-
Bahwa kapal selam bernilai strategis sangat tinggi, semua militer dunia tahu. Di Laut Jawa, kapal selam TNI AL, KRI Nanggala-402, dan kolega bertenaga nuklirnya dari Amerika Serikat, USS Oklahoma City SSN-723, berlatih bersama dan saling bertukar perwira untuk sama-sama menambah profisiensi. Ini adalah pertama kali bagi kedua angkatan laut, satu kesempatan bersejarah dan bermakna sangat strategis.
Dalam latihan bertajuk PASSEX/Passing Exercise 2012 itu, TNI AL mengerahkan kapal pendamping, KRI Diponegoro-365 dan satu helikopter Bolkow-Blohm NBO-202. Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Untung Suropati, "Latihan ini berlangsung dua hari, 28-29 Agustus lalu. Ini bentuk kerja sama dan kemitraan di antara dua angkatan laut, juga untuk memperluas wawasan kita tentang kesenjataan dan berbagai hal lain terkait ini."
KRI Nanggala-402
PASSEX 2012 diawalicpertukaran perwira dari masing-masing kapal selam. Enam perwira KRI Nanggala-402 on board di USS Oklahoma City SSN-723 selama dua hari, sebaliknya empat perwira USS Oklahoma City SSN-723 on board di KRI Nanggala-402 untuk waktu sama. "Selanjutnya kedua kapal selam tersebut melakukan berbagai manuver di perairan Laut Jawa," katanya.
USS Oklahoma City
USS Oklahoma City SSN-723 adalah kapal selam bertenaga nuklir kelas Los Angeles buatan galangan kapal Newport News and Dry Dock, Virginia, Amerika Serikat, pada 1981 dan diluncurkan pada 4 Januari 1984, yang telah bergabung dengan Angkatan Laut Amerika Serikat US sejak 1988. Kapal selam kelas ini, USS Dallas, pernah terlibat dalam kisah perburuan kapal selam bertenaga nuklir terbesar dan terkuat di dunia milik Angkatan Laut Uni Soviet (saat itu), Red October, dari kelas Typhoon, yang memiliki teknologi propulsi Caterpillar.
Menurut Suropati, "Latihan ini juga meningkatkan kemampuan awak KRI Nanggala-402, KRI Diponegoro-365 dan pilot Bolcow-Blohm 205 kita dalam mendeteksi, menganalisa, dan mengenali lebih jauh tentang kapal selam negara lain."
USS Oklahoma City
Sedangkan KRI Nanggala-402 dari kelas U-209 buatan galangan kapal Kiel, Jerman, pada 1981, yang ditenagai diesel elektrik berbobot 1.400 ton dan tidak bisa meluncurkan misil nuklir antar benua laiknya USS Oklahoma City SSN-723. KRI Nanggala-402 baru kembali dari perawatan besar di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan, pada 6 Februari lalu.
Di sana, KRI Nanggala-402 diperbaiki rusuk, kulit, balast, sistem navigasi dan penjejakan, hingga sistem kesenjataannya. Seluruh proses itu memerlukan waktu dua tahun. Kapal selam ini memiliki "kembaran", KRI Cakra-401 yang sama-sama tergabung dalam Satuan Kapal Selam Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI AL, di Surabaya.
Satuan yang bertanggung jawab dalam pembinaan, penyiapan, dan pengoperasian USS Oklahoma City SSN-723 adalah Skuadron Kapal Selam Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat, berpangkalan di Pearl Harbour, Hawaii. Kapal ini diawaki 134 personel, dengan panjang 110,3 meter, lebar 10 meter, dan kecepatan maksimal selam 20 knot perjam. Secara umum, peluru kendali Tomahawk dan Harpoon menjadi persenjataan standardnya.
Sesuai dengan "aturan main"UNCLOS 1982, selama berada di perairan Indonesia untuk pelayaran damai, USS Oklahoma City SSN-723 berlayar di permukaan dan menunjukkan identitas kapal. Setelah misi latihan dimulai, barulah manuver militer dilakukan bersama. Selama dia hadir di perairan Indonesia, pengawalan dan panduan diberikan oleh jajaran TNI AL, termasuk oleh mitranya, KRI Nanggala-402.
Sumber : Antara -
Indonesia memerlukan lebih dari 10 kapal selam untuk menjaga kedaulatan negara yang dua pertiganya adalah air. Dalam perhitungan Kementerian Pertahanan, Indonesia sebagai negara kepulauan memerlukan cukup banyak kapal selam. “Menurut perhitungan, kita itu negara kepulauan, dua pertiga negara kita itu air. Itu perlu dijaga oleh kapal selam yang jumlahnya cukup banyak, lebih dari 10 kapal selam,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai memimpin Sidang Ketujuh Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (29/8).

Kapal Selam Changbogo Class Korea yang akan Menjadi Arselan Kapal Selam TNI AL
Menurut Menhan, dalam waktu dekat Indonesia akan menerima tiga kapal selama sehingga menjadi lima kapal selama dari dua yang selama ini dimiliki. "Dua kapal selam sudah punya, dan ditambah tiga yang saat ini sedang dibuat di Korea Selatan."
Menhan berharap tiga kapal selam yang pembuatannya sudah dikontrak dengan Korea Selatan itu salah satunya bisa dibuat di Tanah Air. “Cita-cita kita (kapal selam) yang pertama dibuat di Korea. Yang kedua dibuat di Korea tapi bertahap kadar Indonesia sudah mulai meningkat. Dan, kemudian cita-cita kita yang ketiga itu dibuat di Indonesia yaitu di PT PAL,” kata Menhan.
Purnomo mengatakan semua proses transfer teknologi dilakukan bertahap. Apalagi, kata Menhan, pembangunan kapal selam kita belum bisa membangun kapal selam.
Sidang KKIP ini membahas dua agenda yaitu penyampaian Cetak Biru Riset Produk Alat Peralatan Pertahanan dan keamanan serta Rencana Kebijakan Pembangunan Network Industri Pertahanan. Agenda kedua adalah penyampaian tentang Penguasaan Teknologi Pembangunan Kapal Selam melalui pengadaan tiga kapal selam dari Korea Selatan.
Sidang ini diakhiri dengan penandatangan Cetak Biru Riset Produk Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan, yang rencananya disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (30/8).
Hadir dalam sidang KKIP ini, Menteri Perindustrian, MS Hidayat, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsuddin serta pejabat yang mewakili Kementerian BUMN, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Mabes Polri.
Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan kapal selam adalah produk yang sangat high technology (teknologi tinggi) dan hanya dimiliki oleh negara-negara yang mempunyai kemampuan teknologi seperti Korea Selatan dan Jerman.
