Kasum TNI Marsekal Madya TNI Daryatmo memeriksa jajaran pasukan TNI saat upacara pembukaan latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Markas Komando Divisi Infanteri-1/Kostrad Cilodong, Depok, Jabar, Senin (27/8). Latihan gabungan yang melibatkan seluruh unsur TNI yaitu TNI AD, TNI AL dan TNI AU itu diikuti 2.500 prajurit yangt akan dilaksanakan pada 31 Agustus sampai 9 September 2012 di Natuna, Kepulauan Riau. FOTO ANTARA/Jafkhairi/Koz/Spt/12)
Panglima Divisi I/Kostrad, Mayjen. TNI. Daniel Ambat didampingi Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma. TNI. A. Adang Supriyadi, SE., mengecek kesiapan Satuan Pelaksana Operasi Udara (Satlakopsud) di Taxy-way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, pada Jumat (24/8/12), dalam rangka menghadapi latihan PPRC TNI tahun 2012 ini.
Mayjen. TNI. Daniel Ambat melihat langsung dari dekat bagaimana pemeliharaan kesiagaan operasional unsur udara yang terlibat dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI yang rencananya akan diadakan di Pulau Natuna. Selain itu, Panglima juga melakukan tanya jawab langsung dengan para penerbang dan kru pendukung serta memeriksa ke dalam badan pesawat CN-235.
Kegiatan inspeksi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk terus melatih kesiapan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Apalagi, PPRC sendiri merupakan latihan rutin tahunan yang biasa digelar TNI. Menurut jadwal akan dilaksanakan mulai Agustus sampai September 2012. Diawali dengan Gladi Posko di Cilodong dan Gladi Lapangan di Natuna.
Latihan di Natuna akan melibatkan 2500 personel, gabungan TNI AD, TNI AL dan TNI Angkatan Udara. Dengan mengerahkan pesawat unsur intai C-121; pesawat Hercules C-130 dan CN-235; unsur Pasukan Khas TNI AU serta seluruh pangkalan TNI AU di Indonesia.
Dalam kesempatan ini pula, Komandan Skadron Udara 31, Letkol. Pnb. Eko Sudjatmiko melaporkan kesiapan Satlakopsud serta berbagai kemungkinan kendala yang ada. Sebagai bahan masukan bagi Komandan PPRC TNI dalam menentukan kebijakan selanjutnya bagi penyempurnaan hasil latihan kelak.
“Moto kami: tegar, ikhlas dan tuntas menyukseskan misi apapun yang diemban”, tandas penerbang yang mengakui adanya berbagai latihan yang akan digelar di akhir tahun 2012.
Setelah melihat gelar kesiapan, rombongan mengunjungi Marsailing Area (MA) yang akan digunakan sebagai titik kumpul pasukan. Turut serta dalam kegiatan penting ini adalah Asops Divisi I/ Kostrad Kolonel Inf Joko Sudiono; serta Asintel Divisi I/ Kostrad Letkol Inf Asep Jauhari.
Sumber: Pentak Lanud Halim Perdanakusuma
-
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mengatakan pada tahun 2013 pihaknya akan membuat satu skuadron pesawat tanpa awak untuk kepentingan mata-mata sistem pertahanan nasional.
"Kementerian Pertahanan meminta untuk dibuatkan satu skuadron pesawat tanpa awak. Setidaknya pembuatannya untuk keperluan memata-matai," kata Menristek Gusti Muhammad Hatta, di Jakarta, Kamis.
Gusti Muhammad Hatta mengatakan pesawat tanpa awak merupakan salah satu fokus pengembangan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang akan dilakukan lembaganya tahun ini, selain rencana pembuatan roket serta satelit.
Menurut dia, selain untuk keperluan pertahanan pesawat tanpa awak juga dapat berfungsi membantu menghasilkan hujan buatan dan keperluan pengamatan di daerah berbahaya.
"Pesawat tanpa awak dapat masuk menembus awan untuk menabur garam membuat hujan buatan, serta untuk mengamati gunung berapi yang berbahaya apabila dilakukan pesawat berawak. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengamati praktik `ilegal fishing` dan `ilegal logging`," kata dia.
Gusti mengatakan di luar negeri pesawat tanpa awak sudah digunakan untuk kepentingan perang. Di Israel misalnya, pesawat tanpa awak dilengkapi dengan senjata untuk menembak.
Sejauh ini Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menghasilkan sejumlah pesawat tanpa awak. Ia mengatakan bahwa dalam pembuatan skuadron pesawat tanpa awak, Kemenristek kembali akan menggandeng dua lembaga tersebut.
"Sejauh ini LAPAN sudah membuat satu pesawat tanpa awak ukuran kecil. Sedangkan BPPT sudah mengembangkan tiga kelas pesawat tanpa awak yakni ukuran kecil, sedang dan besar," kata dia.
Pendanaan pesawat tanpa awak menurut dia akan disediakan oleh Kementerian Pertahanan.
(R028) -
Event Bandung Air Show (BAS) 2012 digelar selama empat hari berturut-turut pada September mendatang di area Lanud Husein Satranegara. Kegiatan menampilkan potensi kedirgantaraan Indonesia ini merupakan rangkaian HUT ke-202 Kota Bandung.
Hal tersebut disampaikan Danlanud Husein Satranegara Kolonel Pnb Umar Sugeng Hariyono saat jumpa pers persiapan BAS 2012 di Gedung Mulyadi, Lanud Husein Sastrenegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Senin (9/7/2012).
"Pelaksanaan acara dimulai 27 hingga 30 September 2012 nanti. Acara ini sekaligus merayakan ulang tahun ke-202 Kota Bandung pada 25 September," jelas Umar.
Umar menerangkan, event BAS merupakan program kerja Pemkot Bandung yang rutin berlangsung dua tahun sekali. BAS 2012 mendatang, lanjut Umar, pihaknya menunjuk salah satu event organizer asal Jakarta yakni PT Greenlite Kreasi Abadi sebagai pelaksana kegiatan.
"Visi dan misi dalam kegiatan ini yaitu memperkenalkan bangkitnya Bandung sebagai Kota Dirgantara berskala nasional dan internasional," jelas Umar.
Sumber : Detik Bandung -
Penerbang tempur dari Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur berhasil terbang solo, Selasa (4/9). Mereka adalah Letda Pnb Barika Harma dan Letda (Pnb) Stevia Andi Kusuma. Keduanya menggunakan pesawat Hawk MK-53.
Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Iswahjudi, Mayor (Sus) Sutrisno dalam siaran persnya mengatakan peristiwa penting tersebut ditandai dengan acara tradisi pemecahan telur di kepala yang bersangkutan oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsma TNI M Syaugi.
Keberhasilan Letda (Pnb) Barika Harma dan Letda (Pnb) Stevia Andi Kusuma menerbangkan pesawat tempur Hawk MK-53 secara mandiri (terbang solo), menambah kekuatan pilot Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa proses regenerasi terus berjalan, meskipun di tengah kondisi jumlah kesiapan dan jam terbang pesawat yang terbatas.
