• Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, mengingatkan kembali betapa pentingnya penguatan wilayah maritim. Terlebih luas wilayah maritim Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Wilayah Indonesia sama dengan luas Moskwa (Rusia) ditambah Bublin (Irlandia Utara), Berlin (Jerman), dan Roma (Italia).

    Wilayah Maritim Indonesia Harus Diperkuat
    TNI AL Harus Menambah dan Memperkuat KRI Untuk Menjaga Wilayah Maritim Indonesia

    "Posisi geografis seperti ini berpotensi menjadi penghambat mutlak bagi lalu lintas laut global," kata Dorodjatun dalam orasi ilmiahnya saat wisuda mahasiswa Pascasarjana Universitas Pertahanan, di Kantor Kemhan, Jakarta, Jumat (7/9).

    Tak hanya itu, tambah dia, sekitar 40 persen pelayaran dunia pun harus melalui perairan Indonesia, mulai dari Pasifik ke Hindia. Bisa saja tak melewati Indonesia, namun konsekuensinya harus memutar sekitar 6.000 nautical mile melewati Australia. "Tentu tidak akan ada yang menghendakinya," ujar Dorodjatun.


    Strategis posisi geografis maritim Indonesia ini dinilai akan memicu konflik di perbatasan hingga perang total, terutama dengan sembilan negara yang bertetangga. "Tentunya kita tak kehendaki itu. Saya berharap Indonesia sudah harus memperkuat MOOTWA (Military Operations Other Than War). Apalagi negara kita juga rawan terkena bencana alam," kata dia.

    Salah satu kemungkinan kecelakaan transportasi laut yang harus diwaspadai adalah kecelakaan kapal tanker dan kapal selam nuklir di perairan Indonesia. Militer Indonesia juga dituntut memiliki respons tinggi terhadap bencana di laut. Militer yang tak responsif akan membuat upaya penyelamatan terganggu, terutama karena begitu luasnya wilayah perairan dan kendala cuaca.

    Dorodjatun berharap pemerintah menyiapkan generasi yang akan datang agar lebih melek pengetahuan bahari. Apalagi Indonesia akan mengalami ledakan demografi. "Tanpa rakyat yang terdidik dan sejahtera, kemampuan pertahanan kita akan lemah," kata peraih penghargaan Mahaputera Adi Pradana pada 2005 itu.

    Ancaman Tinggi

    Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, mengingatkan ancamanan untuk menggoyang keutuhan NKRI yang tinggi di era sekarang. Tingkat kompleksitas ancaman sangat tinggi, tidak saja dari luar, tapi juga dari dalam negeri.

    Pesan itu disampaikan Purnomo di hadapan 31 wisudawan Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) dari program pascasarjana program studi Strategi Perang Semesta Angkatan III dan program studi Ekonomi Pertahanan Angkatan I.


    Marini Menjaga Pulau Terluar NKRI
    Anggota Marini Menjaga Pulau Terluar NKRI

    Purnomo menuturkan pada abad ke-21, kompleksitas ancaman dan tantangan sangat tinggi. "Ancaman tersebut sangat tinggi, menggoyang kutuhan NKRI. Aktornya bukan hanya dari luar, tetapi dari dalam negri juga," papar dia.

    Menhan berharap para wisudawan memperhatikan ciri-ciri perubahan abad ke-21 yang penuh dinamika tersebut. "Teori yang diterima dari pendidikan Universitas Pertahanan harus dipraktikkan di dunia nyata, harus dapat diimplementasikan pada masyarakat," kata dia.

    Dari 31 wisudawan, 24 di antaranya adalah prajurit TNI dan 7 orang sipil. Mereka berasal dari program studi Strategi Perang Semesta Angkatan sebanyak 30 orang dan satu orang asal program studi Ekonomi Pertahanan Angkatan.

    Rektor Universitas Pertahanan, Syarifuddin Tipe, melaporkan hingga saat ini Unhan telah mewisuda 159 lulusan secara keseluruhan. Jumlah mahasiswa sekarang mencapai 399 orang. "Terdiri dari 187 prajurit TNI, 210 orang sipil, dan 2 mahasiswa mancanegara, yaitu dari Australia dan Brunei Darussalam," imbuh dia.

    Sebelumnya, Ketua Institut Keamanan Keselamatan Maritim Indonesia (IK2MI), Laksdya TNI Y Didik Heru Purnomo, saat meluncurkan IK2MI, mengatakan 13 instansi yang berhubungan dengan pengelolaan keamanan dan keselamatan laut dinilai kurang efektif. Apalagi masing-masing instansi masih mengedepankan ego sektoral.

    "Keamanan dan keselamatan laut harus ditangani maksimal di dalam bentuk kelembagaan yang pas. Kita bisa belajar dengan negara lain," kata Didik.

    Mantan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) itu menyatakan pembentukan IK2MI merupakan upaya menyumbang pemikiran untuk memberdayakan masyarakat maritim dengan regulasi yang tepat. "Saat ini, pemberdayaan masyarakat maritim belum maksimal. Masih banyak kasus pencurian ikan dan perdagangan manusia," kata dia.

    IK2MI, lanjut dia, hadir untuk mengeliminasi bentuk kejahatan di laut, terutama di tataran pemikiran. Lembaga ini juga akan terus mengingatkan bahwa penguasaan kelautan merupakan agenda penting untuk menyejahterakan masyarakat. Apalagi sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan.

    Mantan Kalakhar Bakorkamla, Laksdya (Purn) Djoko Sumaryono, juga melihat koordinasi keamanan di laut masih saling tumpang tindih. "Bahkan cenderung bolong-bolong," ujar dia.

    Dari segi regulasi, dia juga melihat cenderung lambat. Sebagai gambaran, untuk membuat peraturan mengenai kebijakan kelautan, legislatif dan eksekutif Indonesia membutuhkan waktu hingga 11 tahun. UU Kelautan pun sama, dibutuhkan waktu lima tahun dan sampai sekarang belum terbentuk.

    "Laut kita masih sangat bolong dan terbuka. Belum ada pengamanan yang maksimal. Pemerintahan di laut belum diterapkan optimal," kata dia.



    Sumber : Koran Jakarta
  • Komponen cadangan atau lebih dikenal sebagai wajib militer bisa efektif memperkuat operasi militer selain perang seperti penanggulangan dan pemulihan bencana alam. Dalam sebuah sistem pertahanan dan keamanan, keberadaan komponen cadangan diperlukan, terutama sebagai kekuatan alternatif.



    "Komponen cadangan efektif pada kondisi negara bebas ancaman. Berbagai komponen masyarakat hendaknya tak memandang miring rencana pemerintah mengagendakan komponen cadangan," kata pemerhati persoalan militer, Wawan H Purwanto, di Jakarta, Jumat (7/9).

    Malaysia dan Singapura pun telah menerapkan kebijakan yang sama dan hasilnya dinilai efektif. "Melalui sistem ini, negara membina generasi muda yang tangguh untuk ikut membangun negara dalam sishankam," jelas dia.