Menurut Hidayat, Indonesia bertekad melakukan program kemandirian membuat kapal selam, meskipun tidak bisa dilakukan sekaligus. "Ini adalah suatu proses pembelian tetapi dengan suatu konten dalam suatu tahapan tertentu kita menguasai teknologi itu tahap demi tahap," kata MS Hidayat.
Menurut Hidayat, Indonesia membutuhkan dalam jangka panjang, 10-12 kapal selam. Ketiga kapal selam yang saat ini sedang dibuat di Korea, menurut Hidayat, membeli sambil membuat, dan nanti pada tahapnya kapal selam keempat dan berikutnya diharapkan bisa dilakukan di Indonesia. “Tentu itu membutuhkan suatu pengerahan sekian banyak kaum intelektual yang dididik untuk itu,” katanya.
Sumber : Jurnas -
Panglima Tentara Nasional Indonesia, Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan untuk membuat kapal selam perlu pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan bisa dikejar cepat, tapi pengalaman itu yang memerlukan waktu yang sedikit panjang.
Oleh karena itu, proses transfer teknologi di Korea diharapkan akan memberikan bekal pengalaman untuk membangun kapal selam. “Harapan itu harus kita rebut. Memang tidak mungkin kita datang, belajar tanpa ikut terlibat langsung membangun kapal selam. Itu sangat tidak mungkin,” kata Panglima TNI usai mengikuti sidang ketujuh Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (29/8).
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut ini mengatakan, para ahli tidak hanya sekadar menguasai teknologinya saja, namun juga harus dilibatkan langsung dalam membangun kapal selamnya agar mendapatkan pengalaman. “Kalau teknologi di dalamnya dan sebagainya, itu mudah dikuasai oleh para ahli kita. Tetapi pengalaman itu sulit didapat kalau tidak terlibat langsung di dalam membangun,” katanya lagi.
Terkait pembelian tiga kapal selam dari Korea Selatan, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan, proses pengadaan kapal selam sudah melewati saringan-saringan, baik dari sisi teknis administrasi maupun dari segi regulasi.
Wamenhan menyatakan, pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) apa pun sudah memenuhi mekanisme dan prosedur, baik itu yang bertumpu pada Peraturan Presiden hingga Peraturan Menteri Pertahanan. Selain juga bertumpu kepada keinginan pengguna.
Namun, yang terpenting adalah bertumpu kepada kebijakan pemerintah. “Kebijakan pemerintah adalah memperhatikan program jangka panjang akan perlunya kemandirian industri pertahanan di dalam negeri,” kata Sjafrie Sjamsoeddin.(Jurnas)PT PAL akan Buat Kapal Selam
Kementerian Pertahanan (Kemhan) akan memulai pembuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam negeri, yakni menyangkut pembuatan kapal selam. Dalam upaya tersebut, Kemhan akan menyerahkan kepada PT PAL.
Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, berbicara saat rapat Panitia Kerja Alutsista Komisi I di gedung DPR
Pembuatan itu dapat dilakukan Kemhan setelah melakukan pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan melalui mekanisme transfer of technology (TOT). Karena itu, PT PAL sebagai pelaksana pembuatan nantinya akan segera diberdayakan.
Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro yang juga merupakan Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), mengatakan, pembangunan kapal selam dalam negeri akan segera dimulai. "Karena itu PT PAL akan segera di upgrading," kata dia saat melakukan pemaparan dalam rapat KKIP ke-7, di Aula Bhineka Tunggal Ika Kemhan, Jakarta, Rabu (29/8).
Kapal selam berteknologi diesel elektrik dengan jenis DSME 209 itu, lanjut Menhan, setelah dimulai dengan pembuatan di Korea yang akan selesai pada 20 Desember 2011 lalu, maka proses lanjutannya akan dilakukan di Indonesia. Sebagai persiapan, pembuatan akan dilakukan oleh PT PAL.
Menurut Purnomo, pihaknya telah meminta PT PAL untuk segera mempersiapkan segala sumber daya demi melancarkan pembuatan. "Tentu saja PT PAL butuh peningkatan atau up grading," kata dia.
Dalam dokumen Cetak Biru Riset dan Pengembangan Produk Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alparhankam), disebutkan bahwa anggaran pembangunan dan upgrading PT PAL mencapai 150 juta dolar AS. Yakni dengan rincian sebesar 77 juta dolar untuk fasilitas dan 73 juta untuk peralatan.
Selain dana tersebut, anggaran lain yang disiapkan adalah jasa konsultan asing dan dalam negeri sebanyak 42 orang dengan besaran 35 juta dolar AS. Dalam dokumen itu juga, kebutuhan kapal selam pemerintah adalah sebanyak 10 sampai 12 buah.
Kapal-kapal tersebut nanti digunakan untuk menjaga pertahanan laut NKRI di sejumlah corong strategis, seperti Selat Malaka bagian utara, Selat Sunda, Laut Natuna, Laut Sulawesi, dan Selat Bali. Purnomo mengatakan, dikarenakan Indonesia saat ini hanya memiliki dua unit kapal selam yang telah berusia lanjut. "Makanya kita butuh kapal selam tambahan untuk mengamankan perairan," kata dia. (ROI)
-
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) berencana mendatangkan 11 unit helikopter antikapal selam untuk lebih memperkuat alat utama persenjataan serta mengisi kekosongan alat yang tidak tercover oleh kapal-kapal TNI.

Helikopter Anti Kapal Selam Seasprite, Salahsatu Heli yang diminati TNI AL
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan juga telah melakukan pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME) yang dilakukan bersama Kementerian Pertahanan.
"Helikopter antikapal selam kita punya tahun 1960-an dan pensiun tahun 1970 nantinya kita akan beli 11 helikopter antikapal selam, karena ini sangat dibutuhkan oleh kita," ujar Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Madya TNI Marsetio, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (15/8/2012).
Dijelaskan Marsetio, pihaknya masih akan membahas dengan Kementerian Pertahanan ihwal pembelian 11 helikopter antikapal selam ini, terutama mengenai helikopter yang didatangakan. Apakah jenis Seasprite atau Agusta.
"Tahun 2015 akan hadir helikopter tersebut, karena saat ini kita baru punya dua kapal selam dan akan datang lagi tiga," pungkasnya.Sumber : Okezone -
TNI Angkatan Laut akan membangun pangkalan kapal selam di Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Komandan Pangkalan Angkatan Laut Palu Kolonel (P) Laut Boedi Utomo seusai shalat Tarawih bersama warga di KRI Makassar-509, Jumat (10/8) malam mengatakan, saat ini sudah tersedia lahan seluas 13 hektare.