Letda (Pnb) Barika Harma adalah putera kelahiran Pekanbaru 25 tahun lalu. Sedangkan Letda (Pnb) Stevia merupakan putra kelahiran Pongkai, Riau, 24 tahun. Keduanya adalah lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2009, dan Sekolah Penerbang Angkatan 1982.
Sebelum berhasil terbang solo dengan Hawk MK-53 juga pernah menerbangkan pesawat AS-202/Bravo dan T-34/Charlie.
Danlanud Iswahjudi mengatakan terbang solo tidak bisa ditempuh melalui jalan pintas melainkan harus selalu belajar dan berlatih. Keberhasilan ini boleh berbangga dan bersenang hati namun sesaat saja, karena tugas-tugas mendatang masih banyak yang harus dilaksanakan. "Dengan berhasilnya terbang solo diharapkan para penerbang harus benar-benar menguasai dan mengawaki pesawat yang diterbangkan,” kata Danlanud Iswahjudi.
Sumber : Jurnas -
Indonesia tidak akan lagi membeli jet tempur Sukhoi dari Rusia, fokus kedepan hanya untuk F-16 dari AS, Marsekal Eris Herryanto mengatakan kepada portal berita penerbangan flifhtglobal beberapa hari lalu.

Pesawat Tempur Sukhoi SU 30
TNI AU saat ini memiliki 10 unit Sukhoi yang terdiri dari Su-30 dan Su-27 dengan enam Sukhoi tambahan yang saat ini tengah dalam proses. Anggaran modernisasi alutsista TNI untuk saat ini khusus untuk pesawat adalah untuk mempercepat perbaikan dari armada 15 pesawat Hercules C-130 Lockheed Martin, serta membeli empat Hercules C-130Hs dari Australia dan meng-upgrade mereka, dan membeli lebih banyak pesawat CN-295 dari PT DI, kata Herryanto, yang merupakan sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Indonesia.
"Kami tengah menunggu kiriman 24 jet tempur F-16 dari Amerika Serikat. Kami akan memiliki pesawat tempur yang setidaknya cukup untuk persediaan 20 tahun ke depan. Dan itu berarti kami telah memiliki cukup Sukhoi untuk saat ini," katanya.
"Indonesia juga menanamkan investasi dalam program K-FX bersama Korea Selatan, yang nantinya akan menghasilkan jet fighter yang ditujukan untuk menggantikan pesawat seperti (Northrop) F-5 dan F-16. Kami akan membeli jet tempur fighter K-FX sebanyak 3 skuadron, masing-masing 16-22 pesawat. Itu akan memenuhi program jangka panjang"
Layanan pers Sukhoi mengatakan mereka tidak menyadari dan terkejut dengan keputusan dari sumber Indonesia tersebut, karena belum ada diskusi resmi dengan Jakarta untuk penjualan Sukhoi lagi.
Kita tahu, Indonesia baru saja membeli enam pesawat tempur Sukhoi Su-30 yang akan dikirimkan dalam tiga tahun kedepan. Bila telah dikirimkan, TNI AU akan memiliki total 16 pesawat Sukhoi, yang membutuhkan suku cadang, pelayanan, pemeliharaan dll. "Proyek bersama pesawat K-FX Indonesia bersama Korea Selatan tidak mungkin terwujud segera," kata sumber di layanan pers Sukhoi.
Sumber : Artileri -
Latihan Gabungan TNI dimulai dan akan dibuka secara resmi oleh Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, di Natuna, Kepulauan Riau, Selasa besok (4/9). Latihan puncak ini diikuti sekitar 2.500 personel TNI AD, TNI AL dan TNI AU.
"Besok pagi sekitar pukul 06.00 WIB, Panglima dan rombongan menuju Pulau Sengiap dengan helikopter meninjau pantai pendaratan amfibi," kata Direktur Latihan Kolonel (Inf) Ainurrahman usai menyambut kedatangan Panglima di Bandara Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Ranai, Natuna, Senin.
Suhartono mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Ranai sekitar pukul 17.30 WIB, Senin, menumpang pesawat transport TNI AU didampingi sejumlah petinggi tiga matra TNI.
Kedatangan Panglima disambut Pangdam I/Bukit Barisan, Mayor Jenderal TNI Lodewijk Freidrich Paulus, Komandan Korem 033/Wirapratama, Brigjen TNI Deni K Irawan, Komandan Pangkalan TNI AU Ranai, Letkol Psk Tribowo S Cahyono, sejumlah petinggi TNI dan pejabat di lingkungan pemerintah Kabupaten Natuna.
Menurut Ainurrahman, latihan gabungan yang akan digelar bernama Latihan Lapangan PPRC Kilat XXIX TA 2012 dengan diikuti sekitar 2.500 personel.
Kesatuan yang dilibatkan dalam latihan tersebut, jelas dia, terdiri atas Sat Linud Yonif 330, Paskhas TNI AU, Korps Marinir, infanteri, KDOL (Komando Depan Operasi Lintas Udara), IFAM (Intai Amfibi) dan beberapa satuan lainnya.
"Sejumlah kesenjataan akan dilibatkan untuk mendukung pelaksanaan latihan, di antaranya pesawat tempur, kapal perang dan tank," katanya.
Mengenai tema latihan, jelas dia, yaitu melaksanakan operasi penindakan untuk memulihkan situasi Natuna dalam rangka mengembalikan integritas NKRI.
Pada Selasa pagi, kata dia, ratusan personel Linud akan melakukan penerjunan dari udara di Bandara Lanud Ranai dan selanjutnya bergerak melumpuhkan kekuatan musuh yang menguasai sejumlah objek vital.
Selain itu, ratusan pasukan amfibi juga akan melakukan pendaratan di Pantai Sengiap dengan sasaran melumpuhkan kekuatan musuh yang telah menguasai pulau tersebut.
"Materi latihan terdiri atas operasi lintas udara, operasi amfibi, operasi dukungan udara, operasi penggabungan dan operasi serangan darat gabungan," tuturnya.
Dia menambahkan, latihan tersebut pada prinsipnya bertujuan untuk menuntut kesiapsiagaan operasional dan ketanggapsegeraan untuk menghadapi setiap ancaman dan gangguan dari luar negeri maupun dalam negeri.
"Upaya untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI tersebut, telah digelar satuan-satuan TNI dari berbagai matra sesuai tugas dan fungsi masing-masing dan di antaranya peran satuan PPRC sebagai penindak awal terhadap `trouble spot` yang terjadi di seluruh NKRI," tuturnya.
Sumber : Antara -
Empat unit pesawat Super Tucano, yang diberangkatkan dari Halim Perdana Kusuma, setelah dari Brasil, sudah tiba di Bandara Abd Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Minggu (2/9/2012), pada pukul 11.00 WIB.

Pesawat Tempur Ringan Super Tucano TNI AU tiba di Lanud Abd Saleh, Malang, Jawa Timur
Hadir dalam penyambutan super Tucano adalah Marsekal Muda TNI Agus Supriatna, Pangkoops AU II Makassar didampingin Danlanud Abd Saleh, Malang, Marsekal Pertama TNI Gutomo dan hadir pula kepala daerah di Malang, Bupati Malang Rendra Kresna, Wali Kota Malang Peni Suparto dan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko.