    Apalagi, lanjut dia, situasi negara bebas dari operasi militer perang menjadi langkah efektif menyiapkan komponen cadangan. "Dalam kondisi aman justru harus lebih siap agar tak ada yang mlecehkan, misalnya perebutan wilayah," kata dia.

    Pendapat senada juga dilontarkan mantan pengajar Akademi Militer Mayjen (Purn), Hadi Suprapto. Menurut dia, ada empat hakikat pengelolaan sistem keamanan nasional, di antaranya adalah kewajiban bela negara.



    Sumber : Koran Jakarta
  • Sehari setelah menyandang pangkat bintang tiga,  Komandan Korps Marinir  Letnan Jenderal TNI (Mar) M. Alfan Baharudin mengambil apel khusus di Lapangan Apel Bhumi Marinir Cilandak Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2012). Apel Khusus tersebut dihadiri prajurit Korps Marinir wilayah Barat.

    Komandan Korps Marinir  Letnan Jenderal TNI (Mar) M. Alfan Baharudin
    Komandan Korps Marinir  Letnan Jenderal TNI (Mar) M. Alfan Baharudin

    Dalam kesempatan tersebut Dankormar menyatakan, militansi dan loyalitas adalah modal utama sebagai Prajurit Korps Marinir dalam melaksanakan tugas dan berkiprah di Nusantara, dengan modal tersebut prajurit Korps Marinir telah mampu menoreh prestasi yang luar biasa dan mampu hadir di setiap kancah pertempuran dan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


    Lebih lanjut Dankormar menambahkan, “dan berkat kerja keras dan loyalitas kalian, saya mendapat penghargaan untuk menjadi perwira tinggi Korps Marinir bintang tiga. Untuk itu saya berpesan kepada kalian, wahai prajurit-prajurit petempur sejati untuk terus berlatih dan berlatih sehingga kalian benar-benar menjadi prajurit yang profesional. Dan kita semua berharap ini adalah langkah awal yang baik untuk pengembangan Korps kita ke depannya agar Korps Marinir akan dipimpin oleh Pati Marinir Bintang Tiga. Untuk itu kita harus terus bekerja keras dan mengabdikan diri kepada bangsa dan negara kita ini dengan dilandasi dedikasi, militansi dan loyalitas,” tambah Dankormar.

    “Disamping itu, kalian harus mampu berbuat baik dan memberi arti yang baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Beri kontribusi yang positif terhadap masyarakat dimanapun kalian berada,” demikian tegas Dankormar Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin.

    Dalam apel khusus tersebut hadir Brigjen TNI (Mar) A. Faridz Washington sebagai Incoming Commandant Korps Marinir, Kepala Staf Korps Marinir Brigjen TNI (Mar) Tommy Basari N., Danpasmar-2 Brigjen TNI (Mar) Buyung Lalana serta para pejabat teras Korps Marinir lainnya.


    (Dispen Komar)
    Sumber :  TNI AL
  • Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksda TNI S.M. Darojatim membuka Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012 dalam suatu upacara militer bertempat di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (03/09).

    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim membuka Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012
    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim membuka Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012


    Panglima Kolinlamil dalam amanatnya mengatakan Latihan SAR dan Sea Survival yang akan dilaksanakan ini merupakan salah satu kegiatan pembinaan kemampuan prajurit untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan unsur, khususnya dalam melaksanakan SAR dan Sea Survival dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok Kolinlamil.

    Latihan merupakan salah satu kebutuhan satuan operasi, dengan latihan SAR diharapkan para peserta latihan dapat memahami prosedur dan mampu melaksanakan pencarian serta pertolongan terhadap korban kecelakaan di laut. Sedangkan dengan latihan Sea Survival, para peserta latihan diharapkan  akan mampu untuk mempertahankan diri dalam menghadapi situasi yang tidak diinginkan berupa kecelakaan yang sewaktu-waktu dapat terjadi di laut, tambahnya.


    Sementara itu, Asops Pangkolinlamil Kolonel Laut (P) Abdul Rasyid Kacong, S.E., selaku Papelat dalam laporannya menjelaskan Latihan dengan tema “Melalui Latihan SAR dan Sea Survival Tahun 2012, Kolinlamil siap meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan unsur dalam rangka menunjang tugas pokok TNI dalam OMSP” ini, dilaksanakan mulai hari ini hingga tanggal 20 September yang diawali dengan kegiatan teori secara klasikal dan latihan kering, dilanjutkan dengan pelaksanaan latihan di laut Jawa, perairan Kepulauan Seribu dan Pantai Banongan.

    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim memeriksa Peralatan Latihan SAR dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012
    Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksda TNI S.M. Darojatim memeriksa Peralatan Latihan SAR dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012

    Latihan SAR dan Sea Survival Tahun 2012 diikuti oleh 775 orang  terdiri dari pelaku 700 orang, pelatih dan pendukung 75 orang dengan menggunakan KRI Teluk Hading-537, KRI Teluk Parigi-539 serta alat bantu peraga dari Basarnas. Selaku Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) adalah Kolonel Laut (P) Tri Satrya Wijaya yang sehari-harinya sebagai  Komandan Satuan Lintas Laut Militer (Dansatlinlamil) Jakarta, yang  bertanggung jawab atas pelaksanaan latihan dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok Kolinlamil.

    Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Staf Koarmabar (Kasarmabar) Laksma TNI Muhammad Atok Urrahman, Kaskolinlamil Laksma TNI I.N.G.N. Ary Atmaja, S.E., para Asisten Pangkolinlamil, para Kadis Kolinlamil, Dansatlinlamil Jakarta, perwakilan dari Satpaskaarmabar, BNPB serta Basarnas. Bertindak selaku Komandan upacara dalam kegiatan kali ini Letkol Laut (T) Deddy Coredikris Lau yang sehari-hari sebagai Kasubdisren di Dinas Pemeliharaan Kapal (Disharkap) Kolinlamil.   



    Pembekalan Teori Evakuasi Medis
    Pelaku Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil tahun 2012 mendapat pembekalan teori dasar pertolongan evakuasi medis kepada korban kapal tenggelam/kecelakaan di laut,dari perwira  Dinas Kesehatan (Diskes) Komando Lintas Laut  Militer (Kolinlamil)  bertempat di Gedung Laut Natuna Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (04/09).
    Pembekalan Teori Evakuasi Medis - Latihan SAR dan Survival TNI AL
    Pembekalan Teori Evakuasi Medis - Latihan SAR dan Survival TNI AL

    Latihan kering pertolongan evakuasi medis yang disampaikan oleh perwira Diskes Kolinlamil ini merupakan pelajaran teori yang dimaksudkan sebagai bekal bagi prajurit yang berdinas di kapal perang dalam menangani terjadinya korban kecelakaan di laut. Ini merupakan salah satu rangkaian pembekalan kepada para peserta latihan SAR dan Sea Survival yang dipimpin Dansatgas Kolonel Laut (P) Tri Satrya Wijaya.

