari-hari sebagai Kasubdisren di Dinas Pemeliharaan Kapal (Disharkap) Kolinlamil.   



    Pembekalan Teori Evakuasi Medis
    Pelaku Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012 mendapat pembekalan teori dasar pertolongan evakuasi medis kepada korban kapal tenggelam/kecelakaan di laut,dari perwira  Dinas Kesehatan (Diskes) Komando Lintas Laut  Militer (Kolinlamil)  bertempat di Gedung Laut Natuna Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (04/09).
    Pembekalan Teori Evakuasi Medis - Latihan SAR dan Survival TNI AL
    Pembekalan Teori Evakuasi Medis - Latihan SAR dan Survival TNI AL

    Latihan kering pertolongan evakuasi medis yang disampaikan oleh perwira Diskes Kolinlamil ini merupakan pelajaran teori yang dimaksudkan sebagai bekal bagi prajurit yang berdinas di kapal perang dalam menangani terjadinya korban kecelakaan di laut. Ini merupakan salah satu rangkaian pembekalan kepada para peserta latihan SAR dan Sea Survival yang dipimpin Dansatgas Kolonel Laut (P) Tri Satrya Wijaya.

    Dalam latihan ini tim dari Diskes Kolinlamil yang terdiri dari tiga perwira dan enam personel bintara tamtama yang dipimpin Mayor Laut (K/W) Jamilah mewakili Kadiskes Kolinlamil Letkol Laut (K) drg. Ridwan Purwanto, MARS, menjelaskan kepada prajurit kapal perang yang tergabung dalam serial latihan kering SAR dan Sea Survival.

    Menurut Tim pengajar, Latihan SAR dan Sea Survival di laut pada hakekatnya merupakan suatu kebutuhan personel yang berdinas di kapal perang. Diharapkan dengan adanya latihan ini, sumber daya manusia khususnya prajurit TNI AL yang berdinas di kapal perang dapat meningkatkan kemampuan dalam menghadapi permasalahan yang terjadi khususnya di laut, sehingga mampu bertindak untuk memberikan bantuan pertolongan apabila terjadi kecelakaan di laut.

    Materi yang disampaikan pada pembekalan  ini meliputi keterampilan berenang tanpa alat, protap pertolongan korban diantaranya teknis pengangkatan korban secara perorangan maupun berpasangan, dan juga secara tim. Pertolongan permukaan air, pertolongan dalam air, pengenalan peralatan penyelamatan di laut, penggunaan isyarat, pencarian dan pertolongan, pengetahuan tentang kesehatan penyelam, renang dengan peralatan, teknik terjun ke laut, teknik menarik korban di permukaan, teknik penyelaman, pengetahuan tentang P3K, pengetahuan tentang keadaan darurat, maupun membaca tabel dekompresi, membuat perencanaan penyelaman.



    Prajurit KRI Tingkatkan Kemapuan SAR dan Sea Survival
    Pada hari ketiga latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) tahun 2012, para pelaku latihan  diberikan pembekalan  materi dayung yang dilaksanakan di dermaga Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu(05/09).
    Prajurit Latih Kemampuan SAR dan Sea Surviva
    Prajurit Latih Kemampuan SAR dan Sea Surviva


    Materi dayung yang berupa teori dan praktek lapangan ini disampaikan oleh Mayor Laut (P) Indra, yang sehari-harinya menjabat sebagai  Kadepsenbah KRI Tanjung  Nusanive-973 dan Kelasi Sandy sebagai instruktur yang merupakan  atlet dayung Kolinlamil.  Materi latihan ini  disampaikan dengan tujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan personel KRI untuk melaksanakan SAR dan Sea Survival di laut.

    Menurut Mayor Indra, latihan  yang dilaksanakan ini  masih merupakan rangkaian pelajaran dalam pelaksanaan latihan kering,teori dan praktek di laut sebelum pelaksanaan di medan latihan yang sebenarnya.

    Dalam latihan ini digunakan dua perahu karet dan sejumlah pelaku latihan SAR dan Sea Survival dari KRI Tanjung Kambani-971 serta dari KRI  Tanjung Nusanive-973.

    Masih dalam rangkaian kegiatan tersebut juga diadakan serial latihan pemadam kebakaran (PMK) yang dilaksanakan personel Denmako Kolinlamil  dipimpin langsung oleh Mayor Laut (P) Budiadi Perwira Staf Operasi (Pasops) Detasemen Markas Komando (Denmako) Kolinlamil,  sebagai upaya  meningkatkan kesiapsiagaan personel Kolinlamil sebagai unsur pertahanan pangkalan.

    Kegiatan ini dilaksanakan di lapangan apel dan  di dermaga, diikuti oleh segenap prajurit Denmako yang tergabung dalam tim PMK dari Bintara, Tamtama, serta PNS  Kolinlamil.      



    Pendalaman Materi Cara Bertahan Dilaut
    Prajurit KRI di jajaran Kolinlamil sebagai Pelaku Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil Tahun 2012, mendapatkan pendalaman materi cara bertahan di laut yang diberikan oleh Satuan Pasukan Katak Komando Armada RI Kawasan Barat (Satpaskaarmabar) di Gedung Laut Natuna Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, kemarin (Kamis,06/09).

    Komandan Detasemen Satpaskaarmabar Mayor Laut (T)  Arie Cahyo Sampaikan Materi Materi Sea Survival
    Komandan Detasemen Satpaskaarmabar Mayor Laut (T)  Arie Cahyo Sampaikan Materi Materi Sea Survival

    Materi Sea Survival atau cara bertahan di laut ini disampaikan oleh Komandan Detasemen (Danden) I Satpaskaarmabar  Mayor Laut (T)  Arie Cahyo. Ia  mengatakan Sea Survival merupakan suatu usaha untuk mempertahankan hidup di laut dari ancaman kelaparan/kahausan serta bahaya lainnya yang ditimbulkan oleh lingkungan, dalam rangka mencapai daratan terdekat atau menunggu suatu pertolongan, dengan tujuan untuk mampu mempertahankan hidup dengan memanfaatkan lingkungan.

    Menurutnya, dalam usaha mempertahankan hidup di laut terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi,  antara lain pengaruh dari luar diantaranya  gelombang, angin, suhu dan cuaca, serta binatang.  Sedangkan pengaruh dari dalam antara lain lapar dan haus, sakit akibat luka,  mabuk laut serta stress atau tekanan mental.

    Dalam mempertahankan hidup di laut, paling utama adalah  mempertahankan daya apung dengan mengenali  benda-benda apa saja yang dapat menambah daya apung dan bagaimana cara mengurangi kelelahan dengan berenang secara teratur ke tujuan yang ditentukan, bersikap tenang dan tidak panik, tidak melakukan  gerakan yang tidak perlu, melawan arus serta istirahat dengan sikap terlentang dengan menaruh pelampung pada tengkuk.

    Mempertahankan diri terhadap lingkungan dengan perlindungan terhadap matahari dengan membasahi muka setiap kali kering dan usahakan wajah tertutup baik dengan topi maupun sapu tangan serta usahakan menghindari gangguan serta menarik perhatian ikan buas dengan sikap tenang.

    Disamping itu,  juga dipaparkan   mengenai tantangan yang akan dihadapi dalam survival antara lain ketakutan, kedinginan, kesakitan, kehausan, kelaparan, kelelahan, kebosanan dan kesunyian,

    Dengan diberikannya materi ini diharapkan prajurit Kolinlamil sebagai Pelaku Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil Tahun 2012 memiliki kemampuan bertahan hidup dengan menggunakan peralatan yang ada, kemampuan dalam menghadapi bahaya, kemampuan ketahanan dalam menghadapi bahaya serta memiliki hasrat untuk tetap hidup.