Sebelum mendarat, empat pesawat buatan Brasil itu beratraksi dikawal pesawat Hercules. Saat mendarat, para pilot langsung disambut tarian sambutan di depan Hanggar. Adapun para pilot pesawat tempur itu di antaranya Kapten Almir Sumar De Azevedo, Kapten Carlos Moreira Chaster, Kapten Airton Manoel Rodrigues dan Kapten William Souza.
Usai acara penyambutan kepada wartawan Pangkoops AU II Agus Supriatna mengatakan bahwa pesawat super Tucano itu untuk membantu operasi di darat maupun di laut.
"Pada 17 September mendatang, baru akan akan diserahkan secara resmi ke negara atau ke ke pihak TNI AU," katanya.
Saat ini jelas Agus, baru ada 4 unit pesawat yang tiba di Indonesia. "Totalnya ada 16 pesawat. Semoga dengan adanya hubungan baik dengan Brasil, pada akhir tahun depan, sisanya bisa selesai dan tiba di Indonesia," katanya.
Pesawat Super Tucano itu, menurut Agus Supriatna, untuk di tingkat ASEAN, baru Indonesia yang memakainya. "Negara di ASEAN baru Indonesia. Kalau di Amerika Latin, sudah lama pakai pesawat ini," katanya.
Ditanya soal keunggulannya, Super Tacano dinilai untuk jarak jangkaunya luar biasa. "Misalnya, kalau dari Malang, membawa bom, atau alat tempur, bisa kuat sampai ke Balikpapan. Dan pesawat ini bisa membawa 6 bom," katanya.
Mengapa ditaruh di Malang? Agus menegaskan, karena di Abd Saleh sudah dilengkap alat perawatannya. "Sudah 2 tahun lalu, alat perawatan untuk pesawat ini kita pikirkan. Tapi kalau dibutuhkan bisa langsung diterbangkan ke lokasi," katanya.
Semua fasilitas tambahnya, sudah ada di Lanud Abd Saleh Malang. "Kalau sudah memungkinkan akan dikirim ke lokasi, sekarang ditaruh di pangkalan induk (Abd Saleh). Tidak bisa kalau ditaruh di lokasi operasi. Misalnya ditaruh di perbatasan. Kalau sudah ada pangkalannya, bisa langsung ditaruh di perbatasan. Karena memang pesawat untuk perbatasan," katanya.
Sementara itu, menurut Dan Lanud Abd Saleh Malang Marsekal Pertama TNI Gutomo, untuk para pilot sudah dipersiapkan.
"Sejak 2 tahun lalu, untuk para pilot sudah mulai dididik kualitasnya. Para penerbang sudah disebar untuk meningkatkan kualitas penerbangan. Kalau sudah baik dan kualitas penerbangannya sudah bagus ditarik lagi ke sini untuk pesawat super Tucano," katanya singkat.
Sumber : Kompas -
Empat pesawat ini merupakan pengiriman pertama, dari total 16 unit pesawat yang dipesan
Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya Dede Rusamsi mengatakan, TNI AU telah mempersiapkan jumlah penerbang yang cukup, untuk mengawaki satu skuadron pesawat tempur taktis Super Tucano EMB 314 yang akan dimiliki TNI AU.
Pesawat Tempur Ringan Super Tucano EMB 31 TNI AU
Hal ini dikatakannya saat upacara penyambutan kedatangan empat pesawat Super Tucano di Lanud Halim Perdanakusuma pada hari Sabtu (1/9).
Pesawat tiba di Indonesia, setelah menjalani penerbangan selama dua minggu dari lokasi pabriknya Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), di San Jose dos Campos, Brazil.
Empat pesawat ini merupakan pengiriman pertama, dari total 16 unit pesawat yang dipesan oleh TNI AU, untuk menggantikan pesawat OV 10 Bronco di Skuadron 21 Lanud Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur.
“Sebagian dari penerbangnya adalah mantan penerbang Bronco, namun kami juga melatih penerbang-penerbang baru,” ujar Dede.
Pesawat Tempur Ringan Super Tucano di Langit Halim
TNI AU telah mengirim empat personilnya untuk berlatih, sebagai penerbang pesawat tempur taktis ini dan dari pelatihan itu, mereka juga sudah memenuhi kualifikasi sebagai pelatih.
Dengan kekuatan satu skuadron yang terdiri dari 16 pesawat, TNI AU harus menyiapkan 24 pilot untuk awak pesawat jenis ini.
Salah satu penerbang Embraer yang ikut menerbangkan pesawat ini, Kapten William Souza mengatakan, dari delapan penerbang Embraer yang turut dalam pengiriman pesawat ini, tiga di antaranya akan tinggal di Malang hingga akhir tahun.
“Kami akan melatih pilot-pilot angkatan udara Indonesia,” ujar William.
Dede juga mengatakan bahwa TNI AU akan memastikan adanya alih teknologi, dalam pemeliharaan terkait pembelian pesawat ini.
Komponen alih teknologi merupakan salah satu ketetapan, dalam setiap kontrak pengadaan alat utama sistem pertahanan militer Indonesia, dari produsen luar negeri, dalam rangka membangun kemandirian industri pertahanan Indonesia.
“Sudah ada personil yang dilatih sehingga nanti perawatan pesawat bisa dilakukan sendiri,” ujar Dede.
Empat pesawat ini singgah satu hari di Jakarta setelah sebelumnya singgah di Lanud Suwondo, Medan, Sumatra Utara.
Mereka akan meneruskan perjalanan pada hari Minggu, menuju tujuan akhirnya yaitu Lanud Abdurrahman Saleh di Malang, yang akan menjadi pangkalan pesawat-pesawat Super Tucano ini.
Sumber : Berita Satu -
Pengganti OV-10F Bronco telah tiba, yaitu empat Embraer EMB-314 Super Tucano, yang baru saja mendarat dari penerbangan feri di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu siang. Secara keseluruhan 16 pesawat turboprop multi fungsi itu dibeli Indonesia dari Brazil; empat lagi akan tiba dalam batch kedua pada awal tahun depan; dan batch terakhir pada pertengahan tahun itu juga.

Pesawat Tempur Ringan - Embraer EMB-314Super Tucano Pesanan TNI AU
"Pada Januari 2013 akan datang kembali empat unit Super Tucano. Pesawat ini akan terus berdatangan ke Indonesia hingga mencapai 16 unit atau satu skadron," kata Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi, Sabtu siang. Dia menyaksikan sendiri pendaratan secara berturutan keempat Super Tucano versi kursi ganda itu, yang diterbangkan delapan pilot pabrikan Embraer, dari pabriknya di Sao Jose dos Campos.
Bukan dia sendiri yang menyaksikan dan menyambut tim penerbang uji Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) yang dipimpin Carlos A Vieira itu, puluhan pejabat TNI AU juga selain mendekati 100 jurnalis Tanah Air. Penerbangan feri dari Sao Jose dos Campos ke Jakarta ditempuh dalam 12 hari penerbangan menyinggahi 12 negara dan belasan kota. Tidak ada hambatan apapun dalam penerbangan feri itu dan sebelum Jakarta, mereka menyinggahi Bandara Suwondo, Medan.