    Dalam latihan ini tim dari Diskes Kolinlamil yang terdiri dari tiga perwira dan enam personel bintara tamtama yang dipimpin Mayor Laut (K/W) Jamilah mewakili Kadiskes Kolinlamil Letkol Laut (K) drg. Ridwan Purwanto, MARS, menjelaskan kepada prajurit kapal perang yang tergabung dalam serial latihan kering SAR dan Sea Survival.

    Menurut Tim pengajar, Latihan SAR dan Sea Survival di laut pada hakekatnya merupakan suatu kebutuhan personel yang berdinas di kapal perang. Diharapkan dengan adanya latihan ini, sumber daya manusia khususnya prajurit TNI AL yang berdinas di kapal perang dapat meningkatkan kemampuan dalam menghadapi permasalahan yang terjadi khususnya di laut, sehingga mampu bertindak untuk memberikan bantuan pertolongan apabila terjadi kecelakaan di laut.

    Materi yang disampaikan pada pembekalan  ini meliputi keterampilan berenang tanpa alat, protap pertolongan korban diantaranya teknis pengangkatan korban secara perorangan maupun berpasangan, dan juga secara tim. Pertolongan permukaan air, pertolongan dalam air, pengenalan peralatan penyelamatan di laut, penggunaan isyarat, pencarian dan pertolongan, pengetahuan tentang kesehatan penyelam, renang dengan peralatan, teknik terjun ke laut, teknik menarik korban di permukaan, teknik penyelaman, pengetahuan tentang P3K, pengetahuan tentang keadaan darurat, maupun membaca tabel dekompresi, membuat perencanaan penyelaman.



    Prajurit KRI Tingkatkan Kemapuan SAR dan Sea Survival
    Pada hari ketiga latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) tahun 2012, para pelaku latihan  diberikan pembekalan  materi dayung yang dilaksanakan di dermaga Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu(05/09).
    Prajurit Latih Kemampuan SAR dan Sea Surviva
    Prajurit Latih Kemampuan SAR dan Sea Surviva


    Materi dayung yang berupa teori dan praktek lapangan ini disampaikan oleh Mayor Laut (P) Indra, yang sehari-harinya menjabat sebagai  Kadepsenbah KRI Tanjung  Nusanive-973 dan Kelasi Sandy sebagai instruktur yang merupakan  atlet dayung Kolinlamil.  Materi latihan ini  disampaikan dengan tujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan personel KRI untuk melaksanakan SAR dan Sea Survival di laut.

    Menurut Mayor Indra, latihan  yang dilaksanakan ini  masih merupakan rangkaian pelajaran dalam pelaksanaan latihan kering,teori dan praktek di laut sebelum pelaksanaan di medan latihan yang sebenarnya.

    Dalam latihan ini digunakan dua perahu karet dan sejumlah pelaku latihan SAR dan Sea Survival dari KRI Tanjung Kambani-971 serta dari KRI  Tanjung Nusanive-973.

    Masih dalam rangkaian kegiatan tersebut juga diadakan serial latihan pemadam kebakaran (PMK) yang dilaksanakan personel Denmako Kolinlamil  dipimpin langsung oleh Mayor Laut (P) Budiadi Perwira Staf Operasi (Pasops) Detasemen Markas Komando (Denmako) Kolinlamil,  sebagai upaya  meningkatkan kesiapsiagaan personel Kolinlamil sebagai unsur pertahanan pangkalan.

    Kegiatan ini dilaksanakan di lapangan apel dan  di dermaga, diikuti oleh segenap prajurit Denmako yang tergabung dalam tim PMK dari Bintara, Tamtama, serta PNS  Kolinlamil.      



    Pendalaman Materi Cara Bertahan Dilaut
    Prajurit KRI di jajaran Kolinlamil sebagai Pelaku Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil Tahun 2012, mendapatkan pendalaman materi cara bertahan di laut yang diberikan oleh Satuan Pasukan Katak Komando Armada RI Kawasan Barat (Satpaskaarmabar) di Gedung Laut Natuna Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, kemarin (Kamis,06/09).

    Komandan Detasemen Satpaskaarmabar Mayor Laut (T)  Arie Cahyo Sampaikan Materi Materi Sea Survival
    Komandan Detasemen Satpaskaarmabar Mayor Laut (T)  Arie Cahyo Sampaikan Materi Materi Sea Survival

    Materi Sea Survival atau cara bertahan di laut ini disampaikan oleh Komandan Detasemen (Danden) I Satpaskaarmabar  Mayor Laut (T)  Arie Cahyo. Ia  mengatakan Sea Survival merupakan suatu usaha untuk mempertahankan hidup di laut dari ancaman kelaparan/kahausan serta bahaya lainnya yang ditimbulkan oleh lingkungan, dalam rangka mencapai daratan terdekat atau menunggu suatu pertolongan, dengan tujuan untuk mampu mempertahankan hidup dengan memanfaatkan lingkungan.

    Menurutnya, dalam usaha mempertahankan hidup di laut terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi,  antara lain pengaruh dari luar diantaranya  gelombang, angin, suhu dan cuaca, serta binatang.  Sedangkan pengaruh dari dalam antara lain lapar dan haus, sakit akibat luka,  mabuk laut serta stress atau tekanan mental.

    Dalam mempertahankan hidup di laut, paling utama adalah  mempertahankan daya apung dengan mengenali  benda-benda apa saja yang dapat menambah daya apung dan bagaimana cara mengurangi kelelahan dengan berenang secara teratur ke tujuan yang ditentukan, bersikap tenang dan tidak panik, tidak melakukan  gerakan yang tidak perlu, melawan arus serta istirahat dengan sikap terlentang dengan menaruh pelampung pada tengkuk.

    Mempertahankan diri terhadap lingkungan dengan perlindungan terhadap matahari dengan membasahi muka setiap kali kering dan usahakan wajah tertutup baik dengan topi maupun sapu tangan serta usahakan menghindari gangguan serta menarik perhatian ikan buas dengan sikap tenang.

    Disamping itu,  juga dipaparkan   mengenai tantangan yang akan dihadapi dalam survival antara lain ketakutan, kedinginan, kesakitan, kehausan, kelaparan, kelelahan, kebosanan dan kesunyian,

    Dengan diberikannya materi ini diharapkan prajurit Kolinlamil sebagai Pelaku Latihan Search and Rescue (SAR) dan Sea Survival Kolinlamil Tahun 2012 memiliki kemampuan bertahan hidup dengan menggunakan peralatan yang ada, kemampuan dalam menghadapi bahaya, kemampuan ketahanan dalam menghadapi bahaya serta memiliki hasrat untuk tetap hidup.



    Sumber : Kolinlamil TNI AL
  • Salah satu unsur kapal perang Komando Lintas Laut militer (Kolinlamil) jenis Landing Ship Tank (LST ) KRI Teluk Ratai-509 dengan Komandan Letkol Laut (P) Syamsudin akan mengangkut Tim Khusus (Timsus) Rawa Laut Sungai Pantai (Ralasuntai) Satuan Tugas (Satgas) Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang diberangkatkan dari Pelabuhan Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (05/04).