    Sumber : Kolinlamil TNI AL
  • Salah satu unsur kapal perang Komando Lintas Laut militer (Kolinlamil) jenis Landing Ship Tank (LST ) KRI Teluk Ratai-509 dengan Komandan Letkol Laut (P) Syamsudin akan mengangkut Tim Khusus (Timsus) Rawa Laut Sungai Pantai (Ralasuntai) Satuan Tugas (Satgas) Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang diberangkatkan dari Pelabuhan Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (05/04).

    Personil Taifib Marinir TNI-AL, Den Gultor Kopassus dan Paskhas TNI AU tergabung dalam Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012
    Personil Taifib Marinir TNI-AL, Den Gultor Kopassus dan Paskhas TNI AU tergabung dalam Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012


    Tim Sus Ralasuntai Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang dipimpin oleh Mayor Mar Freddy Ardianzah selaku Dan Timsus Satgas Ekspedisi  dengan 17 orang personel terdiri dari 10 orang anggota Taifib Marinir (TNI-AL), 4 orang anggota Den Gultor 81 Kopassus (TNI-AD) dan 3 orang Paskhas (TNI-AU).


    Menurut Dan Satgas, kegiatan ekspedi Khatulistiwa 2012 akan memakan waktu sekitar 3,5 bulan penjelajahan susur pantai sepanjang garis pantai Kalimantan sejauh 5.800 Km, yang dimulai dari Tanjung Datu kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan finish di Tanjung Harapan Nunukan Kalimantan Timur.

    "Tujuan dari hajat akbar itu antara lain untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan prajurit agar memiliki naluri tempur di perbatasan, gunung dan pegunungan serta medan Ralasuntai (rawa, laut, sungai, dan pantai)," paparnya. 



    KRI Teluk Ranai-509 Angkut Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012
    KRI Teluk Ranai-509 Angkut Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012


    Tujuan yang kedua untuk membangkitkan kesadaran teritorial sehingga dikelola menjadi keunggulan teritorial, lalu tujuan ketiga untuk mendata serta meneliti segala potensi di perbatasan gunung dan pegunungan serta medan Ralasuntai di pedalaman Kalimantan bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya sebagai sumbangsih TNI kepada pemerintah.

    Selain itu, kegiatan berskala nasional itu juga bertujuan untuk memberikan keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan melalui program "Green, Clean, and Healthy".


    Selain itu, demi terwujudnya jiwa persatuan dan kesatuan antara TNI, Polri dan seluruh komponen bangsa, sekaligus rasa cinta Tanah Air dan terpeliharanya persahabatan dunia dengan terpeliharanya kelestarian alam di perbatasan dan pedalaman Kalimantan. Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang terdiri dari Tim Khusus (Timsus) ini akan bertugas menjelajahi perbatasan dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur  yang ditempuh dengan berjalan kaki



    Sumber : Kolinlamil TNI AL
  • Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda Mayor Jenderal Zahari Siregar memerintahkan jajarannya menarik semua anggota TNI Angkatan Darat yang menjadi penjaga keamanan di perusahaan-perusahaan perkebunan di wilayah Aceh.



    "Saya perintahkan kepada semua jajaran Kodam Iskandar Muda untuk mulai saat ini menarik prajurit-prajurit saya yang dipekerjakan di perkebunan-perkebunan yang ada di wilayah Provinsi Aceh ini. Kembali latihan, back to professionalism. Kerjamu bukan di sana," ucap Zahari kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (6/9/2012).


    Sebelumnya, sejumlah kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan di Aceh menyatakan keberatan dengan masih banyaknya prajurit TNI yang menjadi petugas keamanan di perusahaan-perusahaan perkebunan swasta di Aceh. Keberadaan anggota TNI tersebut memperuncing konflik lahan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat sekitarnya karena penggunaan cara kekerasan dan intimidasi oleh tentara untuk menekan masyarakat sekitar perkebunan.

    Zahari mengatakan, keberadaan anggota TNI AD di perkebunan-perkebunan tak saja mengganggu tugas profesional prajurit, tetapi juga mengurangi kemampuan fisik mereka sebagai garda depan penjaga keamanan rakyat.

    "Sayang sekali kalau kamu (prajurit TNI) di sana. Fisikmu enggak akan terpelihara. Sakit kamu nanti. Tapi, kalau kamu kembali latihan, fisikmu sehat, matanya menteleng, siap melihat segala sesuatu, maka akan lama masa pakainya. Sehat akhirnya," tandas Zahari. 



    Sumber : Kompas
  • Penerbang tempur dari Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur berhasil terbang solo, Selasa (4/9). Mereka adalah Letda Pnb Barika Harma dan Letda (Pnb) Stevia Andi Kusuma. Keduanya menggunakan pesawat Hawk MK-53.

    Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI M. Syaugi menyiramkan air kembang kepada penerbang yang telah lulus terbang solo di depan Hanggar Skadron Udara 15, Selasa(04/09/2012) (Foto : Pentak Lanud Iswahjudi)
    Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI M. Syaugi menyiramkan air kembang kepada penerbang yang telah lulus terbang solo di depan Hanggar Skadron Udara 15, Selasa(04/09/2012) (Foto : Pentak Lanud Iswahjudi)

    Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Iswahjudi, Mayor (Sus) Sutrisno dalam siaran persnya mengatakan peristiwa penting tersebut ditandai dengan acara tradisi pemecahan telur di kepala yang bersangkutan oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsma TNI M Syaugi.


    Keberhasilan Letda (Pnb) Barika Harma dan Letda (Pnb) Stevia Andi Kusuma menerbangkan pesawat tempur Hawk MK-53 secara mandiri (terbang solo), menambah kekuatan pilot Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa proses regenerasi terus berjalan, meskipun di tengah kondisi jumlah kesiapan dan jam terbang pesawat yang terbatas.



    Letda (Pnb) Barika Harma adalah putera kelahiran Pekanbaru 25 tahun lalu. Sedangkan Letda (Pnb) Stevia merupakan putra kelahiran Pongkai, Riau, 24 tahun. Keduanya adalah lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2009, dan Sekolah Penerbang Angkatan 1982.

    Sebelum berhasil terbang solo dengan Hawk MK-53 juga pernah menerbangkan pesawat AS-202/Bravo dan T-34/Charlie.

    Danlanud Iswahjudi mengatakan terbang solo tidak bisa ditempuh melalui jalan pintas melainkan harus selalu belajar dan berlatih. Keberhasilan ini boleh berbangga dan bersenang hati namun sesaat saja, karena tugas-tugas mendatang masih banyak yang harus dilaksanakan. "Dengan berhasilnya terbang solo diharapkan para penerbang harus benar-benar menguasai dan mengawaki pesawat yang diterbangkan,” kata Danlanud Iswahjudi.



    Sumber : Jurnas
  • Empat pesawat ini merupakan pengiriman pertama, dari total 16 unit pesawat yang dipesan
    Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya Dede Rusamsi mengatakan, TNI AU telah mempersiapkan jumlah penerbang yang cukup, untuk mengawaki satu skuadron pesawat tempur taktis Super Tucano EMB 314 yang akan dimiliki TNI AU.


    Pesawat Tempur Ringan Super Tucano EMB 31 TNI AU
    Pesawat Tempur Ringan Super Tucano EMB 31 TNI AU


    Hal ini dikatakannya saat upacara penyambutan kedatangan empat pesawat Super Tucano di Lanud Halim Perdanakusuma pada hari Sabtu (1/9).

    Pesawat tiba di Indonesia, setelah menjalani penerbangan selama dua minggu dari lokasi pabriknya Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), di San Jose dos Campos, Brazil.


    Empat pesawat ini merupakan pengiriman pertama, dari total 16 unit pesawat yang dipesan oleh TNI AU, untuk menggantikan pesawat OV 10 Bronco di Skuadron 21 Lanud Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur.