Secara organisasi, skuadron Super Tucano itu ditempatkan di Skuadron Udara 21 di Pangkalan Udara Utama TNI AU Abdurrahman Saleh, Malang. Skuadron udara ini sejak dulu memang dikenal sebagai "rumah"-nya skuadron intai dan pemburu sergap musuh di darat selain patroli dan keperluan lain.
Satu tipe pesawat tempur yang sangat terkenal dari skuadron itu adalah OV-10F Bronco yang telah dipensiunkan sejak 2007 dan kebanyakan bekas-bekas pesawat tempur buatan Rockwell, Amerika Serikat, itu dijadikan monumen dengan keadaan sekedarnya.
Super Tucano hadir dikelir kelabu perpaduan pegunungan dan wilayah maritim Indonesia secara umum dengan hiasan taring hiu di bibir merah darah rancangan mantan panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, almarhum Marsekal Muda TNI Faustinus Djoko Poerwoko. Nomor registrasinya juga masih memakai registrasi Brazil walau logo bendera Merah-Putih ada di kemudi tegaknya.
Rusamsi menyatakan, arsenal baru TNI AU itu juga efektif sebagai anti perang gerilya karena kecepatannya pas dan bisa dilengkapi berbagai jenis persenjataan ringan hingga berat.
Yang penting juga, katanya, TNI AU telah mengganggarkan dana untuk kesenjataan pesawat tempur taktis multifungsi itu. Jajaran persenjataan telah dibuktikan banyak negara cocok untuk dipasang di lima hard point atau pod persenjataannya, mulai dari senapan mesin berat kaliber 12,7 milimeter, bom konvensional Mk-81 dan Mk-82, peluru kendali udara-ke-udara jarak pendek AIM-9 Sidewinder, hingga peluru kendali Piranha.
Karena ini terbang feri untuk pengantaran pesawat terbang baru, kata Rusamsi, persenjataan Super Tucano tidak dipasang. Saat mendarat, kesemua pod senjatanya memang kosong, dan tiga di antaranya diganti sementara dengan tangki eksternal untuk memperpanjang jarak tempuhnya dari semula 1.600 kilometer menjadi sekitar 2.500 kilometer dalam kecepatan jelajah 500 kilometer perjam.
Harap diingat, tanpa persenjataan yang menggetarkan dan seharusnya, Super Tucano tidak akan berfungsi maksimal sebagai penjaga kedaulatan Indonesia di udara ataupun darat.
Walaupun teknologi yang dibenamkan Embraer di dalam tubuhnya sekelas dengan PC-21 buatan Pilatus, Swiss, yang harganya jauh lebih mahal dari dia. Disebut-sebut, harga 16 unit Super Tucano itu sekitar 143 juta dolar Amerika Serikat, yang dibayarkan melalui fasilitas kredit ekspor.
Sumber : Antara -
EMPAT unit pesawat tempur taktis jenis Super Tucano EMB 314, Sabtu (1/9) siang tiba di Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur. Kedatangan empat pesawat tempur bermesin turboprop tersebut merupakan bagian dari pembelian 16 unit pesawat Super Tucano yang dilakukan TNI Angkatan Udara dari Embraer, produsen pesawat asal Brasil.

Pesawat Super Tucano Pesanan TNI AU Tiba di Halim
Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Dede Nursyamsi, menyatakan, pembelian 16 unit pesawat Super Tucano tersebut dimaksudkan untuk mengganti pesawat OV-10 Bronco Skadrin Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur. "Pesawat yang dibeli TNI AU ini tipe EMB-314/A-29B (kursi tandem) berkemampuan serang antigerilya, pengendali udara depan, dukungan udara dekat, penyekatan dan pertahanan udara dengan kemampuan tambahan pesawat latih dan fungsi pengawasan udara (air surveillance)," ujar Dede saat acara penyambutan yang diiringi pentas tari tradisional.
Keempat pesawat tersebut tiba Halim sekitar pukul 11.30 WIB setelah menempuh perjalanan panjang dari Brasil. Lamanya perjalanan, mengharuskan keempat pesawat yang diawaki oleh 8 pilot itu singgah di 14 lokasi.
Dede menjelaskan, penerbangan dari pabrikannya di San Jose Jos dos Campos, Brasil yang juga lazim disebut sebagai ferry flight dimulai pada 20 Agustus 2012 lalu dan melintasi 12 negara. "Selanjutnya pada esok hari atau Minggu (2/9), pesawat akan menempuh leg terakhirnya menuju Lanud Abdulrahman Saleh, Malang,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan Dede, kedatangan empat burung besi ini merupakan tahap pertama. Selanjutnya pada bulan Januari 2013 mendatang akan tiba 4 pesawat lagi dan seterusnya hingga melengkapi jumlah 16 unit.
Dede memastikan, TNI telah siap dalam hal pemeliharaan maupun alih teknologi pesawat Super Tucano itu. Termasuk kesiapan para penerbang TNI AU mengoperasikan pesawat dengan berat maksimum 5,4 ton tersebut. "Alih teknologi sejak tingkatan ringan, sedang dan berat.Personel kami sedang dilatih dan siap mengoperasikan. Pembinaan penerbang kami lakukan berkesinambungan sesuai sesuai kapabilitas," katanya. (Jurna)
Indonesia Beli 16 Super Tucano Senilai Rp2,7 Triliun
Empat pesawat tempur Super Tucano yang dibeli TNI Angkatan Udara dari perusahaan Embraer, Brasil, tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu 1 September 2012. Indonesia memesan 16 pesawat atau satu skuadron.
"Ini adalah pesawat yang kedatangannya kami tunggu sejak lama," ujar Wakil Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Madya Dede Nursamsi di Jakarta, Sabtu 1 September 2012.
Menurut Dede, 16 pesawat tempur ini nantinya akan ditempatkan di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur. Pesawat-pesawat ini akan menggantikan tugas pesawat 0V-10 Bronco.
Dede mengatakan, untuk membeli satu paket yang terdiri dari delapan pesawat Super Tucano, Indonesia harus merogoh kocek sebesar US$143 juta (sekitar Rp1,36 triliun). "Kami pesan dua paket yang berarti berjumlah 16 pesawat," kata Dede.
Dia menambahkan, keempat pesawat yang tiba di tanah air hari ini diterbangkan dari Brasil menuju Indonesia oleh awak dari Embraer. Pesawat itu berangkat pada tanggal 20 Agustus 2012.
Keempat Super Tucano juga singgah 14 kali di sejumlah negara. Selama perjalanan itu, pesawat-pesawat ini melintasi 12 negara, seperti Brasil, Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Thailand, kemudian tiba di Halim dan akan berakhir di Malang.
"Total jam terbang dari Brasil hingga nanti menuju Malang sekitar 54 jam 35 menit selama kurun 14 hari penerbangan," ujarnya. (Viva)
14 Hari Melintasi 12 Negara di 4 Benua
Dari pantauan Seputar Indonesia(SINDO) di lapangan, pendaratan Super Tucano di Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta berlangsung mulus. Sebelum mendarat, keempat unit pesawat tempur taktis tersebut terlihat terbang berjajar dalam jarak berdekatan. Satu per satu lantas berbalik arah ke sisi kiri untuk mengambil posisi mendarat di landasan. Setelah satu per satu pesawat mendarat, keempatnya melaju pelan menuju tempat parkir pesawat dibimbing sebuah mobil.