    Personil Taifib Marinir TNI-AL, Den Gultor Kopassus dan Paskhas TNI AU tergabung dalam Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012
    Personil Taifib Marinir TNI-AL, Den Gultor Kopassus dan Paskhas TNI AU tergabung dalam Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012


    Tim Sus Ralasuntai Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang dipimpin oleh Mayor Mar Freddy Ardianzah selaku Dan Timsus Satgas Ekspedisi  dengan 17 orang personel terdiri dari 10 orang anggota Taifib Marinir (TNI-AL), 4 orang anggota Den Gultor 81 Kopassus (TNI-AD) dan 3 orang Paskhas (TNI-AU).


    Menurut Dan Satgas, kegiatan ekspedi Khatulistiwa 2012 akan memakan waktu sekitar 3,5 bulan penjelajahan susur pantai sepanjang garis pantai Kalimantan sejauh 5.800 Km, yang dimulai dari Tanjung Datu kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan finish di Tanjung Harapan Nunukan Kalimantan Timur.

    "Tujuan dari hajat akbar itu antara lain untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan prajurit agar memiliki naluri tempur di perbatasan, gunung dan pegunungan serta medan Ralasuntai (rawa, laut, sungai, dan pantai)," paparnya. 



    KRI Teluk Ranai-509 Angkut Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012
    KRI Teluk Ranai-509 Angkut Tim Satgas Ekspedisi Khatulistiwa 2012


    Tujuan yang kedua untuk membangkitkan kesadaran teritorial sehingga dikelola menjadi keunggulan teritorial, lalu tujuan ketiga untuk mendata serta meneliti segala potensi di perbatasan gunung dan pegunungan serta medan Ralasuntai di pedalaman Kalimantan bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya sebagai sumbangsih TNI kepada pemerintah.

    Selain itu, kegiatan berskala nasional itu juga bertujuan untuk memberikan keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan melalui program "Green, Clean, and Healthy".


    Selain itu, demi terwujudnya jiwa persatuan dan kesatuan antara TNI, Polri dan seluruh komponen bangsa, sekaligus rasa cinta Tanah Air dan terpeliharanya persahabatan dunia dengan terpeliharanya kelestarian alam di perbatasan dan pedalaman Kalimantan. Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang terdiri dari Tim Khusus (Timsus) ini akan bertugas menjelajahi perbatasan dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur  yang ditempuh dengan berjalan kaki



    Sumber : Kolinlamil TNI AL
  • Wilayah perairan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai masih rawan tindakan kriminal seperti perompakan atau pembajakan kapal. Untuk itu, TNI AL dan kepolisian akan meningkatkan pengawasan dan patroli di laut untuk memperkecil ruang gerak pelaku kejahatan.



    "Aksi pembajakan kapal oleh pelaku kejahatan di Kepri semakin sering terjadi, dan tindakan para pembajak semakin nekat dengan melukai aparat dan merampok senjata milik aparat," kata Panglima Armada Barat RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Sadiman, di Batam, Kamis (6/9).

    Menurut dia, wilayah perairan Kepri masih terbilang rawan dengan aksi-aksi kriminalitas. Hal itu bisa diketahui dari seringnya aksi perompakan. Dua aksi pembajakan kapal terjadi pada hari Rabu (5/9). Perompakan pertama terjadi pada Tugboat Leo 1 yang menarik tongkang Prince Capricorn 1 di Perairan Selat Riau.


    Tugboat itu hendak kembali ke Dumai setelah membongkar sekitar 4.000 ton minyak mentah di pelabuhan CPO Kabil Batam. Pelaku yang diperkirakan lebih dari empat orang berhasil melumpuhkan tujuh anak buah kapal (ABK) dan aparat Brimob yang bertugas. Pelaku kemudian membawa kabur barang-barang berharga dan sebuah senjata laras panjang milik anggota Brimob beserta amunisinya.

    Perompakan kedua terjadi pada tanker Bum Chin berbendera Hong Kong yang sedang berlabuh di Pelabuhan CPO Kabil. Pelaku berhasil menggasak barang-barang berharga milik ABK yang semuanya warga negara asing. Pelaku berhasil membawa kabur beberapa barang kapal, di antaranya beberapa mesin kompresor kapal.

    "Pelaku di dua aksi perompakan beberapa hari lalu ternyata merupakan sindikat yang sudah lama beroperasi di wilayah Perairan Selat Malaka," kata dia.

    Sementara itu, pada bulan sebelumnya, terjadi perompakan di Perairan Karimun, Provinsi Kepri, yang menimpa kapal berbendera Singapura. Namun, para pelaku perompakan berhasil ditangkap aparat TNI AL di tempat persembunyianya setelah aksi tersebut.

    Kepala Staf TNI AL (Kasal), Soeparno, mengatakan wilayah Perairan Kepri, khususnya Batam, memang perlu mendapat perhatian khusus mengingat lokasinya yang cukup strategis berbatasan dengan negara tetangga dan berada di jalur lintasan perdagangan dunia, yakni Selat Malaka.

    "Perairan Batam sangat rawan atas berbagai tindakan kejahatan dan pertahanan. Bila tidak dikawal dengan baik, memungkinkan praktik penyelundupan dan tindakan kriminal lainnya," kata dia. Untuk meminimalisasi aksi kejahatan di Perairan Kepri, aparat keamanan perlu dilengkapi dengan peralatan canggih karena pelaku kejahatan di laut saat ini sudah menggunakan peralatan canggih. Beberapa peralatan yang diperlukan, seperti kapal selam, penambahan kapal patrol dan penambahan personel.

    Markas Komando
    Kasal mengatakan untuk memperkecil ruang gerak pelaku kejahatan di Perairan Kepri, khususnya Batam, TNI AL telah membangun Dermaga Markas Komando Lanal Batam senilai 23 miliar rupiah. Dermaga tersebut akan digunakan untuk mempertahankan kedaulatan RI dan mengatasi tindakan kejahatan seperti praktik penyelundupan dan aksi kriminalitas lainnya.

    Dengan adanya markas komando tersebut, diharapkan birokrasi lebih efi sien dan akan semakin banyak aparat TNI yang bertugas mengawasi Perairan Kepri. Dengan demikian, ruang gerak para pelaku kejahatan semakin sempit sehingga aksi-aksi kriminal bisa dihindari dan dicegah.

    Secara terpisah, Ketua Institut Keamanan Keselamatan Maritim Indonesia (IK2MI), Laksdya TNI Y Didik Heru Purnomo, saat meluncurkan IK2MI, mengatakan 13 instansi yang berhubungan dengan pengelolaan keamanan dan keselamatan laut dinilai kurang efektif. Apalagi masing-masing instansi masih mengedepankan ego sektoral. 







    Sumber :  Koran Jakarta
  • Pengamat militer dari Universitas Muhammadiyah Malang, Muhadjir Effendi mengatakan anggaran pertahanan saat ini masih belum ideal, meski sudah ada kenaikan cukup signifikan.