    “Sebagian dari penerbangnya adalah mantan penerbang Bronco, namun kami juga melatih penerbang-penerbang baru,” ujar Dede.

    Pesawat Tempur Ringan Super Tucano di Langit Halim
    Pesawat Tempur Ringan Super Tucano di Langit Halim
     
    TNI AU telah mengirim empat personilnya untuk berlatih, sebagai penerbang pesawat tempur taktis ini dan dari pelatihan itu, mereka juga sudah memenuhi kualifikasi sebagai pelatih.

    Dengan kekuatan satu skuadron yang terdiri dari 16 pesawat, TNI AU harus menyiapkan 24 pilot untuk awak pesawat jenis ini.

    Salah satu penerbang Embraer yang ikut menerbangkan pesawat ini, Kapten William Souza mengatakan, dari delapan penerbang Embraer yang turut dalam pengiriman pesawat ini, tiga di antaranya akan tinggal di Malang hingga akhir tahun.

    “Kami akan melatih pilot-pilot angkatan udara Indonesia,” ujar William.

    Dede juga mengatakan bahwa TNI AU akan memastikan adanya alih teknologi, dalam pemeliharaan terkait pembelian pesawat ini.

    Komponen alih teknologi merupakan salah satu ketetapan, dalam setiap kontrak pengadaan alat utama sistem pertahanan militer Indonesia, dari produsen luar negeri, dalam rangka membangun kemandirian industri pertahanan Indonesia.

    “Sudah ada personil yang dilatih sehingga nanti perawatan pesawat bisa dilakukan sendiri,” ujar Dede.

    Empat pesawat ini singgah satu hari di Jakarta setelah sebelumnya singgah di Lanud Suwondo, Medan, Sumatra Utara.

    Mereka akan meneruskan perjalanan pada hari Minggu, menuju tujuan akhirnya yaitu Lanud Abdurrahman Saleh di Malang, yang akan menjadi pangkalan pesawat-pesawat Super Tucano ini. 



    Sumber : Berita Satu
  • Pemerintah Indonesia mengirim pasukan elit tambahan untuk menjaga wilayah di perbatasan negara tetangga. Tiga Batalyon Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) dan Marinir telah dikirim ke wilayah perbatasan sejak pertengahan tahun ini.

    Komando Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD)
    Komando Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD)
     
    Hal itu dungkapkan, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Hartind Asrin saat ditemui di Gedung Kemenhan, Jakarta, Kamis, 26 Juli 2012.

    "Kami sudah mengubah strategi di perbatasan. Sekarang kita kirim pasukan pemukul (Kostrad dan Marinir) sejak pertengahan tahun ini. Pasukan elit kita masuk ke sana," kata Hartind.

    Ditambahkan Hartind, wilayah perbatasan antar negara tetangga, selama ini memang kerap menjadi wilayah yang rawan konflik. Untuk itulah, maka terjadi penambahan pengiriman pasukan elit ke daerah tersebut.

    Kostrad diperuntukkan untuk menjaga wilayah perbatasan darat, sedangkan Marinir berjaga wilayah perbatasan laut. "Mereka itu kan memang dilatih untuk perang, makanya kita taruh di perbatasan," ucapnya.

    Di samping menjelaskan soal penambahan pasukan elit, Hartind juga mengungkapkan, kekuatan militer Indonesia melalui keberadaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutista) berada dalam 20 besar dunia. "Kalau kekuatan angkatan bersenjata dalam totalitasnya kita itu ada di peringkat 18 dunia," ujarnya.

    Meski begitu, Indonesia mengalami penurunan peringkat yang sebelumnya berada di peringkat 16 dunia. "Turun karena ada Alutsista yang tidak efektif. Tapi untuk kawasan Asia Tenggara masih terkuat, nomor satu," ujar dia.



    Sumber : Viva News

  • Dalam minggu ini ada satu berita mengenai militer Indonesia yang menurut saya sangat menarik dan saya sangat menaruh minat yang besar akannya. Berita yang saya maksud adalah berita mengenai keikut sertaan Angkatan Udara Indonesia dalam latihan angkatan udara beberapa negara yang dilakukan di Australia. Event ini disebut dengan Picth Black 2012. Latihan Pitch Black ini di jadwalkan akan diadakan pada tanggal 27 July sampai pada 17 Agustus 2012. Dan tempat latihan akan diadakan di kawasan Utara Australia.

    Sukhoi Su-30 MK2
    Sukhoi Su-30 MK2 TNI AU

    Dalam latihan dengan sandi Pitch Black 2012 ini akan di ikuti oleh angkatan udara dari Australia, Amerika Serikat, Singapura, Indonesia dan Thailand. Pada latihan ini juga akan di simulasikan pertarungan udara antar angkatan udara yang terlibat dalam latihan ini. Namun jenis pertarungan yang akan dilakukan dan negara mana yang akan melawan negara mana itu, saya sebagai admin AnalisisMiliter.com belum mendapatkan informasi akuratnya.

    Dalam latihan ini juga akan melibatkan sekitar 94 pesawat, dimana diantaranya Australia dengan F/A-18 Super Hornet dan F/A-18 Hornet, Singapura dengan F-16 C/D dan F-15 mereka, Thailand dengan F-16 A/B mereka. Amerika Serikat sepertinya juga mengikutkan F/A-18 C Hornet milik US Navy. Indonesia sendiri mengirimkan Sukhoi dalam latihan ini. Selain pesawat Fighter, masing-masing AU juga menyertakan beberapa pesawat pendukung lainnya, seperti Singapura yang mengikutkan pesawat KC-135 Refulling Aircraft dan Gulfstream G550, Australia mengikutkan C-17, C-130 dan Wedgetail AEW&C, Indonesia mengikutkan C-130 serta Amerika Serikat mengikutkan KC-130 J. Dari list pesawat yang turut serta dalam latihan ini, bisa dikatakan bahwa skala latihan ini bisa dikatakan adalah sebuah latihan yang sangat besar.


    F/A-18F Super Hornet Australia
     
    Dari semua Fighter yang turut serta dalam latihan ini bisa dikatakan merupakan pesawat-pesawat kelas wahid yang menjadi tulang punggung masing-masing negara. Australia mengeluarkan pesawat terbaik milik mereka saat ini yaitu F/A-18 Super Hornet. Singapura juga mengikutsertakan Heavy Fighter mereka yaitu F-15 SG. Angkatan Laut Amerika Serikat juga tidak mau ketinggalan dengan F/A-18 C Hornet mereka. Thailand juga menyertakan F-16 A/B mereka, tidak diketahui apakah ini F-16 yang sudah di MLU atau belum. Sangat disayangkan Thailand tidak menyertakan pesawat Grippen mereka. Namun yang paling menarik sebenarnya bukan list pesawat dari negara-negara tersebut, malah yang menarik perhatian adalah Indonesia yang menurunkan jet Fighter terbaiknya yaitu Sukhoi

    Keikutsertaan Sukhoi Indonesia dalam latihan Pitch Black 2012 ini begitu menarik perhatian banyak pihak. Tidak hanya bagi Indonesia dan Australia dan negara peserta Picth Black 2012 lainnya, namun negara lain juga menaruh perhatian besar atas keikutsertaan Sukhoi ini. Bahkan keikutsertaan Sukhoi ini lebih menjadi bahan berita yang menonjol di bandingkan dengan keikutsertaan F/A-18 Hornet US Navy maupun F-15 SG Singapura. Kenapa Sukhoi begitu menarik perhatian? Jawabannya adalah karena Sukhoi ini adalah satu-satunya jet Fighter peserta latihan yang bukan buatan negara Barat. Jika fighter lainnya adalah buatan Amerika Serikat, maka Sukhoi adalah buatan Rusia. Selain itu, yang membuatnya menarik adalah ini adalah pertama kalinya Indonesia mengikutsertakan Sukhoi dalam latihan dengan negara lain. Biasanya Indonesia hanya menyertakan F-16 A/B dalam latihan dengan negara lain atau malah terkadang menggunakan F-5 E/F.