Jajaran petinggi TNI AU yang dipimpin wakil KSAU sudah menunggu sedari tadi kedatangan pesawat tersebut. Kedatangan pesawat tersebut dari Brasil bukanlah perkara mudah.Butuh waktu yang panjang untuk pesawat yang moncongnya berlukiskan hiu berwarna merah itu sampai di Jakarta.Pesawat yang dipiloti penerbang dari Embraer tersebut harus berhenti hingga 14 kali di 12 negara di empat benua.
Total jam terbang dari Brasil ke Malang sekitar 54 jam 35 menit. Menurut pilot Embraer, Capt William Souza, pesawat diberangkatkan dari pabriknya di Gaveao Peixoto San Jose dos Campos Brasil pada 20 Agustus 2012.Di Brasil pesawat berhenti dua kali,di Recife dan Fernando de Noronha Island. “Kemudian terbang ke Sal Island di Cape Verde.Perjalanan dari Brasil ke Cape Verde enam jam 15 menit,”terangnya usai mendarat.
Dari Cape Verde, penerbangan dilanjutkan menuju Gran Canaria Island di Spanyol, lalu terbang lagi ke Nador di Maroko. Dari Maroko, rombongan yang tiap pesawat diisi dua orang itu terbang ke Palermo (Italia) dan diteruskan ke Athena (Yunani). “Kemudian ke Luxor (Mesir), diteruskan ke Doha (Qatar), terbang lagi ke Muscat (Oman),” bebernya. Dari negara Timur Tengah, Super Tucano masuk wilayah Asia, yakni India.
Di negeri Mahatma Gandhi itu Super Tucano berhenti dua kali, masing-masing di Ahmedabad dan Kolkota. Penerbangan dilanjutkan ke Rayong,Thailand. “Baru kemudian masuk ke Indonesia di Medan dan hari ini (Sabtu, 1/9) tiba di Jakarta. Besok (Minggu, 2/9) ke Malang,” kata William.
Dalam kondisi normal, pesawat yang dilengkapi dua senapan mesin itu hanya sanggup terbang 3,5 jam karena daya tampung bahan bakar internal sebanyak 648 liter. “Kita pasang tiga drop tank sehingga bisa terbang selama kurang lebih tujuh jam,”tutur William Souza (sindo)
Gambar : vivanews -
Kementerian Pertahanan (Kemhan) diminta memprioritaskan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk wilayah laut dan udara mengingat sangat luasnya cakupan keduanya. Indonesia adalah negara maritim dan memiliki luas kekuasaan udara yang besar. Selayaknya pertahanan di dua wilayah itu diperkuat.

Kapal Perang TNI AL (Antara.com)
"Pada 2013, Kemhan harus merencanakan sungguh-sungguh anggaran untuk alutsista. Itu diperlukan agar dana yang besar tersebut dapat digunakan sebaik-baiknya guna meningkatkan pertahanan Indonesia," kata Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti, kepada Koran Jakarta, Selasa (28/8).
Pernyataan itu menanggapi kenaikan anggaran pertahanan pada 2013 menjadi 77 triliun rupiah atau naik sekitar 5 triliun rupiah dibandingkan tahun lalu. Pernyataan itu kembali dipertegas karena Imparsial melihat, pada 2012, Kemhan justru memprioritaskan pengadaan alutsista untuk kekuatan darat.
Salah satu pengadaan alutsista yang menonjol pada 2012 ini adalah pengadaan 100 unit main battle tank Leopard dari Jerman. Dari segi alokasi anggaran saja, lanjut dia, TNI AD mendapatkan jatah anggaran hingga 30 triliun rupiah pada 2012. Bandingkan dengan TNI AL yang hanya 9 triliun rupiah dan TNI AU yang hanya 8 triliun rupiah.
Berdasarkan alokasi anggaran itu, Poengky melihat pemerintah masih mengandalkan kekuatan darat dibandingkan laut dan udara. Poengky juga berharap Kemhan meningkatkan keterampilan prajurit, terutama prajurit yang mengawaki alutsista laut dan udara. Apalagi semakin hari teknologi alutsista semakin canggih dan modern.
Menanggapi hal ini, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan bahwa kebijakan mengerem pertumbuhan prajurit tak akan berlaku untuk para prajurit ahli seperti pengawak. "Artinya, kalau ada 10 prajurit yang pensiun, kita harus merekrut 10 prajurit lain," kata Purnomo.
Tetap Seimbang
Menurut dia, penting diberlakukan manajemen sirkulasi yang baik agar jumlah kekuatan personel tetap seimbang. "Bukan berarti bahwa zero growth itu nol, dan tidak berarti persis sama dengan yang keluar. Kita menyadari ke depan butuh personel banyak karena akan ada tambahan banyak skuadron tempur dan skuadron angkut," jelas dia.
Purnomo bahkan menjanjikan akan mengadakan program pendek untuk para penerbang TNI. Di samping itu, lanjut dia, akan ada dua program lagi untuk menempatkan personel dalam jumlah yang pas di bagian tertentu. Kemhan juga akan membuat standar prajurit yang lebih baik. Sebagai contoh, ketika ada restrukturisasi Kodam dan terdapat sejumlah unit baru, tak harus ada penambahan personel.
Bisa saja dengan melakukan perpindahan personel. Sebelumnya, DPR banyak menyoroti keterampilan prajurit yang kurang seiring semakin masifnya pemerintah melakukan belanja alutsista. Anggota Komisi I DPR, Susaningtyas Kertopati, menyatakan alutsista secanggih apa pun, tanpa diimbangi dengan dukungan pengawak yang profesional, hanya akan menjadi onggokan barang yang tak bernilai.
Selain itu, tambah dia, Kem han harus disiplin dalam menggunakan dana, baik untuk kegiatan strategis maupun operasional. Untuk itu, Kemhan harus transparan dalam penggunaan dananya agar publik dapat ikut mengawasi. "Kemhan harus transparan mengalokasikan dana. Yang penting, belanja alat utama sistem senjata (alutsista) harus sebanding dengan dana operasional bagi pengembangan sumber daya manusia, khususnya pengawak dan prajurit," kata dia.
Disiplin terhadap rencana strategis, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang, itu penting. Sudah transparan atau belumnya penggunaan anggaran tak akan terlaksana dengan baik jika tak didukung DPR. Kesejahteraan prajurit harus menjadi bagian yang utama. "Alutsista memang penting, tapi alutsista modern dan canggih harus sejalan dengan meningkatnya kemampuan prajurit," kata dia. nsf/P-3
Sumber : Koran Jakarta -
Markas Besar TNI mengklaim rudal AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round" sebagai bagian dari kebutuhannya. "Itu salah satu kelengkapan pesawat yang dibutuhkan oleh TNI," kata Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul kepada wartawan, Senin, 27 Agustus 2012.

Peluru Kendali (Rudal) AGM-65K2 ''Maverick All-up-round''.
Namun Iskandar mengatakan akan menyerahkan rencana pembelian rudal itu pada Kementerian Pertahanan. "Tentu semuanya harus disesuaikan dengan anggaran yang ada, urusan itu biar Kemhan yang memutuskan," kata Iskandar.