     

    "Anggaran pertahanan saat ini baru sekitar lima persen dari APBN. Paling tidak untuk mendekati ideal antara 8-10 persen, seperti anggaran untuk kesehatan 10 persen, dan pendidikan 20 persen," katanya di Malang, sehubungan adanya kenaikan anggaran pertahanan dalam APBN, Jumat.

    Menurut dia, kebutuhan anggaran pertahanan paling tidak juga harus bisa memenuhi kebutuhan umum minimal, dimana kebutuhan untuk peningkatan kesejahteraan prajurit dan memodernisasi alutsista bisa seimbang.

    Ia mengatakan kenaikan anggaran pertahanan dari Rp64 triliun menjadi Rp77 triliun pada tahun 2013, ada perkembangan positif dalam skema pembenahan dunia militer di Tanah Air.


    Hanya saja, lanjut dia, kenaikan sebesar itu porsinya harus dibagi secara adil, artinya porsi untuk peningkatan kesejahteraan prajurit dan memodernisasi alutsista harus adil (proporsional).

    "Kita memang dalam kondisi dilematis, sebab kondisi alutsista kita membutuhkan anggaran yang cukup besar sebagai alat pertahanan negara dan kesejahteraan prajurit juga harus menjadi perhatian, sebab tingkat kesejahteraan prajurit kita sekarang ini masih rendah," ujarnya.

    Doktor yang mengupas masalah militer itu menyatakan, pengadaan alat persenjataan atau modernisasi alutsista yang sedang digiatkan pemerintah itu akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan tradisi tempur dan itu tidak bisa dibangun dalam kurun waktu 5-10 tahun saja.

    Sebab, lanjutnya, jika tradisi tempur ini tidak segera dibangun, secanggih dan se-modern apapun peralatan alutsista atau persenjataan, nantinya justru akan menjadi barang rongsokan karena prajuritnya tidak terbiasa menggunakannya.

    "Kalau negara kita ingin disegani dan ditakuti negara lain, maka mau tidak mau modernisasi alutsista dan sistem persenjataan kita juga harus ditingkatkan, disamping tetap memperhatikan kesejahteraan prajurit untuk mendukung kekuatan militer di Tanah Air," tegasnya. 



    Sumber : Jurnas
  • Guru  Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Dorodjatun Kunttjoro-Jakti, mengatakan, mencuatnya permasalahan-permasalahan klaim wilayah laut dan pulau-pulau kecil di sepanjang pantai Samudra Pasifik, mulai dari Laut China Selatan sampai dengan Kepulauan Sakhlin di utara, membuat Indonesia arus siap akan terseret di dalam konflik-konflik tersebut.



    Menurutnya, potensi konflik ini makin membesar dengan ditetapkannya strategi pertahanan “Second Island Chain” oleh China dan dilaksanakannya pembangunan basis militer AS di Darwin, berbarengan dengan dialihkannya kekuatan militer Australia ke wilayah utara dan barat Australia.

    Hal itu disampaikan Dorodjatun dalam Orasi Ilmiah “Memposisikan Masalah Jangka Sangat-Panjang dari Pertahanan dan Keamanan Wilayah Maritim” pada acara Wisuda Pascasarjana Universitas Pertahanan Indonesia di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (7/9).


    Menurut Dorodjatun, jika dibandingkan potensi konflik di wilayah Asia Pasifik tersebut, rencana Minimum Essential Forces (MEF) atau kekuatan pokok minimum 2024 dari Indonesia sungguh-sungguh sangat minimal.

    Oleh karena itu, harus lebih diperhatikan agar yang sudah minimal ini dilaksanakan dengan konsisten, dan sesuai dengan sifat pertahanan dari sebuah wilayah kepulauan yang demikian luas, yang mudah terancam dari segenap penjuru.



    Dikatakannya, politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” tidak dijamin akan dihormati oleh negara-negara besar di kedua samudra, apabila terjadi konflik di antara mereka.

    Generasi setelah Pemilu 2014 Indonesia harus terus memikirkan hal ini, sambil terus melakukan upaya pembangunan kapasitas pertahanan yang kredibel ke masa depan yang jauh.

    Dorodjatun juga mengatakan, masalah pertahanan setiap negara pada dasarnya dan dilihat secara sederhana demi analisa merupakan persiapan “Response Time” apabila berhadapan dengan ancaman, gangguan, bahaya yang datang dari luar yang bersumber pada “domain” yang mana pun.

    Tentu Response Time ini sangat kuat terkait kepada “Size of territory”. Hal ini merupakan sumber masalah besar yang sulit bagi sebuah negara seluas Indonesia, dengan penduduk sejumlah nomor empat di dunia sampai sekitar tahun 20140 yang akan datang.

    Menurut Dorodjatun, Indonesia juga harus memperhatikan keperluan membangun militer yang berkemampuan bertugas MOOTWA (Military Operations Other Than War), baik dilingkungan Indonesia sendiri maupun di ASEAN sampai dengan bertugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB. (jurnas)
  • Penjualan pulau di Indonesia terjadi lagi. Kali ini melalui sebuah situs yang mengkhususkan pada penjualan pulau, Dua pulau itu adalah Pulau Gambar Laut Jawa  yang ditawarkan seharga Rp 6,8 M. Dan Pulau Nanggu, Lombok, seharga Rp 9,9M. Hal tersebut terungkap sejak Rabu (05/09) pagi kemarin.

    Pertahanan Pulau Terluar RI Harus Diperkuat

    Pada hari bersamaan, di Jakarta. Professor.DR. Wan Usman MA, Ketua Penelitian “Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terdepan: Berhala, Nipah dan Marore dari Perspektif Pertahanan negara”, memaparkan laporan terakhirnya di kalangan terbatas. Seperti para Purnawirawan Perwira Tinggi TNI serta institusi terkait. Serta  kementerian perikanan dan kelautan, kementerian politik hokum dan keamanan, serta instansi terkait lainnya.



    Demi tetap terjaganya kedaulatan wilayah Indonesia khusus pulau terluar Indonesia, dan tiga pulau tersebut diatas. Prof Usman menyarankan: perlu koordinasi antar Institusi TNI (AD, AL, dan AU) dengan  Badan Intelijen Sipil atau militer milik negara, perhubungan laut, bea cukai, untuk menangkal penyelundupan, pencurian ikan, atau pengerukan pasir, hingga menduduki atau menguasai pulau milik Indonesia.



    Selain pos penjagaan yang sudah ada, peralatan yang sudah ada bisa dioptimalkan penggunaannya. Atau bahkan ditambah. Seperti kapal selam, kapal perusak, atau pun kapal cepat. Patroli pesawat atau helicopter bisa ditambah frekuensinya. Rotasi pasukan penjaga  lebih dipersingkat. Atau bisa menambah menara komunikasi, apakah itu radio komunikasi, menara BTS. Atau penambahan radar. Sehingga keberadaan pulau-pulau terluar ini tetap aman dan terjaga



    Sumber : Angkasa
  • Batalyon Marinir di Batam, Provinsi Kepulauan Riau diharapkan sudah berdiri pada 2014, kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

    Marnini TNI AL
    Marnini TNI AL

    "Pembentukan Marinir di Setokok, Batam masih dalam proses perencanaan. Kita sangat berharap sudah siap pada 2014," katanya saat meninjau Latihan Gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Ranai, Natuna, yang digelar Selasa hingga Jumat (4-7 September 2012).