    Kenapa Indonesia mengutus Sukhoi, bukan F-16?

    Seperti berita di beberapa media yang di rilis media, bahwa Indonesia mengutus 4 Sukhoi-30 untuk mengikuti latihan Pitch Black 2012 ini di Australia. Jumlah pastinya memang belum di konfirmasi oleh pihak TNI AU, namun di media disebutkan 4 Su-30 di ikut sertakan. Maka kemungkinan dari 4 Sukhoi ini, pasti ada Su-30 MK2 (mengingat jumlah Sukhoi-30 Indonesia hanya 5 pesawat yang terdiri dari 2 Su-30 MK dan 3 Su-30 MK2). Keikutsertaan Su-30 MK2 dalam latihan ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar mengutus fighter kelas satu Indonesia kesana. Namun ada berita baik (mungkin buruk juga), Indonesia tidak mengutus Sukhoi-27 SKM yang merupakan salah satu pesawat Air Superiority terbaik di dunia saat ini.


    SU-30MK2 Indonesia
    SU-30MK2 Indonesia

    Lalu pertanyaannya adalah, kenapa Indonesia mengutus Sukhoi-30 bukan F-16 A/B seperti yang biasanya dilakukan oleh TNI AU? Banyak sekali factor yang bisa mempengaruhi keputusan ini. Pihak Indonesia dalam hal ini Kemenhan dan TNI AU pasti sudah memiliki pemikiran yang matan dan sudah mempertimbangkan baik buruknya menyertakan Sukhoi ini. Nah dari beberapa rilis media yang saya baca, pihak TNI AU ingin mengasah kemampuan pilot-pilot Sukhoi dengan melakukan latihan dengan pesawat-pesawat yang ‘mungkin’ menjadi lawan sepadan mereka di dalam ‘perang nyata’ dimasa yang akan datang. Selama ini pilot-pilot Sukhoi belum pernah menghadapi latihan sebesar dengan lawan seperti ini sebelumnya. Maka keikutsertaan Sukhoi ini akan sangat bermanfaat bagi angkatan udara Indonesia.

    Saya sendiri bertanya-tanya, apakah keikutsertaan Sukhoi ini ada kaitannya dengan Hibah 4 pesawat angkut C-130 H dari Australia ke Indonesia? Tidak ada sumber valid yang bisa dijadikan rujukan untuk menjawab pertanyaan ini, namun kemungkinannya bisa saja terjadi. Namun, benar atau tidak kaitan keduanya, biarlah itu tetap menjadi ranah rahasia negara. Karena terlepas dari ada atau tidaknya kaitan keduanya, keikutsertaan Sukhoi ini tentu memberikan dampak positif bagi TNI AU (disamping dampak negative lain tentunya)



    Plus dan Minus dari dampak keikutsertaan Sukhoi dalam Pitch Black 2012.

    Keikutsertaan Sukhoi ini pasti memiliki dampak yang positif bagi angkatan udara Indonesia, namun dilain sisi juga bisa memberikan dampak negative bagi Angkatan Udara Indonesia juga. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, keikutsertaan sukhoi ini akan memberikan dampak Positif bagi Indonesia, dimana armada Sukhoi mendapat kesempatan untuk berlatih dengan lawan yang sepadan dari banyak negara sekaligus. Ini akan menambah pengalaman dan juga memberikan pelajaran berharga bagi TNI AU. Namun di baliknya, dampak negatifnya juga bisa ada. Salah satunya adalah negara lain peserta Picth Black juga akan mendapat kesempatan mengetahui karakteristik dari Sukhoi ini secara langsung. Jika selama ini mereka hanya bisa mengamati Sukhoi dari ‘kejauhan’, maka sekarang Sukhoi ada bersama mereka. Tentunya, mereka akan memanfaatkan moment ini untuk mencari dan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kehebatan dan kelemahan Sukhoi Indonesia ini.

    Namun apaun di balik plus dan minus nya, kita perlu memberikan apresiasi atas ikutnya Sukhoi ini dalam Picth Black ini. Jika negara lain akan mendapatkan kesempatan mengenal Sukhoi Indonesia, maka Sukhoi Indonesia juga mendapat kesempatan yang juga besar untuk mengenal fighter-fighter negara lain seperti F-15 Singapura, F/A-18 Hornet dan Super Hornet. Mudah-mudahan Picth Black ini akan memberikan dampak positif bagi TNI AU.


    Sukhoi Indonesia Vs Super Hornet Australia.
    Tidak bisa dipungkiri bahwa Australia sudah lama menaruh perhatian besar terhadap kehadiran Flanker Familiy di Indonesia. Bahkan ada rumor berkembang yang mengatakan bahwa Australia ‘keberatan’ dengan rencana Indonesia mengakuisis 1 Skuadron Su-30 KI sekitar tahun 1997 dulu. Rencana ini akhirnya batal, karena krisis moneter akhirnya menyerang Indonesia. Kontrak pembelian 1 Skuadron Su-30 KI ketika itu akhirnya batal. Namun tidak hanya sampai disitu, ketika Indonesia pertama sekali mendatangkan 4 Sukhoi (2 Su-27 SK dan 2 Su-30 MK), Australia juga menaruh perhatian besar atasnya. Ditambah lagi ketika Indonesia menambah jumlah Sukhoi menjadi 10 pesawat dengan mendatangkan 6 Sukhoi (3 Su-30 MK3 dan 3 Su-27 SKM) pada 2009 dan 2010 lalu. Ditambah lagi fakta bahwa saat ini Indonesia juga sudah memesan 6 Su-30 MK2 dari Rusia.


    Pilot Pesawat Tempur Sukhoi TNI AU
    Pilot Pesawat Tempur Sukhoi TNI AU

    Armada Sukhoi Indonesia ini begitu menarik perhatian media dan pemerintah Australia. Hal ini dikarenakan Reputasi Sukhoi yang sangat disegani bahkan oleh pesawat sekelas F-15 Amerika sekalipun. Nah, Australia yang sebelum kehadiran Sukhoi di Indonesia selalu memiliki kekuatan Udara yang jauh lebih menggetarkan di bandingkan Indonesia, akhirnya merasakan bahwa Sukhoi ini memberikan efek gentar yang sangat besar bagi mereka. Memang saat ini jumlah Sukhoi Indonesia masih minim, namun efeknya sungguh membuat mereka tidak lagi bisa mendikte Indonesia dengan sembarangan. Sebelum kehadiran Sukhoi di Indonesia, kita bisa melihat betapa Australia (yang merasa memiliki AU yang jauh lebih kuat) mendikte Indonesia dalam kasus Timor Timur. Bahkan dalam satu masa ketika itu, Australia mengirimkan F-18 mereka ke wilayah Indonesia yang hanya bisa di cegat oleh Hwak-209 TNI AU. Ketika itu Indonesia sedang mengalami embargo militer, yang membuat AU Indonesia begitu lemah.

    Sekarang, kehadiran Sukhoi yang bermarkas di Makassar, akan membuat Australia berpikir berulang kali sebelum memutuskan untuk memprovokasi Indonesia lagi. Dulu mereka berani mengirimkan F-18 karena tau Indonesia ‘hanya’ di jaga Hwak-209 (F-16 A/B dan F-5 mengalami penurunan karena spare part di embargo Amerika). Sekarang mereka tidak akan berani mengirimkan F-18 mereka untuk menghadapi Sukhoi Indonesia jiga tujuannya hanya untuk melakukan provokasi seperti dahulu kala.