"Tiga hektare diantaranya merupakan hibah dari pemerintah provinsi," kata Boedi Utomo.
Dia mengatakan, saat ini proyek sedang dalam tahapan pembangunan.
Boedi Utomo mengatakan, salah satu alasan pemilihan Teluk Palu karena teluk ini cukup strategis di nusantara. Dia mengatakan, Teluk Palu memiliki lebar 10 kilometer dengan lingkar garis pantai sepanjang 68 kilometer.
"Kedalaman teluk ini mencapai 400 meter. Sangat strategis. Ini teluk paling dalam diantara teluk yang ada. Kapal induk saja bisa berlabuh. Di Singapura saja itu hanya 25 meter, tidak bisa dilewati kapal induk," katanya.
Sementara itu Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan, masyarakat sekitar lokasi pembangunan pangkalan selam di Watusampu kiranya mendukung rencana tersebut.
"Semua ini untuk kita di Sulawesi Tengah. Sekarang kita sudah rasakan bagaimana KRI Makassar bisa berlabuh di sini sehingga kita bisa melihat langsung dan naik di atas kapal," kata Longki.
Jumat malam ratusan masyarakat mengikuti shalat Tarawih bersama di atas kapal sepanjang 122 meter tersebut. Menurut rencana KRI Makassar yang berkapasitas muatan 22 tank dan tiga helikopter serta 700 personel tersebut rencananya akan bertolak ke Bitung, Sabtu siang.Sumber : Republika -
Satuan Kapal Selam Komando Armada RI Kawasan Timur (Satsel Koarmatim) dalam waktu dekat akan menggelar latihan bersama dengan kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Untuk menindaklanjuti rencana latihan tersebut, hari ini, Rabu (8/8), Commander Submarine Group 7 US Navy Rear Admiral Philip Sawyer mengadakan kunjungan ke Koarmatim.
Kedatangan Rear Admiral Philip Sawyer tersebut diterima Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Darwanto. SH, M.AP dengan didampingi Komandan Guspurlatim Laksamana Pertama TNI Ari Soedewo dan beberapa pejabat teras Koarmatim di Gedung Laksamana Nala Koarmatim Ujung Surabaya.
Kapal selam Koarmatim yang akan terlibat dalam latihan ini yaitu KRI Nanggala-402, didukung dengan kapal atas air Sigma Class KRI Diponegoro-365 dan satu Helikopter BO-105. Sedangkan Kapal Selam US Navy yang terlibat adalah USS Los Angeles (SSN/688).
Latihan manuvra laut ke dua kapal selam tersebut, rencananya akan dilaksanakan disekitar Laut Jawa. Namun sebelum melaksanakan manuvra lapangan (Manlap), terlebih dahulu akan dilaksanakan pertukaran perwira dari masing-masing Kapal Selam untuk on board di ke dua Kapal Selam tersebut.KRI Nanggala-402 adalah Kapal Selam Kelas 209/1300, merupakan salah satu senjata strategis TNI AL yang merupakan Kapal Selam Kelas Konvensional (Battery Electric) Kedua Kapal Selam berbeda jenis ini sama-sama merupakan senjata strategis bagi masing-masing Negara, baik Indonesia maupun Amerika Serikat.
Latihan Passing Exercise dengan USS Los Angeles di sekitar perairan Laut Jawa ini adalah dalam rangka menjalin kerjasama antara TNI AL dan US Navy, lebih khusus lagi untuk menjalin kerjasama antara Satuan Kapal Selam Koarmatim dengan CTF 7 (Squadron Kapal Selam), Armada ke-7 US Navy. Latihan ini juga dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan ABK KRI Nanggala-402, KRI Diponegoro-365 dan Pilot Heli BO-105 dalam mendeteksi, menganalisa dan mengenali lebih jauh tentang Kapal Selam USS Los Angeles.Sumber : Dispenarmatim -
Kementerian pertahanan sudah jatuh cinta kepada kapal selam Chang Bogo buatan Korea Selatan, untuk dijadikan kapal selam terbaru Indonesia, mengalahkan kontestan terdahulu kapal selam Kilo Rusia.

Kapal Selam Chang Bogo Korea Selatan
Kementerian pertahanan memilih kapal selam Chang Bogo ini, karena merasa yakin telah memegang teknologi yang akan membuat kapal selam ini menjadi sangat senyap namun mematikan.
“Kita sudah memiliki teknologi untuk membuat kapal selam ini senyap dan handal dalam medan perang”, ujar seorang sumber di Kementerian Pertahanan.
Doktrin perang Indonesia juga perlu diperhatikan, untuk menempatkan kapal selam ini pada proporsi yang sebenarnya. Doktrin perang Indonesia adalah bertahan dan tidak punya niat untuk melakukan penyerbuan/ pre-emtive strike ke luar wilayah Indonesia.
Dengan doktrin tersebut, kapal selam Chang Bogo yang relatif kecil dianggap tepat untuk bermanuver di laut Indonesia.
Doktrin perang laut Indonesia, juga tidak menempatkan kapal selam untuk bergerak sendiri dalam menghantam musuh. Kapal selam itu akan bergerak bersama-sama kapal lain, untuk saling melindungi.
Apakah strategi ini tepat atau tidak. Kita belum tahu. Setidaknya strategi seperti itu yang dianggap tepat untuk Indonesia saat ini.
Rencananya, satu buah kapal selam akan dibuat di Korea Selatan, satu dibuat bersama-sama, dan satu dibuat di Indonesia. “Kontraknya sudah diteken. Tahapannya nanti, ada masa transisi di mana kita bisa membuatnya di Indonesia,” kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, di Gedung Kemenhan, Jakarta, Selasa, 7 Agustus 2012.
Purnomo berharap ketiga kapal selam ini dapat memperkuat armada tempur TNI Angkatan Laut, dan mampu menghadapi tantangan ke depan. “Kita tentu inginkan kapal selam ini dapat beroperasi dengan baik dengan teknologi yang muktahir,” jelasnya.
Untuk memperkuat armada, diperkirakan pada awal tahun 2015 tiga kapal selam buatan Korea Selatan sudah bisa masuk jajaran armada TNI AL. “Awal tahun 2015 satu kapal selam sudah masuk dan tahun berikutnya kapal selam yang kedua,” ujarnya usai penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana di Pelabuhan Indah Kiat, Merak, Kota Cilegon, Banten, Kamis 4 April 2012 lalu.