    Panglima mengatakan, TNI saat ini terus melakukan konsolidasi dengan Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepri dan BPN terkait pematangan lahan yang dialokasikan untuk markas Batalyon Marinir Setokok.

    "Pematangan lahan dalam artian lahan yang dialokasikan untuk bangunannya telah resmi dihibahkan oleh pemerintah daerah kepada TNI. Selain itu, kita juga sedang menyiapkan proses penganggaran untuk pembangunan itu," ucapnya.


    Menurut Panglima, keputusan memilih Setokok sebagai pangkalan Marinir karena posisinya dekat dengan Selat Singapura, Selat Philips dan Selat Malaka.

    "Kita tidak ingin situasi damai di Selat Singapura dan Selat Malaka yang sudah kita lakukan dan tekan selama ini kembali berkembang seperti dulu, atau yang lebih buruk lagi," ucapnya.

    Oleh karena itu, katanya, TNI perlu melakukan penambahan kekuatan untuk lebih mendekatkan pasukan pada daerah-daerah yang rawan.

    "Memang selama ini kondisi di Selat Philips juga relatif aman dan stabil dengan dijaga oleh pasukan yang telah ada di wilayah tersebut serta pasukan dari Jakarta yang ditugaskan di sana. Dengan adanya penambahan pasukan melalui batalyon yang akan dibangun, maka tidak ada lagi penambahan pasukan dari Jawa," tuturnya.

    Panglima berharap dengan pendirian Batalyon Marinir di Batam akan memberi reaksi yang lebih cepat, lebih responsif terhadap ancaman stabilitas keamanan di perbatasan.

    "Terpenting adalah mempercepat reaksi penangkalan terhadap para perompak yang ingin melakukan kegiatan di sana," katanya. (RDT/H-KWR)

    Sumber  :  Antara


  • Model pesawat KFX/IFX serie C103 (all photos : KDN)
    CRDC (Combined  Research & Development Center) sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah Korea dan Indonesia yang merupakan gabungan antara engineer Korea dan Indonesia yang bekerja bersama-sama untuk pengembangan jet tempur generasi 4.5 yang diberi nama KFX / IFX baru-baru ini merilis gambar pertama dari hasil kerjasama keduanya yang dinamakan versi C103.

    C103 adalah rancangan baru dari program KFX/IFX yang mempunyai penampakan seperti F-22 Raptor dengan bentuk yang meminimalkan RCS (Radar Cross Section). Perbedaan yang paling menonjol adalah persenjataan yang dibawa C103 dapat terlihat semuanya karena digotong dibawah sayapnya. Pada F-22 Raptor persenjataan tersebut tersimpan dalam  Internal Weapon Bay sehingga pesawat tersebut dapat tampil full stealth.

    C103 rencananya akan menggunakan radar AESA (Active Electronic Scanned Array) yang dikembangkan oleh perusahaan Korea LIG Nex1. Pesawat ini direncanakan untuk dapat membawa persenjataan 4 rudal udara ke udara jarak menengah sekelas AMRAAM, 2 rudal udara ke udara jarak pendek dan dapat membawa bom hingga 1,000 pound sekelas JDAM (Joint Direct Attack Munition), yang semuanya terpasang pada 11 cantelan di bawah sayap dan bodinya.

    Dengan mesin yang mempunyai daya dorong 36.000 pound sekelas F404 / F414 / EJ200 maka C103 diproyeksikan akan mempunyai kemampuan di atas pesawat F-16. Keberhasilan program KFX/IFX ini akan menjadi kuda hitam dalam persaingan pemasaran pesawat tempur sekelas F/A-18E/F, F-16 Block 60, dan Eurofighter Typhoon.
    (Defense Studies)
  • Indonesia fighters seek development in full swing CRDC go!

     Model pesawat KFX/IFX serie C103 (all photos : KDN)
    CRDC (Combined  Research & Development Center) sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah Korea dan Indonesia yang merupakan gabungan antara engineer Korea dan Indonesia yang bekerja bersama-sama untuk pengembangan jet tempur generasi 4.5 yang diberi nama KFX / IFX baru-baru ini merilis gambar pertama dari hasil kerjasama keduanya yang dinamakan versi C103.



    KF-X/IF-X Fighter Tipe C103
    Model KF-X/IF-X Fighter Tipe C103

    C103 adalah rancangan baru dari program KFX/IFX yang mempunyai penampakan seperti F-22 Raptor dengan bentuk yang meminimalkan RCS (Radar Cross Section). Perbedaan yang paling menonjol adalah persenjataan yang dibawa C103 dapat terlihat semuanya karena digotong dibawah sayapnya. Pada F-22 Raptor persenjataan tersebut tersimpan dalam  Internal Weapon Bay sehingga pesawat tersebut dapat tampil full stealth.


    C103 rencananya akan menggunakan radar AESA (Active Electronic Scanned Array) yang dikembangkan oleh perusahaan Korea LIG Nex1. Pesawat ini direncanakan untuk dapat membawa persenjataan 4 rudal udara ke udara jarak menengah sekelas AMRAAM, 2 rudal udara ke udara jarak pendek dan dapat membawa bom hingga 1,000 pound sekelas JDAM (Joint Direct Attack Munition), yang semuanya terpasang pada 11 cantelan di bawah sayap dan bodinya.



    KF-X/IF-X Fighter Tipe C103


    Dengan mesin yang mempunyai daya dorong 36.000 pound sekelas F404 / F414 / EJ200 maka C103 diproyeksikan akan mempunyai kemampuan di atas pesawat F-16. Keberhasilan program KFX/IFX ini akan menjadi kuda hitam dalam persaingan pemasaran pesawat tempur sekelas F/A-18E/F, F-16 Block 60, dan Eurofighter Typhoon.
    (Defense Studies)


     =====================================================================

    Frequently Defense Network on September 6, CRDC (Combined Research & Development Center) Korean fighter development and exploratory development work done ahead of the development of the overall business direction for catching the operation began in August last year, since the development schedule navigation terminated four months ahead of last-minute coordination work being made in World War CRDC directly sought.




    Boramae business known as KF-X business while participating Indonesia KF-X / IF-X with the official name was changed. CRDC has been recognized for decades of expertise in a related field, such as the Agency for Defense Development (ADD: Agency for Defense Development), and the Korea Aerospace Industries (KAI Korea Aerospace Industries), LIG ​​Nex1, Air Force, and the Defense Acquisition Program Administration within the domestic premier professional 130 people, including more than 100 personnel and Indonesian Defence Research and Development Center (Balitbang) of more than 30 high-quality human resources were the best fighters that can meet the performance requirements of the two countries to develop guseulttam spilling.