    Nah saat ini Australia merasakan bahwa Sukhoi Indonesia merupakan lawan terberat mereka saat ini, dan fakta bahwa dari segi kedekatan geografis, Indonesia adalah negara yang paling bisa memberikan ancaman nyata bagi mereka. Dan dilain sisi, Australia dan Indonesia sering sekali mengalami perbedaan pandangan dalam berbagai masalah seperti masalah Timor Timur, dan masalah teritori kedua negara, yang memungkinkan Indonesia dan Australia mengalami konflik suatu saat ini. Nah jika terjadi konflik saat ini, maka bisa dipastikan bahwa Australia harus mengandalkan F/A-18 Super Hornet mereka untuk menghadapi armada Sukhoi Indonesia.

    Nah inilah yang ingin sekali di simulasikan oleh Australia dalam latihan Picth Black 2012 ini. Media dan public Australia begitu sangat tertarik untuk mengetahui apakah armada Super Hornet mereka bisa mengalahkan armada Sukhoi Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari pendapat beberapa analisis militer Australia yang mengtakan bahwa Australia akan menghadapi masalah besar jika harus menghadapi Sukhoi Indonesia. Belum lagi ambisi Australia yang ingin mejadi kekuatan militer di kawasan Facifik yang mungkin akan harus berhadapan dengan India dan China. Kita tau, bahwa baik China dan India juga mengandalkan armada Sukhoi dalam angkatan udara mereka. Sukhoi India mungkin sedikit berbeda dengan Sukhoi Indonesia, namun Sukhoi China bisa dikatakan merupakan ‘kembaran’ Sukhoi Indonesia. Nah dengan melakukan latihan antara F/A-18 Super Hornet mereka dengan Sukhoi Indonesia, Australia mendapatkan manfaat besar karena selain mengetahui kekuatan Indonesia, mereka juga mendapatkan gambaran umum mengenai kekuatan armada Sukhoi India dan China sekaligus.

    Namun bagi Indonesia sendiri tidak sedikit yang diperoleh dari latihan Pitch Black ini. Selain menghadapi Super Hornet Australia, Indonesia juga mungkin akan mencicipi kesempatan menghadapi kekuatan Angkatan Udara Singapura. Kesempatan mengadu Sukhoi Indonesia dengan F-16 C/D dan F-15 SG Singapura adalah sebuah kesempatan berharga bagi TNI AU. Selain itu juga, kesempatan mengadu Su-30 dengan F/A-18 Hornet milik US Navy adalah sebuah kesempatan berharga sehingga TNI AU bisa belajar banyak dari latihan ini nantinya. Kesempatan Sukhoi menghadapi ‘calon lawan’ mereka di ‘konflik’ di masa yang akan datang akan membuat TNI AU belajar banyak darinya.

    Sekarang mari kita berdoa agar latihan Picth Black ini akan memberikan banyak hal positif bagi TNI AU. Selain itu, mudah-mudahan TNI AU juga tidak terlalu ‘lugu’ dengan membuka semua rahasia di balik Sukhoi Indonesia ini. Saya berharap dan saya percaya, bahwa TNI AU tidak akan membuka semua tabir gelap mengenai Sukhoi Indonesia ini.



  • TNI Angkatan Udara Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma mengirimkan empat penerbang  untuk mengikuti Pelatihan Air Bus Military, Sevilla. Mereka adalah Komandan Skadron Udara 2 Lanud Halim Letkol Pnb Elistar Silaen bersama Mayor Pnb Destianto, Mayor Pnb Trinanda dan Kapten Pnb Reza Fahlifie.

    Pesawat C-295 AEW
    Pesawat C-295 AEW
     
    Sebanyak empat penerbang TNI AU akan mengikuti training di Air Bus Military Spanyol dalam rangka pelatihan menggunakan pesawat C-295 yang akn dilaksanakan dari bulan Juli sampai September 2012.

    Selain Penerbang TNI AU, PT Dirganara Indonesia juga mengirimkan dua penerbang test Pilot Ester Gayatri saleh dan Novirsta Mafriando Rusli serta satu Flight Test Engineer, Heru Riadhi Soenardi juga melakukan training dengan menggunakan pesawat C-295 di Air Bus Military, Sevilla, spanyol.


    Cockpit Pesawar C-295
    Cockpit Pesawar C-295

    Pesawat C-295 buatan Air Bus Military yang bekerja sama dengan PT DI direncanakan akan memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma menggantikan operasional pesawat F-27 yang belum lama dinyatakan tidak boleh terbang lagi oleh Pemerintah. Pesawat C-295 saat berada di Skadron 2 Bulan Oktober 2011 lalu melakukan demo udara di Indonesia.

    Sumber : Jurnas.com
  • Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono pagi ini melaporkan penerimaan gratifikasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Gratifikasi tersebut ia terima dari sumbangan pernikahan anaknya yang dilangsungkan kemarin.



    "Saya laporkan gratifikasi pernikahan anak saya. Kalau mantenan kan ada amplop semacam itu," ujar Agus di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (19/7).

    Menurut Agus, ada sekitar 34 gratifikasi yang ia terima dan jumlahnya di atas kewajaran. Untuk itu, Agus merasa wajib melaporkan hal tersebut ke KPK.

    "Ada 34 di atas yang wajar, harus diserahkan ke negara. Rata-rata dari teman di luar negeri," jelas Agus.

    Selain melaporkan gratifikasi, Agus juga melakukan koordinasi dengan para pimpinan KPK soal pencegahan tindak pidana korupsi di lingkungan TNI.

    "Juga bicarakan sosialisasi pencegahan korupsi. Dari KPK secara stimulus akan menindaklanjutinya. Bagaimana pun sosialisasi pencegahan korupsi penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," tandasnya.



    SUmber : merdeka
  • Kiprah TNI Dalam Memelihara Perdamaian Dunia : Roadmap Menuju Peacekeeper Kelas Dunia 

    "The United Nations was founded by men and women who dreamt of peace because they knew the cost of war. We in our time, and especially in the last year, have also witnessed friends and colleagues pay the ultimate price in the cause of peace." (Kofi A. Annan) 


    Sepanjang sejarah umat manusia, konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan. Konflik terjadi mulai dari skala yang terkecil antar komunitas sampai dengan skala yang besar berupa perang antar negara ataupun konflik multi dimensi. Menyadari akan akibat yang sangat menyedihkan karena konflik, bangsa-bangsa di dunia melakukan berbagai upaya untuk mencegah konflik semakin luas. Pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang di sempurnakan menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi bukti nyata bahwa secara alamiah umat manusia di dunia sebetulnya sangat mendambakan perdamaian. Sejak awal dibentuk, PBB telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan keamanan, ketertiban dan perdamaian dunia melalui operasi pemeliharaan perdamaian.

    Walaupun tidak secara eksplisit disebutkan dalam Piagam PBB, operasi pemeliharaan perdamaian telah menjadi ujung tombak PBB dalam memimpin setiap upaya membawa dunia kearah yang lebih aman, tertib dan damai. Sesungguhnya setiap bangsa pasti menyadari betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat konflik. Demikian juga setiap personel yang terlibat dalam misi memelihara perdamaian, pasti sudah sangat memahami setiap resiko yang akan terjadi dalam menjalankan misinya. Secara alamiah, kompleksitas konflik yang terjadi di berbagai penjuru dunia selalu menuntut kehadiran para insan pemberani pemelihara perdamaian untuk berkiprah.

    Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang termasuk lima besar dunia, sudah sepantasnya bangsa Indonesia turut memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia. Peran serta Indonesia dalam kancah pemeliharaan perdamaian dunia memang sudah bukan hal yang baru. Sesuai amanat konstitusi, sejak dekade awal kemerdekaan, Indonesia sudah mengirimkan personelnya untuk terlibat aktif melaksanakan ketertiban dunia melalui berbagai misi perdamaian dibawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Keseriusan Indonesia untuk terlibat dalam misi perdamaian dunia telah mengalami transformasi yang signifikan seiring dengan perkembangan lingkungan strategis serta komitmen bangsa untuk lebih proaktif dalam menyikapi konflik yang terjadi. Kiprah dan profesionalitas para pejuang perdamaian baik yang tergabung dalam Kontingen Garuda maupun civilian experts telah menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia telah mendapatkan kepercayaan dalam mengemban misi mulia tersebut. Dengan tidak mengurangi apresiasi yang tinggi terhadap civilian experts Indonesia yang saat ini bertugas di misi PBB, tulisan ini hanya memberikan gambaran tentang kiprah TNI dalam keterlibatan dan dedikasinya memelihara perdamaian dunia, serta roadmap menuju peacekeeper kelas dunia.

    Transformasi Konflik dan Misi Perdamaian Dunia

    Perkembangan lingkungan strategis global saat ini terjadi sangat dinamis. Globalisasi yang didukung oleh perkembangan yang pesat dari teknologi informasi semakin memberikan pengaruhnya terhadap kondisi peri kehidupan berbangsa dan bernegara. Era ketertutupan yang terjadi selama krisis Perang Dingin saat ini telah berganti menjadi jaman keterbukaan dimana sekat-sekat budaya, bangsa dan kedaulatan menjadi semakin kabur. Seiring globalisasi, konflik pun tidak dapat dihindarkan, mulai dari sengketa internal komunitas, antar bangsa sampai dengan multi dimensi. Konflik yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh benturan kepentingan, baik individu, komunitas maupun bangsa. Konflik yang terjadi selalu berkembang dari masa ke masa seiring dengan perkembangan lingkungan strategis. Sekecil apapun konflik apalagi yang terjadi antar negara selalu menjadi perhatian semua pihak karena akibat yang ditimbulkannya bisa menyebar dengan cepat ke tempat atau negara lain. Lokalisasi konflik di jaman globalisasi ini pun menjadi hal yang sulit dilakukan mengingat mudahnya orang mengakses informasi dari media maupun jejaring sosial.

    Ditengah situasi diatas, PBB melalui Dewan Keamanan PBB memberikan perhatian yang mendalam untuk mencegah, mengatasi maupun meminimalkan terjadinya konflik. Operasi pemeliharaan perdamaian menjadi ujung tombak PBB untuk menjalankan misinya tersebut. Menyikapi transformasi konflik yang terjadi, penugasan pemeliharaan perdamaian pun menjadi semakin kompleks. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda saat pertama kali dilaksanakan operasi pemeliharaan perdamaian dimana peran PBB hanya terbatas sebagai pengamat yang bertugas memantau gencatan senjata pihak-pihak yang bertikai. Dihadapkan dengan kondisi saat ini, disamping masih melaksanakan tugas-tugas tradisionalnya sebagai pengamat, peran PBB telah berkembang makin luas yang mencakup multi dimensi. Peran baru non tradisional tersebut seperti membantu penguatan pemerintahan yang sah, memberikan bantuan kemanusiaan, perlindungan masyarakat sipil, monitoring pemusnahan senjata, pengurusan pengungsi, membantu proses pemilihan umum sampai dengan melaksanakan program reintegrasi para mantan kombatan.

    Dengan semakin luasnya cakupan yang harus diemban oleh PBB, sumber daya baik manusia maupun pendukungnya menjadi kebutuhan mendesak yang sangat menentukan keberhasilan misi perdamaian. Kontribusi dari negara-negara anggota PBB menjadi penyokong utama hal tersebut. Militer, Polisi, dan civilian experts dari berbagai negara serta didukung oleh otoritas lokal menjadi penggerak utama misi perdamaian di suatu negara. Sederhana maupun kompleksnya konflik yang dihadapi pun menjadi ukuran dalam menentukan perencanaan suatu misi. Seringkali di lapangan konflik yang terjadi lebih kompleks dari yang diperkirakan sehingga upaya penanganannya pun memerlukan waktu yang lama dengan mengerahkan jumlah personel yang tidak sedikit yang tentunya juga membutuhkan pembiayaan yang sangat banyak. Kondisi tersebut membawa beban yang berat bagi PBB. Disatu sisi konflik yang berkembang semakin kompleks, sementara disisi yang lain ketersediaan dana serta sumber daya menjadi hal yang sulit dipenuhi. Melalui berbagai upaya, PBB pun melakukan efisiensi dengan membatasi jumlah personel yang terlibat dalam suatu misi serta berbagai upaya reformasi di tubuh Dewan Keamanan PBB sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih efektif. Nampaknya upaya-upaya tersebut masih belum cukup. Kebutuhan personel baik militer maupun polisi yang tinggi kurang sebanding dengan ketersediaan yang diberikan oleh negara-negara anggota.

    Tantangan PBB dan TNI

    Penyelenggaraan operasi pemeliharaan perdamaian di abad ke-21 ini sangat lah kompleks. Beberapa kondisi di lapangan merupakan tantangan yang dihadapi oleh Dewan Keamanan PBB sebagai otoritas penyelenggara operasi maupun oleh TNI sebagai pelaksana operasi. Beberapa tantangan tersebut, antara lain:


    • Efektifitas Misi. Dibalik kesuksesan penyelenggaraan operasi pemeliharaan perdamaian dunia, sebagian negara menilai terjadinya inefisiensi pada pelaksanaan operasi. Kondisi tersebut ditengarai karena kurang lengkapnya badan/lembaga pendukung di lapangan yang dapat mempercepat dukungan operasi. Dewan Keamanan PBB pun menganggap perlu melakukan Reformasi dalam tubuh organisasinya. Reformasi misi perdamaian dunia dilakukan antara lain melalui Peace Operation 2010 (PO-2010) [2] yang bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan profesionalisme dalam perencanaan, ketatalaksanaan serta pelaksanaan operasi pemeliharaan perdamaian PBB. Reformasi tersebut fokus pada lima bidang, meliputi; personel, doktrin, kemitraan, sumber daya, dan organisasi.
    • Multi Dimensi Operasi . Disamping tugas sederhana sebagai pemantau gencatan senjata, saat ini misi pemeliharaan perdamaian mulai mengembang menjadi multi dimensi, seperti menfasilitasi proses politik melalui berbagai upaya dengan mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, perlindungan masyarakat sipil, bantuan pemusnahan senjata, pengembalian pengungsi serta reintegrasi mantan kombatan, membantu proses pemilihan umum, perlindungan dan memajukan hak asasi manusia serta membantu dalam menegakkan ketertiban dan hukum bahkan sampai membantu membangun karakter bangsa. Keterlibatan PBB dalam proses politik internal suatu negara dirasakan belum dapat memberikan kontribusi yang maksimal.
    • Misi Penuh Resiko. Penyelenggaraan operasi pemeliharaan perdamaian dunia merupakan operasi militer yang penuh dengan resiko dan tidak dapat dianggap ringan. Disamping resiko kerusakan sarana dan prasaran serta korban jiwa yang harus ditanggung oleh negara yang terlibat, misi tersebut juga dapat sangat beresiko terhadap keselamatan personel yang tergabung dalam misi pemeliharaan perdamaian. Meskipun demikian, korban jiwa akibat konflik tidak dapat dihindarkan serta merenggut korban baik dari warga masyarakat setempat maupun personel PBB. Sejak pertama kali dilaksanakan misi pemeliharaan perdamaian PBB pada tahun 1948, sampai dengan 31 Maret 2012, sudah 2989 personel baik militer, polisi maupun sipil yang gugur dalam menunaikan tugasnya. Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang pasukan dalam misi perdamaian dunia telah kehilangan 31 putra-putra terbaiknya yang gugur dalam misi pemeliharaan perdamaian tersebut. [3] PBB telah menetapkan SOP yang sangat ketat terkait dengan kondisi diatas guna mencegah serta meminimalkan korban yang ditimbulkan. Mencermati besarnya resiko yang dapat terjadi, dalam menjalankan misi perdamaian dunia, setiap personel baik militer maupun sipil selalu dibekali dengan SOP yang diterapkan oleh PBB serta SOP dari negara-negara masing sehingga keselamatan setiap personel yang bertugas dapat diutamakan.
    • Kebijakan Partisipasi Negara. Partisipasi negara dalam pengiriman peacekeeper, selain mengikuti SOP yang dikeluarkan oleh PBB juga berpedoman pada SOP sesuai konstitusi masing-masing negara. Tidak semua negara dapat mengirimkan pasukannya untuk implementasi Bab VII Piagam PBB tentang penggunaan kekuatan senjata dalam penyelesaian konflik, contohnya Indonesia dan Jepang. Sementara itu ada beberapa negara yang melaksanakan misi perdamaian tetapi tidak dibawah bendera PBB, misalnya Amerika Serikat. Kondisi ini seringkali menyulitkan Dewan Keamanan PBB karena beberapa negara menolak melaksanakan misi-misi tertentu dan hanya memilih misi tertentu dengan alasan konstitusi serta kebijakan negaranya. Penggunaan kekuatan senjata juga terkadang menyulitkan di lapangan, terutama saat beberapa batalyon dari beberapa negara berada di satu wilayah. Aturan Pelibatan yang berbeda dari negara-negara tersebut bisa berakibat menguntungkan ataupun merugikan. Kondisi tersebut terkadang menjadi sangat ironis, seperti misalnya bila terjadi tindak kekerasan di dekat markas kontingen dan terkesan dibiarkan. Padahal memang kontingen tersebut terikat pada SOP nya yang tidak mengijinkan penggunaan kekuatan senjata. Apabila boleh pun situasi tersebut bisa sangat menyulitkan karena mereka akan dinilai tidak netral oleh salah satu pihak yang bertikai.