Spesifikasi Kapal Selam Chang Bogo
Dengan adanya tiga kapal selam Chang bogo tersebut, diharapkan daya tempur dan daya tangkal TNI AL akan semakin kuat.
TNI AL juga mengembangkan produk dalam negeri untuk pembuatan kapal perang taktis ukuran 40 hingga 70 meter. Dengan menggunakan teknologi serta sistem persenjataan yang modern, saat ini TNI AL sedang mempersiapkan kapal sekelas fregat.
Sumber : JKGR
-
Negara pulau Singapura sedang mempersiapkan satuan pemukul strategis bawah air dengan kekuatan 10 kapal selam, 6 diantaranya sudah operasional dan sisanya dari jenis Scorpene sedang dalam tahapan negosiasi menuju kontrak pengadaaan dengan Perancis. Bisa dibayangkan kemampuan pre emptive strike armada bawah laut negeri itu ketika dalam kondisi terburuk harus bertempur dengan negara lain. Militer Singapura akan bertempur di luar wilayah teritorinya dan itu sama saja tidak lepas dari teritori Indonesia dan Malaysia yang dijadikan lahan pertarungan.

Kapal Selam Kilo Class India
Indonesia saat ini mempunyai 2 kapal selam dari jenis U209 buatan Jerman yang sudah diretrofit di Korea Selatan. Kita juga sudah menandatangani kontrak pembuatan 3 kapal selam dari jenis Changbogo dengan Korea Selatan. Kapal selam pertama akan diselesaikan dan dikirim ke Surabaya akhir tahun 2015. Dalam rencana ke depan diharapkan kita bisa melakukan transfer teknologi dan berkemampuan membuat kapal selam di dalam negeri dengan lisensi dan itu tentu sangat dinantikan. Namun melihat perkembangan situasi kawasan Laut Cina Selatan (LCS) yang semakin menggelora kita perlu jurus lain untuk penambahan alutsista kapal selam secara paralel selain dengan Changbogo. Kita perlu tambahan kapal selam jenis lain dari kelas yang lebih tinggi.
Pilihan yang lebih menggairahkan tentu dari jenis Kilo buatan Rusia. Pertimbangan dari sisi militer, negara tetangga sudah menentukan pilihannya dengan memesan dan mengoperasikan kapal selam dari kelas yang lebih gahar. Pertimbangan dari sisi ketersediaan dana dan kemudahan prosedur Rusia sudah lebih dulu membuka pintunya.Mengapa kita tidak memanfaatkan sisa kredit state dari Rusia sebesar USS$ 700 juta dollar untuk pengadaan kapal selam kelas Kilo dari Rusia. Anggaran multi years untuk pengadaan alutsista tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 berjumlah US$15 milyar, salah satu komponennya adalah kredit state yang dari Rusia itu. Itu artinya kalau tidak dimanfaatkan maka ada dana tak terserap dalam realisasi belanja alutsista. Rusia hanya mau mencairkan dana itu sesuai perjanjian terdahulu untuk pengadaan 2 kapal selam jenis Kilo. Dialihkan ke Sukhoi saja mereka enggan karena Rusia tetap berkomitmen untuk 2 kapal selam itu.
Logikanya anggaran kan sudah tersedia, lalu mengapa masih jual mahal atau karena ada desakan negara lain untuk tidak mengambil Kilo. Kalau argumennya karena desakan negara lain, sangatlah tidak pantas dan memalukan, sementara Vietnam, Singapura, Malaysia sudah melangkah dengan kepala tegak. Vietnam sedang menunggu pesanan pertama dari 5 kapal selam Kilo yang dipesan dari Rusia. Malaysia diyakini akan kembali menambah kapal selamnya dari yang ada 2 unit saat ini. Singapura sudah mengoperasikan 6 kapal selam. Sementara jangan ditanya kalau soal kapal selam Cina yang selalu mondar mandir di Laut CIna Selatan (LCS). Cina memilik 65 kapal selam berbagai jenis.
Satuan pemukul bawah air merupakan alutsista strategis yang sedang dikembangkan di regional LCS dan itu bagian dari kampanye militer perebutan wilayah sumber daya alam yang melimpah di wilayah itu. Kalau mau beradu strategi pertempuran di LCS kuncinya ada di kekuatan laut dan udara namun kekuatan udara tidak mampu mematahkan kekuatan bawah air sehingga kekuatan pemukul bawah air yang akan saling beradu di kedalaman LCS. Ini artinya untuk menjaga teritori kita dari ancaman penyusupan kapal selam asing diperlukan penambahan armada kapal selam yang proporsional dengan luasnya perairan.
Armada Kapal Selam China
Dengan kekuatan 5 kapal selam pada tahun 2018 dimana 2 diantaranya sudah berusia uzur, bisa dipastikan Indonesia kalah wibawa dibanding Singapura dan Vietnam. Negara kepulauan terbesar di dunia ini masih membutuhkan sedikitnya 12 kapal selam berbagai jenis. Mengapa harus berbagai jenis karena ini menyangkut tingkat keandalan dan kegentaran dalam menguasai laut dangkal atau laut dalam yang dua-duanya dimiliki Indonesia. Pada jaman Trikora Soekarno mampu mendatangkan 12 kapal selam kelas Whiskey dari Rusia hanya dalam waktu 3 tahun, padahal pada saat yang sama kondisi ekonomi bangsa ini belum sehebat sekarang.
Monumen Kapal selam Pasopati dari jenis SS Type Whiskey Class
Adalah keputusan yang tepat dan belum terlambat kalau Pemerintah mau mempergunakan kredit state dari Rusia untuk pengadaan 2 kapal selam Kilo. Pinjaman sudah dibentangkan 4 tahun lalu bahkan Rusia siap menambah pasokan kredit statenya untuk berbagai alutsista made in Rusia. Dari perspektif milter dan hankam sangat relevan kalau kita menambah satuan pemukul alutsista bawah laut dari jenis yang menggentarkan. Bukankah negara tetangga Malaysia, Vietnam dan Singapura leluasa membeli alutsista gahar sesuai keinginannya sementara kita sepertinya tak leluasa melakukan itu.
Kawasan perairan selatan jantung Indonesia, pulau Jawa selama ini hanya ditemani Ratu Pantai Selatan, sepi dari pengawalan angkatan laut. Ke depan diyakini merupakan kawasan yang hiruk pikuk dengan lalulintas militer armada AS dari Australia menuju LCS dan sebaliknya yang melewati Selat Sunda. Namanya saja milter negara adi kuasa pasti sekali waktu melakukan manuver memancing atau sekedar iseng melakukan penyusupan dan pengamatan melalui kapal selam atau kapal permukaan. Nah kalau yang dipancing tidak melakukan pengawalan teritori itu artinya sama saja tidak mewibawakan teritori yang menjadi job pengawalannya. Kehadiran kapal selam laut dalam TNI AL untuk “mengiringi” konvoy armada kapal perang asing di selatan Jawa adalah jawaban untuk mewibawakan keedaulatan teritori laut kita.