    Day public KF-X / IF-X shape of the scheduled performance and the key technologies required for the expected unit price and production development, maturity, and was originally known bars in large part, the other parts were.



    KF-X/IF-X Fighter Tipe C103
     

    Advanced from initially had been reported through the Defense Daily C101, C103 案 shape being the most potent (案) Review and had the same shape by shrinking the overall F-22 fighter.

    C103 the 'Full-Stealth' is taking shape as shown in the photo. Navigation development team test the candidates placed in various shapes, wind tunnel experiments, and figures such as RCS (Radar Cross Section), and C103 showed the best results among the KF-X / IF-X as the final shape of the provisional upheld. ( is expected to become increasingly refined in future system development process, given the change in shape.)

    C103 is currently being developed LIG Nex1 Korean AESA (Active Electronically Scanned Array) radar, mounted, and further improvement through prototype after completion AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile) class fuselage in the center of the medium-range air-to-air missiles 4 feet or is expected to have a medium-range air-to-air missiles, 2 feet and 1,000 pounds-class JDAM (Joint Direct Attack Munition) IWB (Internal Weapon Bay) that can be mounted.


    11 non-stealth mission at the fuselage external hard points, and can be mounted in various armed 2s, a new engine with 36,000 pounds yisanggeup thrust F404 / F414 / EJ200 flight performance and the ability to accelerate the F-16 level or above, and equip is expected.

    For each navigate and participate in the development of research institutes and companies. "Enough domestic development and securing a 00% level of expertise in terms of technology maturity, unlike the report of the external non-professional institutions and reach the level of some of the lack of technical systems development enough technical cooperation through or from a consortium of foreign companies and configuration step development is possible, "said KF-X / IF-X development success have strong confidence betrayed.

    Boramae business "since the establishment of the plan exceeded 10 years, the Air Force soldiers take and concept study that is the subject of Defense Science Institute, a long period of time, the technical feasibility study work in progress has been. LIG Nex1 expectations in this process, while developing the T-50, F/A-50, and technology accumulation, a significant portion was made in the avionics part're creating more research results in the development of a full-fledged system even though technically go has become known as a consensus can be developed without difficulty that the related fields of engineers.

    Difficult in the development of the Korean fighter than the technical challenges that the political and economic interests are seen as Are participating in the project FX-3 improved the F/A-18E/F of Boeing 社 by Lockheed Martin F-16 Block 60 improved the KF-X suggests, the KF-X development, even if a fighter Korea has control of this technology for their technical control holds its intention to subsequently KF-X's overseas exports and technology transfer to oppose the pool and because

    If successful, actually less than 70 billion won, which aims to suppress the KF-X development on the above-mentioned performance and success, the CRDC for yangsanga KF-X F/A-18E/F, F-16 Block 60, be a dark horse to emerge as a powerful inroads of the Eurofighter Typhoon, the KF-X / IF-X interfere with the movement from developed countries such as the United States a powerful show that if it fits in the development of the system for political, diplomatic and economic countermeasures step-by-step ready seems to be out.

    Official "CRDC's somewhat expensive if the current exploration development as development progresses 案 past Konkuk weapon system concept in the development of the application Laboratory than the expected 50 billion KDI expected 70 billion lower than the level of the yangsanga will be priced" said, "needs tuning through the development and mass production is possible at a reasonable cost," he said.

    Those working in the field of aircraft maintenance, Air Force officials also "In the past, F-4/5 of the fighters is basically dependent on imports, and almost all parts of these fighters by eating her since been discontinued parts supply operation to maintain a very large difficulties express several complaints are made, "said the localization of a high percentage of the development of domestic fighter made fighters and maintain power dimension there is a dramatic improvement in capacity utilization is expected.


    KF-X/IF-X Fighter Tipe C103
     

    On the other hand, reflects the development of the KF-X / IF-X navigation shut down, but the end of the year, the budget for a full-scale system development in next year's budget not, some policy research institutions and relevant ministries in the deal over the logic of the foreign fighters maker last formation of public opinion is an urgent need for the agency's corrective relationship seems to be 10 years, embarked itself in a position to oppose the development of the domestic fighter system consistently adheres. 


    Sumber : Korea Defence
  • Latihan bersama berskala multilateral Angkatan Laut delapan negara dengan nama sandi “Kakadu Exercise 2012” telah memasuki tahap manuver lapangan yang berlangsung di perairan sebelah utara Australia. Sebanyak 18 kapal perang dari delapan negara memenuhi perairan sebelah utara Australia itu untuk melaksanakan tahap sea phase dalam latihan bersama hingga tanggal 13 September 2012.

    Latma “Kakadu Exercise 2012” Memasuki Tahap Manuver Lapangan

    Dalam tahap sea phase ini, materi latihan yang dilaksanakan meliputi: Marine Skills, SAR Ex, Boarding Ex, CASEX, Gunnery Ex, Cross Deck Landing, RAS Ex, ADEX, Encounter Maritime Terror Ex, dan Multiwarfare Ex. Seluruh kapal perang yang terlibat bergerak dari pelabuhan Forth Hill Wharf Darwin, Australia menuju laut lepas dengan bentuk formasi yang telah ditentukan.

    Latihan bersama “Kakadu Exercise 2012” yang diselenggarakan oleh Royal Australian Navy (RAN) selaku tuan rumah, merupakan latihan bersama setiap dua tahun. Latihan ini dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan hubungan kerja sama antarnegara di Asia Pasifik, sehingga diharapkan dapat mewujudkan stabilitas keamanan di kawasan. Latihan ini diikuti oleh Angkatan Laut 8 (delapan) negara, terdiri dari Australia, Brunei Darussalam, Indonesia, Perancis, Jepang, Selandia Baru, Singapura, dan Thailand.


    Dari 18 kapal perang yang terlibat latihan, Angkatan Laut Australia mengerahkan 9 kapalnya, yakni HMAS Darwin, HMAS Dechaineux, HMAS Perth, HMAS Warramunga, HMAS Sirius, HMAS Bathurst, HMAS Ararat, HMAS Gascoyne, dan HMAS Huon; Angkatan Laut Brunei satu kapal yakni KDB Darussalam, Perancis satu kapal FNS Vendemiaire, Jepang satu kapal JS Shimakaze, Selandia Baru dua kapal yakni HMNZS Te Kaha dan HMNZS Endeavour, Singapura dua kapal RSS Stalwart dan RSS Valiant, Thailand satu kapal HTMS Rattanakosin, dan dari Indonesia TNI AL mengerahkan kapal perang TNI AL KRI Frans Kaisiepo-368 didukung satu unit helikopter TNI AL jenis Bolcow BO-105. Selain kapal perang beberapa negara mengerahkan juga beberapa pesawat tempur dan helikopternya.