    Roadmap Menuju Peacekeeper Kelas Dunia

    Keterlibatan pasukan TNI dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia sesuai dengan ketentuan hukum nasional. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menyebutkan bahwa salah satu tugas TNI adalah melaksanakan kebijakan pertahanan negara yang salah satunya ikut serta secara aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian regional dan internasional. Selanjutnya, Undang-Undang No.34 Tahun 2004 tentang TNI lebih mempertegas lagi dimana disebutkan bahwa salah satu tugas pokok TNI dalam Operasi Militer Selain Perang adalah Operasi Pemeliharaan Perdamaian Dunia. Tentunya pelaksanaan dari penugasan tersebut selalu dilakukan sesuai dengan kebijakan politik luar negeri Indonesia serta ketentuan yang berlaku dalam hukum nasional. [4]

    Mengacu kepada dasar hukum tersebut, keterlibatan TNI dalam misi perdamaian dunia selalu dilaksanakan dibawah bendera PBB yang mengutamakan penyelesaian multilateral dan bukan berdasarkan pada penyelesaian unilateral ataupun koalisi tertentu. Implementasi dedikasi TNI pada misi perdamaian dilaksanakan sesuai dengan prinsip Bab VI Piagam PBB dimana tidak menggunakan kekuatan senjata untuk menyelesaikan konflik. Dengan demikian, keterlibatan TNI dalam misi perdamaian dunia semata-mata dilakukan untuk memelihara perdamaian dan bukan untuk berperang dengan pihak-pihak yang bersengketa di negara tujuan misi. Beberapa negara penyumbang pasukan lainnya menganut prinsip yang berbeda dalam pelaksanaan misi perdamaian yaitu dengan berpedoman pada Bab VII Piagam PBB yang mana dapat menggunakan kekuatan senjata untuk menyelesaikan konflik. Dalam prakteknya, operasi pemeliharaan perdamaian dunia merupakan gabungan antara Bab VI dan VII Piagam PBB tentang penyelesaian konflik, sehingga penggunaan senjata untuk kepentingan membela diri dapat dibenarkan. Kendati adanya penerapan kebijakan yang berbeda dari masing-masing negara tersebut, pelaksanaan misi perdamaian bisa dikatakan dapat berjalan dengan baik karena memang sejak awal Dewan Keamanan PBB selalu mempertimbangkan penempatan personel yang terlibat di suatu misi disesuaikan dengan kebijakan negara masing-masing.

    Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang pasukan (Troop Contibuting Countries/TCC) dari Asia apabila dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti Pakistan, India dan Bangladesh memang masih belum sebanding. Ketiga negara tersebut sangat intens dalam mengirimkan personel baik militer maupun polisinya, sehingga seringkali dijumpai dalam suatu misi perdamaian, personel-personel dari negara-negara tersebut sudah pernah melaksanakan misi lebih dari satu atau dua kali. Meskipun Indonesia sebagai TCC belum masuk dalam tiga besar dunia, keterlibatan Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Pengiriman personel TNI dari tahun ke tahun pun mengalami peningkatan. Sampai dengan saat ini, personel TNI yang tergabung dalam misi perdamaian terdistribusi dalam beberapa penugasan, mulai dari Pasukan, Pengamat Militer, Perwira Staf sampai dengan Kapal Perang (KRI) yang tergabung dalam Maritime Task Force (MTF). Kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari upaya proaktif bangsa Indonesia serta kepercayaan yang diberikan oleh PBB maupun negara-negara yang merasakan dampak langsung akibat konflik.

    Sekian lama keterlibatan TNI dalam melaksanakan misi perdamaian dunia tidak hanya memberikan kebanggaan bagi bangsa maupun personel yang bersangkutan, akan tetapi juga memberikan wawasan pergaulan dan kerjasama internasional serta pengalaman mengatasi konflik diluar yurisdiksi nasional Indonesia. Seringkali upaya mengatasi konflik lebih sulit daripada bertempur. Dengan pengalaman yang didapatkan selama penugasan tersebut, secara tidak langsung TNI mendapatkan praktek langsung dalam profesi Operasi Militer Selain Perang. Hal tersebut sejalan juga dengan tuntutan tugas pokok TNI yaitu melaksanakan Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

    Fakta telah berbicara bahwa keterlibatan TNI dalam misi perdamaian dunia telah menuai segudang prestasi. Salah satu faktor sukses yang paling dominan adalah kemampuan para prajurit TNI yang bisa Win Heart and Minds masyarakat setempat, disamping tentunya profesionalisme yang dimilikinya serta tetap memegang teguh prinsip kenetralan mereka sebagai pasukan Baret Biru. Berdasarkan hal tersebut, keberadaan mereka bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat setempat. Keahlian pendekatan sosial prajurit TNI tersebut sesungguhnya tidak ada dalam Standar Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB, tetapi lebih kepada kepedulian lebih yang ditunjukkan oleh TNI kepada masyarakat setempat sehingga mereka dapat merasakan suasana kebatinan masyarakat. Kondisi tersebut sangat membantu mereka dalam mengatasi hambatan budaya maupun bahasa setempat. Berbagai prestasi yang telah ditorehkan oleh TNI dalam menjalankan misi perdamaian dunia tersebut telah mendapatkan apresiasi positif tidak hanya dari negara-negara yang sama-sama bertugas di daerah operasi juga dari negara misi melalui permintaan mereka terhadap pemerintah Indonesia untuk mempertahankan dan memperbanyak Kontingen Garuda di negara mereka.