Iskandar memastikan TNI memerlukan 18 paket peluru kendali pabrikan Raytheon Co ini. "Kalau punya pesawatnya, tentu harus dilengkapi dengan sistem persenjataan yang memadai," ujar dia.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyatakan persetujuannya untuk menjual perangkat rudal F-16 ke Indonesia. Berdasarkan nota yang dikirim pada Rabu pekan lalu itu, Indonesia disebut-sebut meminta paket 18 rudal jenis AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round", 36 rudal untuk latihan para pilot, tiga rudal latihan "perawatan" beserta suku cadangnya, perlengkapan pengujian, serta latihan personal.
Rudal AGM-65 buatan Raytheon Co itu dirancang untuk menyerang target jarak jauh, termasuk kendaraan lapis baja, pertahanan udara, transportasi darat, dan fasilitas penyimpanan. "Penjualan ini akan menjadikan Indonesia mitra regional yang berharga di sebuah wilayah penting di dunia," kata Pentagon, seperti dikutip dari laman Business Recorder, Ahad 26 Agustus 2012.Sumber : TempoPesawat Jet Tempur Tanpa Rudal Jarak Jauh Tak Ada Gunanya
Indonesia harus bisa memainkan posisi tawar dalam negosiasi pengadaan alutsista
Memperkuat persenjataan pada pesawat jet tempur F-16, adalah hal yang niscaya karena pesawat jet tempur tanpa dipersenjatai rudal terpandu jarak jauh, tidak ada gunanya .
Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie
Hal ini dikatakan oleh pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, menyusul berita yang dilansir kantor berita Reuters dari Washington DC, Amerika Serikat pada Jumat (24/8), yang melaporkan pemerintah Presiden Barack Obama, telah mengusulkan untuk menjual rudal terpandu jarak jauh dan peralatan terkait senilai 25 juta dollar Amerika, untuk melengkapi armada pesawat jet tempur F-16 yang dimiliki Indonesia.
“Pesawat jet tempur memang harus bisa menembak, tapi harus diperhatikan apakah hal ini memang sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Udara sebagai penggunanya,” ujar Connie ketika dihubungi, Minggu (26/8).
Indonesia disebutnya harus bisa memainkan posisi tawar, yang lebih baik dalam negosiasii pengadaan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) dengan Amerika Serikat, mengingat Amerika Serikat memandang posisi strategis Indonesia, dan dianggap sebagai kekuatan pengimbang terhadap China di kawasan Asia.
Dalam hal ini dan dengan konteks sengketa di kawasan Laut China Selatan antara China, Taiwan dan empat negara anggota ASEAN, Connie mengatakan Indonesia dapat menggunakan posisi tawarnya, untuk meminta Amerika agar mendukung penguatan kekuatan militer Indonesia di laut dan tidak hanya di udara.
"Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk mendapatkan perjanjian kerjasama yang lebih baik untuk membangun armada laut baru, seperti Armada Pasifik dan Armada Lautan Hindia, sehingga melengkapi Armada Barat dan Armada Timur yang sudah ada,” ujar Connie.
Namun Connie mengatakan bahwa kebijakan politik luar negeri Indonesia bebas aktif, dengan semboyan one thousand friends zero enemy dapat menimbulkan kebingungan, untuk menentukan aliansi yang kuat dengan salah satu kekuatan besar di dunia, walau hal ini juga dapat digunakan untuk menjalin kerjasama yang lebih erat dengan Amerika dan China.
Connie memberikan contoh bahwa Indonesia dapat membagi kerjasama militernya dengan kedua negara tersebut, dalam membangun dan memperkuat armada laut, misalnya membangun Armada Barat dan Samudera Hindia dengan China, sementara Armada Timur dan Pasifik dengan Amerika.
“Ini akan membuat Indonesia sebagai negara dengan kekuatan pengimbang yang sebenarnya. Menurut saya, ini adalah gerakan non blok abad ke-21,” ujar Connie.
Sumber : Berita Satu -
Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyelenggarakan latihan bagi Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI tahun 2012. Latihan TNI melibat 2.500 prajurit TNI terdiri dari unsur Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, terbagi dalam dua kelompok latihan yaitu latihan Posko dan latihan lapangan.
Latihan Posko berlangsung di Markas Komando Divisi I/Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, 27-30 Agustus 2012. Sedangkan latihan lapangan akan berlangsung di Natuna, Kepulauan Riau, 31 Agustus 2012 sampai 9 September 2012.
“Latihan PPRC ini harus menganalisa secara terus-menerus terhadap kecenderungan perkembangan situasi serta mengevaluasi kemampuan dan batas kemampuan TNI dalam menyusun gelar kekuatan inter-operability Satgas darat, satgas laut, satuan pelaksana operasi (Satlakops) udara, serta menyusun strategi atau skenario-skenario parsial dalam pengamanan obyek vital nasional di kawasan Natuna, yang merupakan gerbang ekonomi Indonesia ke kawasan Asia Timur,” kata Panglima TNI dalam amanatnya dibacakan oleh Kepala Staf Umum TNI, Marsekal Madya TNI Daryatmo pada upacara Pembukaan Latihan PPRC TNI tahun 2012 di Markas Komando Divisi Infanteri I/Kostrad, Cilodong, Jawa Barat, Senin (27/8).
Panglima TNI mengatakan Indonesia memberikan perhatian terhadap perkembangan situasi yang terjadi di kawasan laut China Selatan utamanya dengan munculnya kerawanan dan potensi ancaman yang dapat memengaruhi stabilitas nasional. Sebab Indonesia memiliki kepentingan khususnya pada aspek politik, ekonomi, militer dan pertahanan.
Menurut Panglima TNI, Indonesia tidak dalam klaim wilayah di perairan laut China tersebut, namun dengan munculnya tindakan sepihak melalui penerbitan peta unilateral laut China Selatan tahun 1993 yang mencantumkan sembilan garis putus-putus di laut China Selatan, atau yang dikenal dengan Nine Dotes Lines atau “U” Shape Lines atau Nine-Dash Line, dinilai telah mengganggu zona ekonomi ekslusif Indonesia di utara Kepulauan Natuna.
Dalam perspektif keamanan nasional Indonesia, eskalasi sengketa laut China Selatan dan keberadaan Nine Dotes Lines, tentunya akan berimplikasi pada penguatan pertahanan dan gelar operasi TNI. Tujuannya untuk mengamankan kepentingan nasional Indonesia dalam rangka meminimalisasi terjadinya spill over konflik laut China Selatan yang muncul dan mengamankan berbagai obyek vital di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia tersebut.
Menurutnya, situasi tersebut kemungkinan akan dihadapi di tahun 2012 dan lima tahun ke depan. Oleh karena itu, Panglima TNI mengharapkan kepada seluruh perwira agar benar-benar mampu membaca situasi berikut segala kecenderungannya.
Dengan demikian dapat meningkatkan pemikiran prediktif dan langkah antisipatif dalam menetapkan strategi dan memelihara skala prioritas pembangunan serta pengerahan kekuatan PPRC TNI dihadapkan fluktuasi kondisi ekonomi dan keuangan negara.