Kita pun berandai-andai jika kredit state itu diambil oleh pemerintah untuk pengadaan 2 kapal selam Kilo maka pada tahun 2020 nanti saat dimana LCS bisa berubah menjadi arena titik didih setidaknya kita telah memiliki 10 kapal selam dengan rincian 2 Kilo, 3 Changbogo yang dipesan sekarang, 3 Changbogo lisensi yang dibuat di PAL Surabaya dan 2 Cakra Class yang masih bisa beroperasi. Namanya juga berandai-andai akan lebih bernilai gahar lagi kalau kombinasinya pada tahun 2020 nanti dengan formasi 4 Kilo dan 6 Changbogo dengan memensiunkan Cakra Class.
Tetapi yang pasti kalau pengambil keputusan di negeri ini selalu merasa inferior dan tertekan bathin dalam menentukan jenis alutsista yang pantas mengawal teritori bawah laut NKRI atau alutsista strategis lainnya, maka sejatinya itu bisa menjelaskan wajah kita yang sebenarnya, bangsa yang sudah merdeka namun masih bermental terjajah. Kasihan nantinya jika generasi penerus bangsa ini “menegur” generasi sebelumnya dengan ungkapan generasi tertekan bathin. Kalau sudah begini jangan lantas menyalahkan Tuhan karena Tuhan telah berfirman : Aku tak akan merubah nasib sebuah kaum atau bangsa sebelum dia merubah paradigmanya sendiri.
Sumber : http://analisisalutsista.blogspot.com/2012/08/kita-butuh-kapal-selam-kilo.html -
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI akan diarahkan pada pengadaan pesawat tempur dan kapal selam.

Sukhoi Pesawat Tempur Utama TNI Saat ini
Hal ini sesuai dengan rencana strategis yang telah dicanangkan Kemhan untuk periode 2010-2024. "Untuk mewujudkan profesionalitas TNI, tentunya Alutsista yang digunakan harus memehuhi standar spesifikasi teknis sesuai kebutuhan TNI sebagai pengguna," ujar Purnomo di sela-sela acara buka puasa bersama wartawan di Aula Bhineka Tunggal Ika, Kantor Kemhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (2/8/2012).
Purnomo menjelaskan, Kemhan sesuai tugas dan fungsinya telah menyusun Minimum Essential Force sebagai tahapan pembangunan postur pertahanan negara yang dilaksanakan selama tiga periode rencana strategis (Renstra), yaitu pada 2010-2014, 2015-2019, dan 2020-2024.
Dalam kesempatan ini, Purnomo juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada insan pers yang telah membantu menyosialisasikan program-program Kemhan ke khalayak luas.
Hadir dalam acara buka puasa bersama, para pejabat Eselon I dan II dan staf Kementerian Pertahanan, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, dan Irjen Kemhan Laksdya TNI Sumartono.Sumber : Okezone -
Singapura meski telah memiliki 6 kapal selam modern, terus memperkuat armada bawah laut mereka dengan memesan 4 kapal selam Scorpene class SSKs dari DCNS Perancis. Menurut kawat rahasia yang disadur oleh Quentin Michaud dalam http://www.infosdefense.com proses pengadaan kapal selam Singapura itu sedang dibahas oleh Departemen Pertahanan Perancis, untuk mengatur penjualannya.

Kapal Selam Scorpene yang dipesan Singapura
Penjualan 4 kapal selam Scorpene Perancis ini juga mencakup transfer teknologi dan transfer manufaktur. Namun semua ini akan berjalan lancar jika disetujui oleh Komisi ekspor peralatan perang Perancis (CIEEMG), karena pembelian kapal selam ini meliputi peralatan sensitif, antara lain deteksi sonar jarak jauh.Posisi Perancis cukup terdesak karena mereka juga sedang bersaing dengan produsen kapal selam Jerman yang juga dilirik oleh Singapura. Perancis tergiur dengan uang yang siap dikucurkan Singapura sebesar 2 miliar USD.
Peluang Singapura untuk mendapatkan kapal selam scorpene plus transfer teknologinya cukup besar, karena hubungan militer kedua negara cukup erat.
6 frigat siluman Formidable class Singapura yang didatangkan tahun 2007-2009 juga produksi Perancis, turunan La Fayette class frigate.
Armada Kapal Selam Singapura
Awalnya Singapura membeli 4 kapal selam Challenger class eks Swedia tahun 1968 yang diretrofit tahun 1995.
Kapal Selam Challenger class eks Swedia diyakini dibeli oleh Singapura untuk melatih kemampuan Angkatan Laut mereka sebelum memutuskan untuk membeli kapal selam yang lebih modern.
Kapal Selam Challenger Class, Singapura
Betul saja, pada tahun 2005 dan 2007, Singapura kembali membeli dua kapal selam Archer Class eks Swedia HMS Hälsingland dan HMS Västergötland tahun 1986 dan 1987. Kedua kapal selam itu diretrofit oleh galangan kapal Kockums Swedia tahun 2009 dan 2010, yang merupakan anak perusahaan Galangan Kapal Howaldtswerke-Deutsche Werft, Kiel Jerman. Kedua Kapal selam Archer Class tersebut aktif di jajaran Angkatan laut Singapura, pada tahun 2011 lalu.
Dan kini memasuki tahun 2012, Singapura terus melangkah maju dengan mendatangkan 4 kapal selam modern Scorpene buatan Perancis.
Dengan demikian sebentar lagi Singapura akan memiliki 10 kapal selam yang siap tempur dan menggentarkan, untuk menjaga wilayah laut mereka yang berukuran mini.
Scorpene Malaysia
Malaysia juga memiliki dua kapal selam Scorpene yang dipesan ke Perancis pada 5 Juni 2002 seharga 1 Miliar Poundsterling. Scorpene dikerjakan oleh Galapangan Kapal Perancis DCNS bersama rekannya Galangan Kapal Navantia Spanyol. Kapal selam itu dilengkapi dengan torpedo Blackshark dan Exocet SM-39. Sebelum menerima kapal selam itu, 150 prajurit Angkatan Laut Malaysia dilatih mengenal dan mengoperasikan kapal selam Agosta Class, yang telah dipensiunkan dari Angkatan Laut Perancis.