    Pada awalnya pengiriman personel TNI dalam misi perdamaian dunia memang belum diwadahi secara khusus dalam suatu organisasi TNI. Pembentukan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI pada tahun 2007 merupakan jawaban dari keseriusan TNI dalam upayanya untuk selalu meningkatkan keefektifan serta profesionalisme prajurit TNI pada setiap misi yang dipercayakan oleh PBB. Pembentukan PMPP TNI juga seiring dengan makin meningkatnya permintaan dari PBB akan personel pemeliharaan perdamaian, sehingga proses pemilihan personel, pre-deployment sampai dengan penugasan personel yang terpilih menjadi makin kompleks. Dengan didukung oleh berbagai fasilitas serta sarana dan prasarana pendukungnya, PMPP TNI sebagai center of peacekeepers Indonesia mempunyai peluang yang sangat luas menjadi salah satu pusat peacekeeper kelas dunia serta pusat pelatihan kelas dunia. Misi pemelihara perdamaian pada dasarnya merupakan misi mulia yang juga adalah panggilan dunia untuk seluruh umat manusia. Tingginya permintaan peacekeeper Indonesia membuktikan bahwa keberadaan TNI sudah mendapatkan pengakuan global.

    Berdasarkan pengalaman serta potensi sumber daya yang dimilikinya, Indonesia dalam hal ini TNI tentunya dapat memiliki peran yang lebih besar dalam satu dekade mendatang. Dukungan penuh dari bangsa Indonesia serta pemerintah kiranya dapat menjadi momentum bagi TNI untuk dapat berperan maksimal di lingkup global sebagai salah satu komponen kekuatan nasional. Beberapa hal dibawah ini mungkin sudah dilaksanakan atau pun yang belum dilaksanakan oleh PMPP TNI, yang belum kiranya dapat dipertimbangkan untuk menjadi pemikiran kedepan menuju peacekeeper kelas dunia, antara lain:
     
    Blueprint Peacekeeper Indonesia
    Mencakup perencanaan jangka panjang dan perencanaan strategis (jangka menengah) yang menjadi pedoman dalam perencanaan jangka pendek. Blueprint ini dapat menjamin konsistensi menuju sasaran yang diharapkan.

    Global Partnership
    Seiring dengan reformasi di tubuh organisasi Dewan Keamanan PBB, TNI dapat memanfaatkan kontribusi negara-negara donor, lembaga swa daya masyarakat, organisasi internasional serta jaringan negara penyumpang pasukan untuk dapat melaksanakan pelatihan dan penyiapan peacekeeper internasional di Indonesia. Hal ini tentunya harus selaras dengan kebijakan politik luar negeri Indonesia.

    Keterlibatan Elemen Masyarakat Sipil ProfesionalSaat ini terdapat banyak warga negara Indonesia yang sudah pernah ataupun masih tergabung dalam Civilian Experts Garuda Merah Putih sebagai individu-individu yang karena keahliannya dapat bergabung dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia. Keberadaan Pusat Pelatihan PMPP di Sentul yang saat ini masih terbatas untuk kalangan militer, tentunya kedepan dapat menjadi Pusat Pelatihan dan Penyiapan setiap Warga Negara Indonesia baik Sipil maupun Militer yang dengan sukarela mendharmabaktikan untuk misi pemeliharaan dunia. Civilian Experts yang ada saat ini dapat menjadi narasumber serta rujukan dalam mewujudkan hal tersebut. Misi Pemeliharaan Perdamaian merupakan misi panggilan kemanusiaan untuk semua sehingga keterlibatan personel tidak terbatas hanya untuk militer dan polisi saja melainkan semua pihak dapat berpartisipasi menyumbangkan keahliannya demi misi kemanusiaan tersebut.

    Lembaga Think Tank , Pendidikan, dan Penelitian Keamanan dan Perdamaian. Mencermati konflik yang terjadi saat ini, tidak menutup mata juga bahwa konflik masih terjadi di sekitar kita. Apabila dapat diwadahi, kiranya
        pengalaman serta wawasan yang didapatkan oleh personel TNI maupun personel lain yang pernah bertugas di area konflik dapat dijadikan semacam lesson learnt untuk solusi penanganan konflik dalam negeri maupun misi yang lain. Kegiatan ini tentunya melalui kerjasama dengan para pakar, praktisi pasca konflik, serta lembaga-lembaga yang berkepentingan baik pemerintah maupun lembaga-lembaga non pemerintah.
     
    Pemberian materi Pemeliharaan Perdamaian dalam Lembaga Pendidikan TNI baik Pendidikan Pembentukan maupun Pendidikan Pengembangan,
     materi yang sama dapat juga diberikan pada lembaga pendidikan umum melalui kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Penutup

    Selama enam dekade kontribusi pada misi perdamaian dunia, Indonesia telah mendapatkan pengakuan dunia, terutama bagi negara-negara konflik yang sudah merasakan sentuhan tangan-tangan peacekeeper Indonesia. Keterlibatan pada misi dunia bukanlah hanya sekedar kebanggaan bangsa tetapi lebih jauh lagi merupakan bentuk nyata kompetensi bangsa di dunia Internasional. Sebagai lembaga dunia, PBB saat ini masih merupakan kekuatan supra nasional yang keberadaannya tentunya masih sangat dibutuhkan oleh seluruh bangsa. Jalan panjang, pengalaman dan profesionalisme peacekeeper Indonesia sudah memasuki era baru menuju peacekeeper kelas dunia. Sebagai peacekeeper kelas dunia, tentunya bukan saja keberadaannya makin memberikan manfaat bagi bangsa serta penyelesaian konflik dunia, tetapi juga suara Indonesia akan semakin didengar di lingkungan pengambilan keputusan PBB. Penyelesaian konflik yang dimaksud baik di lapangan penugasan maupun penentuan pengambilan-pengambilan keputusan di tingkat elite PBB. Upaya mempengaruhi dunia dapat dimulai dari pengaruh yang dapat diberikan melalui lembaga-lembaga dunia seperti PBB. Sebagai peacekeeper kelas dunia, sasaran strategis yang dapat dicapai tentunya bahwa keberadaan warrior diplomat Indonesia dapat membawa kepentingan Indonesia di tataran Internasional yang pada akhirnya dapat ikut menentukan kebijakan dunia.

    Setiap tanggal 29 Mei, PBB memperingatinya sebagai hari internasional untuk para Peacekeeper. Tanggal tersebut diperingati oleh setiap insan Peacekeeper dimanapun bertugas dan berkarya untuk mengenang rekan-rekan mereka, para pejuang penjaga perdamaian yang telah gugur saat menjalankan misi perdamaian. Pada hari itu, PBB sebagai lembaga perwakilan dunia memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap profesionalisme, dedikasi serta keberanian seluruh personel baik militer maupun sipil yang saat ini sedang mendharmabaktikan dirinya dalam misi operasi memelihara perdamaian dunia. Kol. Arh. Anumerta Gunawan SF, Kolonel Laut (T) Anumerta Sondang Doddy Irawan, Letkol Kav G. Manullang, Kapten Inf. Ali Musa, Kapten Laut Syaifullah dan Sertu Anumerta Suprayitno merupakan sebagian dari insan peacekeeper Indonesia yang telah mempersembahkan jiwa dan raganya demi perdamaian dunia. Ribuan insan Indonesia lainnya masih membawa merah putih dalam penugasan misi memelihara perdamaian di bawah bendera PBB. Para pahlawan perdamaian Indonesia, dharma baktimu sungguh berarti bagi umat manusia yang mendambakan arti kedamaian. Dedikasimu dalam memelihara perdamaian telah membuat mereka dapat menikmati arti kehidupan yang aman dan damai. Menjadi pemelihara perdamaian merupakan amanah dan kepercayaan dunia. Terus lah berkarya para warrior diplomat Indonesia. Berkat dedikasi yang telah engkau berikan, semoga dunia akan semakin memahami beban yang harus ditanggung akibat konflik, make peace no war. Salam Garuda!


    Sumber : Tendef