Di sisi lain, perkembangan situasi dapat diskenariokan bagi kepentingan latihan PPRC TNI guna mencapai realisme latihan baik dari aspek strategis, operasional, taktik, teknik dan prosedur, maupun aspek psikologis serta aspek penelitian dan pengembangan.
Menurutnya, TNI sebagai institusi negara terus dihadapkan kepada hamparan tantangan tugas yang tidak semakin ringan. Di tengah kuatnya arus globalisasi yang semakin membuka lebar “keran” persaiangan pengembangan kekuatan militer di setiap belahan kawasan dunia.
Dalam konteks energi, kendatipun dinamika yang tampak di permukaan bernuansa ekonomi, namun sesungguhnya di garis belakang setiap negara cenderung menyiapkan perangkat pengamanan, termasuk di dalamnya “mesin militer” guna mempertahankan wilayah kedaulatan dan menjamin keberadaan sumber energi yang menjadi ladang ekonomi suatu negara. (Jurnas)
KASUM TNI BUKA LATIHAN PPRC TNI KILAT XXIX 2012
Kepala Staf Umum (Kasum)TNI Marsekal Madya TNI Daryatmo, S.IP., mewakili Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., bertindak selaku Inspektur Upacara pada pembukaan Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI KILAT XXIX tahun 2012, bertempat di Markas Divisi Infanteri-1/Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin (27/8). Bertindak selaku Komandan Upacara, Kolonel Laut (T) Andy Kriswanto yang sehari-hari menjabat sebagai Asintel Guspurlabar.
Upacara Pembukaan Latihan PPRC 2012
Personel TNI yang terlibat dalam Latihan PPRC TNI Kilat XXIX 2012 sebanyak 2500 prajurit TNI, terdiri dari 40 personel Satkomlek, 487 personel Satlinud, 25 personel KDOL, 508 personel Satlakopsud, dan 1025 personel Satgasla.
Panglima TNI dalam amanatnya yang dibacakan oleh Kasum TNI menekankan, kepada peserta latihan, agar melaksanakan latihan ini dengan penuh kesungguhan, dedikasi dan disiplin tinggi serta penuh rasa tanggung jawab. Pelihara realisme latihan dan disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis serta kemungkinan kontinjensi yang mungkin timbul di wilayah daratan, sehingga dapat mewujudkan suatu konsep strategi penangkalan dan penindakan yang dapat dioperasionalkan dalam kondisi yang sebenarnya.
Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan, rencana operasi yang dirumuskan harus dapat memvisualisasikan gambaran konsep operasi yang terintegrasi dan terkoordinasi, baik berupa manuver maupun bantuan yang diperlukan serta kembangkan tactical floor game (TFG), table top game dan tactical air maneuver game (TAMG), guna meningkatkan kemampuan satuan dan kemampuan perorangan.
Inkspeksi Peserta Latihan PPRC 2012
Jadikan latihan ini sebagai sarana kajian dan evaluasi, guna menyempurnakan dokumen strategis operasional TNI, yang menuntut keterpaduan inter-operability antar unsur PPRC TNI dan perhatikan faktor keamanan personel maupun materiil selama pelaksanaan latihan, kata Panglima TNI.
Untuk itu, lanjut Panglima TNI, pegang teguh prosedur tetap yang telah dibuat dan dilatihkan, serta jaga kondisi fisik agar pelaksanaan latihan tidak menjadi beban atau bahkan mengakibatkan timbulnya kerugian.
Geladi Mako PPRC TNI Kilat XXIX 2012 dilaksanakan mulai tanggal 27 Agustus sampai dengan 31 Agustus 2012, di Markas Divisi Infanteri-1/Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat. Sementara itu, Gladi Lapangan akan diselenggarakan di Natuna Kepulauan Riau pada tanggal 31 Agustus sampai dengan 7 September 2012.
Turut hadir dalam upacara pembukaan tersebut, antara lain Irjen TNI Letjen TNI Geerhan Lantara, para Asisten Panglima TNI dan Angkatan, Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, S.E., serta beberapa Pejabat Teras Mabes TNI dan Angkatan. (Puspen TNI)
-
Brigif 9 Kostrad Merebut kembali Wilayah Sumatera yang Dikuasai Negasor
27 Agustus 2012, Medan: Brigif 9 Divif-2 Kostrad yang berkedudukan di Jawa Timur bergerak menuju wilayah Baturaja Sumatera Selatan yang saat ini dikuasai pasukan negasor. Musuh atau negasor dari wilayah Utara Laut Cina Selatan, telah berhasil memasuki wilayah NKRI khususnya di Pulau Sumatera dan menempatkan pasukannya di beberapa wilayah mulai dari Lampung, Palembang dan Baturaja. Kekuatan musuh yang berada di Baturaja di perkirakan 1 Batalyon Plus.
Brigif 9 melaksanakan Serpas(pergeseran pasukan) dengan menggunakan beberapa KRI Angkatan Laut dari Tanjung Perak Surabaya menuju ke pelabuhan Teluk Panjang, antara lain KRI Teluk Parigi 539, KRI Teluk Lampung 540, KRI Tanjung Kambani 971, KRI Banjarmasin 592, KRI Teluk Ambonia 503, dan KRI Teluk Menado 537. Selain gerakan pasukan melalui laut dan darat, Brigif 9 juga diperkuat oleh Batalyon Linud 501/18/2 yang akan diterjunkan untuk melakukan infiltrasi ke daerah musuh.
Setelah mendarat di Teluk Panjang pasukan bergerak dengan farmasi kolone taktis menggunakan jalur darat menuju lokasi yang sudah diduduki musuh. Selama perjalanan pasukan mendapat gangguan baik serangan maupun ranjau dari pihak musuh. Serangan dapat diatasi oleh pasukan Brigif 9 dan terus bergerak menuju lokasi musuh. Sedangkan gangguan ranjau dapat diatasi oleh Zeni Tempur (Zipur)-10/2 Kostrad.
Setelah mendekat ke daerah sasaran Pasukan infanteri terus bergerak dilindungi oleh Batalyon Armed 12/1/2 Kostrad dengan melakukan tembakan penyokong menggunakan Meriam 105 mm ke arah musuh.
Demikian juga Kavaleri 8/2 Kostrad, Arhanud (Pertahanan Artileri Udara) -2/2 Kostrad, dan Penerbad (Penerbangan Angkatan Darat) melakukan bantuan tembakan dari darat dan udara.
Dengan adanya serangan yang melihatkan kecabangan yang ada di TNI AD, musuh dapat dihancurkan. Setelah sasaran dapat direbut, dilanjutkan dengan Operasi Mobil Udara dengan menggunakan sejumlah helikopter untuk melakukan pengejaran terhadap musuh yang melarikan diri.
Demikian skenario Latihan Antar Kecabangan TNI AD 2012 di daerah Baturaja Sumatera. Pada tahun ini TNI Angkatan Darat akan mengadakan latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade TNI AD. Latihan akan dilaksanakan 26 Agustus sampai dengan 4 September di Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD Baturaja Sumatera Selatan.