Kapal Selam Scorpene Malaysia
Scorpen pertama Malaysia, KD Tunku Abdul Rahman, diserahkan pada tahun 2009. Sementara Scorpene kedua KD Tunku Abdul Rahman mengalami masalah tidak bisa menyelam dan kerusakan coolant system, sehingga mengalami penundaan pengiriman. Namun hal itu hanya masalah waktu, dan Perancis berjanji menyelesaikannya.
Selain Singapura dan Malaysia, India juga memesan 6 kapal selam scorpene ke Perancis yang dibangun bertahap sejak tahun 2006.
Kapal selam Scorpene memiliki panjang 70 meter dan lebar 6 meter dengan berat 1800 ton. Scorpene mampu melaut selama 50 hari tanpa re-suply. Kapal selam ini mengusung 18 torpedo campuran Black Shark heavyweight torpedoes dan SM.39 Exocet anti-ship missiles.
Collin Class Australia
Adapun negara tetangga di selatan, yakni Australia memiliki 6 kapal selam Collin Class yang dibangun bertahap sejak tahun 1996. Kapal selam ini dibuat oleh Australian Submarine Corporation bekerjasama dengan Galangan kapal Kockums, Swedia- Jerman.
Kapal Selam Collin Class Australia
Kapal selam Collin Class mengusung 22 torpedo Mark 48 Mod 7 CBASS dan UGM-84C Sub-Harpoon anti-ship missiles. Ia berbobot 3300 ton dan memiliki panjang 77, 5 meter dengan lebar 8 meter serta mampu mengarungi laut selama 70 hari tanpa re-suply.
Sonarnya menggunakan: Thales Scylla bow and distributed sonar arrays, Thales SHORT-TAS towed sonar array dan Thales intercept array. Sementara radar dipercayakan kepada GEC-Marconi Type 1007 surface search radar. Adapun Combat ssystem mengusung Raytheon CCS Mk2 (AN/BYG-1). Perusahaan: Thales, Marconi dan Raytheon, sudah malang melintang di industri militer Blok Barat dan tidak perlu diragukan.
Chang Bogo Indonesia
Indonesia pun tidak ketinggalan memesan 3 kapal selam Chang bogo buatan Korea Selatan. Jika dibandingkan dengan Scorpene dan Collin, memang kapal selam Indonesia berukuran paling kecil, yakni panjang 56 meter dengan lebar 6 meter. Bobotnya pun jauh lebih ringan dibandingkan Collins dan Scorpene, yakni hanya 1200 ton. Kapal selam Chang bogo yang imut-imut ini mampu menyelam selama 50 hari tanpa re-suply dan mengusung SUT torpedoes dan UGM-84 Harpoon. Pengguna dari Kapal selam ini hanya Korea Selatan dan satu lagi calon pembelinya adalah Indonesia.
Kapal Selam Chang Bogo
Kapal selam Chang Bogo dijiplak oleh Korea Selatan dari kapal selam Jerman, Type 209/1200. Kapal Selam ini didisain Jerman pada tahun 1960 dan mulai diproduksi tahun 1970-an.
Selain tiga kapal selam yang sedang dipesan, Indonesia juga memiliki 2 kapal selam lawas Type 209/1200 Jerman yakni KRI Cakra dan KRI Nanggala. Kedua kapal itu diretrofit Korea Selatan pada tahun 2004 dan 2006 dan selesai tahun 2009 -2012.
Indonesia membeli tiga kapal selam Chang Bogo Korea Selatan, karena dijanjikan akan mendapatkan ToT, meski harus membayar 300 juta USD. Indonesia semakin tertarik dengan Chang Bogo, setelah Korea Selatan berjanji akan mentransfer teknologi Chang Bogo berbobot 1400 ton. Kapal yang akan jadi tahun 2018 ini sedikit lebih besar dibandingkan KRI Cakra dan Nanggala.
Chang Bogo Korea Selatan
Jika kita melakukan komparasi dengan kapal selam Singapura, Malaysia dan Australia, kapal selam indonesia berukuran paling mini. Ibaratnya anjing kampung yang dikepung Herder.
Tidak terbayangkan, apa perasaan para awak kapal selam itu saat mengarungi lautan dan berhadapan dengan kapal selam Sorpene dan Collin. Mungkin yang terbaik adalah kombinasi antara 2 kapal selam Type 209/1200 ton (Cakra dan Nanggala), 3 kapal selam Chang Bogo (Type 209/1400 ton) dan 2 kapal selam Kilo Rusia (2800 ton).
Presiden SBY melihat model Kilo Class
Formasi campuran kapal selam tua dan modern juga diberlakukan oleh Singapura yakni: 4 Scorpene (sedang dipesan), 4 Challenger class (1968) dan 2 Archer Class (1987).
Mungkin ada baiknya kita melihat bagaimana Vietnam membangun militer mereka yang nota bene kemampuan ekonominya di bawah Indonesia. Pada tahun 2010, Vietnam memesan 6 kapal selam ke Rusia. Vietnam sadar, di bawah laut mereka harus berhadapan dengan kapal Selam Kilo China dan India, sehingga harus memiliki kemampuan kapal selam, minimal yang seimbang.
Improved Kilo (Kilo-636 KMV) Vietnam
Indonesia sebenarnya masih memiliki sisa kredit ekspor 700 juta USD dari Rusia, akibat pembatalan pembelian 2 kapal selam kilo Rusia. Indonesia hendak memanfaatkan sisa kredit itu untuk pembelian 6 jet Sukhoi SU 30, namun ditolak Rusia. Menurut Rusia sisa kredit eksport 700 juta USD untuk pembelian 2 kapal selam kilo, bukan pesawat tempur.
-
TNI Angkatan Laut kehilangan dua perwira terbaiknya saat menggelar latihan Search and Rescue (SAR) Kapal Selam Tahun 2012 di perairan Situbondo, Jawa Timur. Bagaimana kronologi kejadian dan latar belakang kegiatan tersebut?
Dalam rilisnya, Senin (9/7/20120), Dispen TNI AL memberi penjelasan bahwa sebelum gladi lapangan, latihan tersebut diawali dengan Gladi Posko di ASTT (Action Speed Tactical Trainer) Pusat Operasi Laut Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI Angkatan Laut, serta gelar pasukan di dermaga Madura Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Rabu (4/7). Sementara gladi lapangan berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 6-7 Juli 2012.
"Latihan SAR Kapal Selam merupakan salah satu upaya meningkatkan kemampuan
unsur-unsur SAR TNI Angkatan Laut dalam menyelenggarakan pencarian dan
penyelamatan kapal selam di lingkungan TNI Angkatan Laut," kata Kepala Dispenal
Kasubdispenum Kolonel Laut J Widjojono.