Latihan terbesar TNI AD selama 20 tahun terakhir ini mengambil tema “Brigade Tim Pertempuran melaksanakan operasi Militer untuk perang dalam rangka menjaga keutuhan wilayah NKRI”. Prajurit yang akan dilibatkan dalam kegiatan latihan sebanyak 6000 personel dengan menggunakan Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) yang akan dicoba dalam medan yang sesungguhnnya.
Satuan yang terlibat dalam latihan Brigif 9 Kostrad terdiri atas: Kompi Mekanis- A Yonif 201/Damjaya, Yonkav-8/2K, Yonarmed-12/I/2/ Kostrad, Yonarhanudri-2/2/K, Yonzipur-9/2/K, Ki Pernika Yonhub/2/K, Kibekang Yonbekang 2/2/K, Kikes-A Yonkes 2/2/K, Tonpom Kipom Div 2/K, Kipal Divif-2/K, Detasemen Penerbangan TNI Angkatan Darat, Satuan tugas penerangan Dispenad, Direktorat hukum Angkatan Darat.
Adapun tujuan latihan meningkatkan kemampuan tempur perorangan menuju terciptanya kerjasama antar kecabangan dalam Brigade Tim Pertempuran (BTP) serta menyelenggarakan Operasi tempur yang didukung operasi Sandi Yudha Intelijen dan Teritorial.
Sumber: Dispenad -
Dalam latihan udara Pitch Black 27 Juli-13 Agustus lalu di Australia, penerbang dan jet-jet Sukhoi Su-27/30 Flanker TNI AU dianggap sebagai rekan berlatih utama dan tamu kehormatan. Kehadiran pesawat tempur buatan Rusia yang amat disegani Barat ini sudah diharapkan sejak lama. Australia, AS dan sejumlah negara ingin sekali melihatnya dari dekat dan mengajaknya berlatih bersama. Ajakan itu akhirnya dipenuhi Indonesia dalam Pitch Black ke-12 yang baru saja berakhir. Tim Indonesia dipimpin langsung oleh Wakasau Marsda TNI Dede Rusamsi.

Super Hornet Australia Berdampingan Dengan Sukhoi Indonesia Kini, ketegangan AU Australia terhadap pesawat-pesawat tempur buatan Rusia itu sudah mencair. Kerjasama lebih jauh dengan TNI AU tampaknya juga mulai terbuka lebar. Mereka puas bisa berlatih bersama, terlebih karena jet andalan mereka F/A-18F Super Hornet AU Australia bisa "duel" di langit Tindal dan Darwin. Pemandangan langka ini disaksikan peserta tetap Pitch Black, yakni Korp Penerbangan Marinir AS, AU Thailand, AU New Zealand, dan AU Singapura. Selain Super Hornet dan Flanker, ikut berlatih juga di sini di antaranya: F-16 Fighting Falcon, F/A-18 Hornet, F-15 Eagle, dan AP-3C Orion.Lalu apa kata penerbang jet Sukhoi Indonesia, yang semestinya juga menganggap latihan udara bersama ini sebagai pengalaman yang amat berharga? "Walau skalanya tidak sebesar Red Flag, latihan ini tampak direncanakan, dikelola dan dilaksanakan dengan sangat baik. Mereka memanfaatkan semua sumber yang ada dan dimiliki partisipan, sehingga latihan seperti real," ungkap Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb. Untung Suropati kepada Angkasa. Red Flag yang ia sebut adalah latihan pertempuran udara madya yang rutin dilakukan AU AS di Alaska dan Nevada.Ditambahkan, walau TNI AU sering berlatih operasi udara semacam ini, namun skala dan kompleksitas Pitch Black telah menambah wawasan, pengetahuan serta bekal yang lain bagi penerbang TNI AU. Mereka kini tahu seperti apa operasi gabungan skala besar multi-nasional. Untuk itu kesempatan ini sebaiknya memang diberikan juga kepada skadron udara lain.
Adakah kesan khusus terhadap F/A-18F Super Hornet, yang disandingkan sebagai "lawan tanding" Su-27/30? "Pesawat ini bagus. Thrust (daya dorong mesin) dan avioniknya jauh lebih baik dari Hornet yang klasik (F/A-18 Hornet). Tetapi untuk bisa maksimal, tetap kembali pada pilotnya. Seberapa terlatih dan seberapa terampil dia bisa memanfaatkan kelebihan yang ada," ungkapnya di sela-sela latihan Flypass 17 Agustus nanti di atas Istana Negara, Jakarta.
"Syukur kami bisa mengimbanginya. Berkat kerap berlatih dengan radar, RWR, extra thrust; mereka memberi apresiasi dan pengakuan yang luar biasa pada kemampuan BVR (Beyond Visual Range) combat dan Close Combat yang kami miliki," ujar Untung Suropati.Sumber : Angkasa -
F-16 block 52/militaryphotos.netWashington Pemerintah Barack Obama mengusulkan menjual rudal udara-ke-permukaan dan peralatan terkait untuk melengkapi armada pertahanan Indonesia yaitu F-16, pesawat tempur buatan AS. Penjualan senilai 25 juta dolar itu akan menjadi langkah terbaru AS untuk memperkuat hubungan keamanan dengan sahabat dan sekutunya, menyusul mencuatnya kekuatan China.
Usulan itu disampaikan pemerintah Obama kepada Kongres dalam surat pemberitahuan bertanggal Rabu 22 Agustus 2012, demikian diberitakan Reuters, Minggu (26/8/2012).
Dijelaskan, Indonesia ingin membeli 18 rudal AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round", 36 rudal pelatihan udara, 3 rudal pelatihan untuk pemeliharaan, ditambah suku cadang, peralatan uji dan pelatihan personel.
Rudal AGM-65 Maverick buatan Raytheon Co, dirancang untuk menyerang berbagai sasaran taktis, termasuk kendaraan lapis baja, pertahanan udara, kapal, transportasi darat dan fasilitas penyimpanan bahan bakar.
"Angkatan Udara Indonesia membutuhkan rudal ini untuk melatih para pilot F-16-nya dalam penggunaan senjata udara-ke-permukaan," kata Badan Kerjasama Hankam, Pentagon, dalam suratnya.
"Penjualan senjata ini akan berkontribusi untuk membuat Indonesia sebagai "mitra regional yang lebih berharga di wilayah paling penting di dunia," tulisnya.
Berdasar hukum AS, usulan penjualan senjata wajib diberitahukan kepada Kongres dan tidak berarti penjualan telah dikabulkan.
Tahun lalu, AS menghibahkan 24 F-16 C/D seken kepada Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dan mendorong apa yang Pentagon sebut kemampuan yang "sangat dibutuhkan" untuk melindungi wilayah udara Indonesia.
Indonesia harus merogoh kocek 750 juta dollar untuk meremajakan (upgrade) pesawat itu dari block 25 menjadi 52 dengan teknologi terbaru. Pesawat itu akan tiba di Indonesia pada 2014. Hibah itu diumumkan oleh Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali tahun silam.
Sementara, bulan Agustus ini AS juga menawari hibah 10 pesawat F-16. Indonesia yang senang dengan tawaran ini akan meminta persetujuan DPR lebih dulu, mengingat ongkos yang besar untuk mendandaninya.SUMBER : detik
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)