Unsur-unsur peserta latihan yang terlibat terdiri dari 1 kapal selam (KRI Cakra-
401), 2 kapal atas air (KRI Diponegoro-365 dan KRI Pulau Rupat-712), 2 Tim Dislambair, 1 ponton (Ponton Lumba Lumba), 1 Tim Pasukan Katak serta 2 Tim Kesehatan dari Lakesla dan RSAL dr Ramelan Surabaya. Sedangkan dari unsur Tugas Udara, yaitu 1 pesawat Cassa U-617 dan 1 Heli Bolcow-NV 411.
Sasaran yang ingin dicapai dalam latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menyusun rencana operasi serta prosedur pencarian dan penyelamatan kapal selam, meningkatkan kerja sama dan koordinasi di bidang pencarian dan penyelamatan kapal selam, mulai dari tingkat masing-masing unsur sampai ke tingkat satuan, serta penyesuaian terhadap perlunya pengembangan teknologi alat
penyelamatan bawah air ataupun dalam piranti lunak pendukung latihan.
Pada gladi, gugur dua Perwira terbaik TNI Angkatan Laut, masing-masing Kolonel Laut (P) Jefri Stanly Sanggel, S.H., yang sehari-hanya sebagai Komandan Satuan Kapal Selam Komando Armada RI Kawasan Timur dan Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo yang merupakan Kepala Divisi Mesin Pokok KRI Cakra-401.
Almarhum Kolonel Laut (P) Jefri Stanly Sanggel merupakan alumni Akademi
Angkatan Laut, Angkatan ke-35 Tahun 1989 yang beralamat lengkap Jl Pulau Dewata
Kaveling D1-7 Kepala Gading, Jakarta Utara.
Sementara Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo merupakan Alumni Akademi
Angkatan Laut, Angkatan ke-46 Tahun 2000 beralamat lengkap Jl Brigjen Katamso
IV Blok C-9, Waru, Sidoardjo.
"Kedua perwira tersebut gugur pada hari kedua Latihan SAR Kapal Selam TNI Angkatan Laut Tahun 2012," sambung Widjojono.
Menurut Widjojono, saat hari pertama latihan, semua berjalan lancar, termasuk juga hari kedua. Baru pada latihan kedua terjadi insiden.
"Pada Latihan SAR Kapal Selam TNI Angkatan Laut Tahun 2012, KRI Cakra-401 berhenti dan duduk di dasar laut, kemudian para prajurit keluar dari dalam atau perut kapal melalui conning tower," terang Widjojono.
Kedua perwira telah dimakamkan pada Minggu (8/7) kemarin.Sumber : Detik -
Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim Kolonel Laut (P) Jeffry Stanley Sanggel dan seorang perwira Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo meninggal dunia saat mengikuti latihan SAR di perairan Pasir Putih, Situbondo, Jatim, Sabtu.

KRI Cakra
Kadispen Koarmatim Letkol laut (KH) Yayan Sugiana saat hadir di rumah duka Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo, Kepala Divisi Mesin Pendorong Pokok KRI Cakra-401, di Sidoarjo, Sabtu malam belum bisa menjelaskan secara perinci mengenai peristiwa tersebut.
KRI Cakra adalah satu dari dua kapal selam milik TNI AL. Kapal yang dikomandani Letkol laut (P) Indra Agus Wijaya itu terlibat dalam latihan SAR tersebut.
Dalam latihan tersebut diskenariokan, kapal selam tidak bisa naik, padahal di dalamnya enam personel. Keenam personel itu menyelamatkan diri dengan keluar dari kapal dalam tiga gelombang atau setiap gelombang dua orang.
Kedua perwira itu termasuk dalam rombongan penyelamatan tahap kedua. Latihan SAR untuk kapal selam yang melibatkan sejumlah personel dan kapal perang lain serta helikopter itu merupakan pertama kalinya digelar oleh TNI AL.Sumber Gambar http://jakartagreater.comTNI-AL Selidiki Penyebab Kecelakaan
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut masih melakukan penyelidikan terhadap kecelakaan pada simulasi penyelamatan kapal selam di Perairan Situbondo, Jatim, yang menewaskan dua orang perwira menengah berpangkat kolonel dan mayor.
"Kami membentuk tim khusus untuk melakukan penyelidikan terkait musibah yang menyebabkan putra-putra terbaik negeri ini," kata Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letnan Kolonel (KH) Yayan Sugiana, saat berada di rumah duka di Sidoarjo, Sabtu malam.
Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim Kolonel Laut (P) Jeffry Stanley Sanggel dan seorang perwira Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo meninggal dalam saat mengikuti latihan SAR di perairan Pasir Putih, Situbondo, Jatim, Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB.
Kadispen mengemukakan, tim tersebut akan bertugas untuk melakukan penyelidikan terkait penyebab peristiwa naas yang mengakibatkan dua orang putra terbaik bangsa itu meninggal dunia.
"Kami mohon rekan-rekan media bersabar, karena kejadian kecelakaan tersebut baru terjadi hari ini. Oleh karena itu kami meminta waktu supaya penyelidikan ini bisa berjalan dengan lancar," katanya.
Menurutnya, dalam skenario simulasi tersebut dua orang yang menjadi korban ini adalah pelaku yang akan dievakuasi dari dalam kapal selam KRI Cakra-401 yang dikomandani Letkol Laut (P) Indra Agus Wijaya itu.
"Dalam skenario tersebut ada enam orang anak buah kapal selam KRI Cakra yang ada di dalam. Diskenariokan bahwa kapal selam tersebut tidak bisa muncul ke permukaan karena mengalami suatu kendala," katanya.
Keenam orang ABK kapal selam tersebut dibagi dalam tiga sorti untuk menyelamatkan diri dari dalam kapal selam tersebut.
"Tim pertama tidak ada masalah dan berhasil keluar dari kapal selam. Akan tetapi, tim kedua mengalami masalah dan kedua perwira itu meninggal dunia," katanya.Sumber : Antara -

Kapal Selam Changbogo Class Pemerintah memastikan rencana pembelian kapal selam baru. Sebagaimana Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Madya Susilo, mengatakan secara implisit di media bahwa setidaknya ada dua unit kapal selam yang akan dibeli. Diberitahukan pula kementerian sedang memproses tawaran pembelian kapal selam dari beberapa negara. Meski demikian, ia tidak menyebutkan kapal selam buatan negara mana yang akan dipilih. Meski kesepakatan pembelian dilakukan tahun ini, dua kapal selam itu baru selesai dibangun lima tahun mendatang. Akan tetapi ditandaskan pembeliannya menyesuaikan ketersediaan anggaran karena harga kapal selam yang sangat mahal. Ia mencontohkan kapal selam jenis Scorpene yang dibeli Malaysia dari Prancis harganya mencapai €550 juta atau lebih dari US$700 juta. Kemudian Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengambangkan lagi dengan menyampaikan masih dalam proses dengan Kementerian Pertahanan.
Merunut informasi sebelumnya selama beberapa tahun terakhir, tender yang sempat diulang kembali mengerucut pada 2 kontestan yaitu galangan Rusia dan Korsel. Mengacu pada hasrat pemerintah tentang prasyarat adanya unsur ToT (Transfer of Technology) di mana kapal selam dirakit di Indonesia maka bisa dipastikan galangan Korsel sebagai pemenang tender dengan produk Changbogo class. Secara historis hingga kini Rusia sangat pelit dalam hal ToT kecuali dalam proyek besar yang dia tidak mampu mendanai sendiri. RRC pun mau tidak mau melakukan reverse engineering guna melakukan ToT secara sembunyi-sembunyi terhadap produk Rusia. Contohnya kasus copy desain Su-27 tanpa izin yang berakhir perselisihan dengan Rusia.
Fase reverse engineering (rekayasa balik) bukanlah sesuatu yang asing bagi Indonesia karena langkah-langkah alih teknologi sudah dibuat master plannya oleh mantan Menristek BJ Habibie dalam konsep alih teknologi dirgantara dengan filosofi “berawal dari akhir dan berakhir di awal” disebut dengan empat tahapan alih teknologi. Empat tahapan alih teknologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi utuh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya adalah NC 212 lisensi dari Casa Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat terbang secara bersama-sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235 berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama secara equal antara IPTN dengan Casa Spanyol. Ketiga, mengintegrasikan seluruh teknologi dan sistem konstruksi pesawat terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama sekali didesain baru, di sinilah proses reverse engineering bermain, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas 50-60 penumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire dari Airbus. Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal, yang diproyeksikan berupa pesawat turbojet bernama N-2130 berkapasitas 130 penumpang. Namun akhirnya Indonesia gagal pada fase keempat reverse engineering karena masalah pembiayaan sedangkan RRC melaju terus tanpa henti.
Dalam proses pengadaan kapal selam harusnya pemerintah lebih tegas dalam item ToT supaya nilai tambahnya pembelian kapal selam meski pada awalnya biaya dan resiko lebih tinggi dibanding beli jadi. Jangan sampai kalah langkah dengan Singapura. Dulu mereka melakukan tender pembuatan 6 frigat kelas formidable yang bekerja sama dengan galangan DCNS. Satu unit frigat dibuat di Lorient Perancis sedangkan sisanya dibuat oleh ST Enginnering di Singapura. Pada proyek korvet Sigma Indonesia, 4 unit semuanya dibuat di galangan Schelde tanpa satu pun yang dibangun di galangan lokal.Kapal Selam dengan VLS
Memang diakui jika Indonesia memilih kelas Kilo tentu kapal selam yang didapat nanti akan memiliki daya deterrent besar namun Indonesia tidak mendapat nilai tambah selain produk kapal selam itu aja, tidak lebih, tetap akan bergantung pada Rusia selamanya. Meski tidak sehebat kelas Kilo, Changbogo sendiri masih mirip dengan sepasang kapal selam AL Indonesia yang sudah dioperasikan mulai dekade 80-an. Karena memang Changbogo produk Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering melisensi dari U-209/1200 Thyssen/Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) Jerman yang mulai meluncur ke laut tahun 1991. Meski bukan produk baru dan lebih kecil dari Cakra class namun masih andal dalam operasi, pada spec tertentu Changbogo class bisa pula dibuat hingga 1400 ton. Yang lebih kecil punya AL Argentina U-209/1100, ARA San Luis, sangat mengesankan dalam perang Falkland 1982 melawan AL Inggris. Sejak karamnya destroyer Argentina ARA General Belgrano oleh kapal selam nuklir Inggris HMS Conqueror dan rusaknya kapal selam tua Argentina ARA Santa Fe akibat bom laut, armada kapal perang Argentina ditarik mundur semua ke pangkalan kecuali kapal selam U-209/1100 ARA San Luis. Armada AL Inggris menilainya sebagai ancaman serius dan mengejarnya selama 60 hari tanpa hasil hingga perang Malvinas berakhir. Pengejaran armada Inggris terhadap ARA San Luis melibatkan 1 kapal induk, 11 destroyer, 5 kapal selam nuklir, satu kapal selam diesel, dan lebih dari 25 helikopter ASW. Satu-satunya kesalahan ARA San Luis adalah kurangnya pelatihan awak dalam melayani torpedo kapal selam sehingga gagal meledakkan sasaran.Kapal Selam U-212 dengan rudal anti pesawat
Tidak ketinggalan Korsel juga sedang mengembangkan teknologi VLS (Vertical Launching System) pada platform U-214/1800. Sistem tersebut memungkinkan pemasangan rudal penjelajah Cheoryong, sebuah rudal jarak jauh Korsel yang mampu menjangkau sasaran sejauh 500 km, versi upgradenya bisa 1000 km. Namun apabila Jerman membatasi transfer teknologi kunci seperti tabung peluncurnya, Korsel meghadapi kesulitan untuk mengekspor kapal selam tersebut, juga regime kontrol rudal melarang ekspor rudal berdaya jelajah lebih dari 300 km. Di samping itu Thyssen-Krupp Marine System Jerman tengah mengembangkan IDAS (Interactive Defense and Attack System), suatu rudal antipesawat jarak pendek untuk kapal selam. Teknologi ini memberikan kemampuan kapal selam yang sedang menyelam untuk menyerang pesawat terbang atau heli ASW yang mengancamnya. Jarak jangkau hingga 20 km, tengah dikembangkan pada platform U-212. Menjadikan U-boat satu-satunya kapal selam yang memiliki kemampuan pertahanan udara. Kilasan teknologi kapal selam di atas membuka peluang dan cakrawala pandang Indonesia terhadap potensi pengembangan kemampuan kapal selam berbasis U-boat ke depan. Bila suatu saat bisa diakses oleh kapal selam Indonesi tidak menutup AL Indonesia akan memiliki armada kapal selam tercanggih di kawasan Asia Tenggara, melebihi Scorpene Malaysia dan Improved Kilo Vietnam.Sumber : garudamiliter
Tampilkan postingan dengan label Kapal Selam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Selam. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)