    Keikutsertaan TNI AL dalam latihan ini dimaksudkan sebagai ajang komparasi profesionalitas prajurit dalam menguasai berbagai problem latihan yang dilaksanakan, sekaligus untuk menguji kemampuan alutsista yang dimiliki dihadapkan pada kemampuan alutsista negara lainnya. Hal ini karena pada latihan “Kakadu Exercise 2010” yang dilaksanakan di Darwin, Australia dua tahun yang lalu, TNI AL hanya berperan sebagai observer. Sedangkan pada latihan Tahun 2012 ini TNI AL mengikuti semua rangkaian latihan yang dilaksanakan.

    Dalam latihan “Kakadu Exercise 2012” ini masing-masing peserta akan diuji kemampuannya dalam mengaplikasikan dan mengembangkan doktrin, taktik serta prosedur operasi laut sesuai referensi yang telah ditetapkan, mengaplikasikan operasi tempur laut dalam kegiatan peperangan anti kapal permukaan, anti kapal selam, dan pertahanan udara, menguji kemampuan dalam mengaplikasikan prosedur Maritime Interdiction Operation (MIO) terhadap kapal-kapal yang dicurigai serta prosedur penanganan SAR, mengasah kemampuan dasar kepelautan (Marine Skill) bagi seluruh prajurit secara profesional, serta melatih komando dan pengendalian dan kerja sama taktis serta teknis antar unsur Angkatan Laut para peserta.

    Latihan bertujuan untuk mempererat kerja sama antara TNI AL dan negara-negara peserta latihan serta meningkatkan interoperability dalam maritime security regional pada operasi multilateral. Sedangkan sasaran latihan yang ingin dicapai pada latihan “Kakadu Exercise 2012” ini antara lain: memelihara dan meningkatkan hubungan baik antara negara peserta latihan dalam rangka menjaga stabilitas keamanan regional, meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam pemahaman prosedur dan taktik operasi laut, memadukan pemahaman dan pengembangan dalam prosedur maritime security serta Standard Operational Procedure (SOP)  untuk pemeriksaan di laut dan SAR.



    Sumber : Pelita Online
  • Latihan bersama “Kakadu Exercise 2012” yang diselenggarakan oleh Royal Australian Navy (RAN) selaku tuan rumah, merupakan latihan bersama setiap dua tahun. Latihan ini dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan hubungan kerja sama antarnegara di Asia Pasifik, sehingga diharapkan dapat mewujudkan stabilitas keamanan di kawasan. 

    KRI Frans Kaisiepo-368 Kakadu Exercise 2012
    KRI Frans Kaisiepo-368 mengukuti Latihan Multirateral Kakadu Exercise 2012
    Keikutsertaan TNI AL dalam latihan ini dimaksudkan sebagai ajang komparasi profesionalitas prajurit dalam menguasai berbagai problem latihan yang dilaksanakan, sekaligus untuk menguji kemampuan alutsista yang dimiliki dihadapkan pada kemampuan alutsista negara lainnya. Hal ini karena pada latihan “Kakadu Exercise 2010” yang dilaksanakan di Darwin, Australia dua tahun yang lalu, TNI AL hanya berperan sebagai observer. Sedangkan pada latihan tahun 2012 ini TNI AL mengikuti semua rangkaian latihan yang dilaksanakan.

    Pelaksanaan latihan (Broad Exercise Structure) terdiri dari 2 (dua) tahapan, yaitu : tahap I (29 Agustus - 01 September 2012) merupakan tahap pangkalan (Harbour Phase), dan tahap II (02 – 13 September 2012) merupakan tahap manuver lapangan (Sea Phase) di perairan Australia Utara.  Materi umum latihan meliputi: Marine Skills, SAR Ex, Boarding Ex, CASEX, Gunnery Ex, Cross Deck Landing, RAS Ex, ADEX, Encounter Maritime Terror Ex, dan Multiwarfare Ex.

    Sebanyak 18 kapal perang akan memenuhi perairan sebelah utara Australia dalam manuver lapangan bulan September 2012 ini. Angkatan Laut Australia mengerahkan 9 kapal perangnya, Brunei satu kapal, Perancis satu kapal, Indonesia satu kapal, Jepang satu kapal, Selandia Baru dua kapal, Singapura dua kapal, dan Thailand satu kapal. Selain kapal perang beberapa negara mengerahkan juga beberapa pesawat tempur dan helikopternya.

    Dalam latihan “Kakadu Exercise 2012” ini masing-masing peserta akan diuji kemampuannya dalam mengaplikasikan dan mengembangkan doktrin, taktik serta prosedur operasi laut sesuai referensi yang telah ditetapkan, mengaplikasikan operasi tempur laut dalam kegiatan peperangan anti kapal permukaan, anti kapal selam, dan pertahanan udara, menguji kemampuan dalam mengaplikasikan prosedur Maritime Interdiction Operation (MIO) terhadap kapal-kapal yang dicurigai serta prosedur penanganan SAR, mengasah kemampuan dasar kepelautan (Marine Skill) bagi seluruh prajurit secara profesional, serta melatih komando dan pengendalian dan kerja sama taktis serta teknis antar unsur Angkatan Laut para peserta.

    Latihan bertujuan untuk mempererat kerja sama antara TNI AL dan negara-negara peserta latihan serta meningkatkan interoperability dalam maritime security regional pada operasi multilateral. Sedangkan sasaran latihan yang ingin dicapai pada latihan "Kakadu Exercise 2012” ini antara lain: memelihara dan meningkatkan hubungan baik antara negara peserta latihan dalam rangka menjaga stabilitas keamanan regional, meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam pemahaman prosedur dan taktik operasi laut, memadukan pemahaman dan pengembangan dalam prosedur maritime security serta Standard Operational Procedure (SOP)  untuk pemeriksaan di laut dan SAR.



    Sumber : TNI AL
  • Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda Mayor Jenderal Zahari Siregar memerintahkan jajarannya menarik semua anggota TNI Angkatan Darat yang menjadi penjaga keamanan di perusahaan-perusahaan perkebunan di wilayah Aceh.



    "Saya perintahkan kepada semua jajaran Kodam Iskandar Muda untuk mulai saat ini menarik prajurit-prajurit saya yang dipekerjakan di perkebunan-perkebunan yang ada di wilayah Provinsi Aceh ini. Kembali latihan, back to professionalism. Kerjamu bukan di sana," ucap Zahari kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (6/9/2012).


    Sebelumnya, sejumlah kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan di Aceh menyatakan keberatan dengan masih banyaknya prajurit TNI yang menjadi petugas keamanan di perusahaan-perusahaan perkebunan swasta di Aceh. Keberadaan anggota TNI tersebut memperuncing konflik lahan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat sekitarnya karena penggunaan cara kekerasan dan intimidasi oleh tentara untuk menekan masyarakat sekitar perkebunan.

    Zahari mengatakan, keberadaan anggota TNI AD di perkebunan-perkebunan tak saja mengganggu tugas profesional prajurit, tetapi juga mengurangi kemampuan fisik mereka sebagai garda depan penjaga keamanan rakyat.

    "Sayang sekali kalau kamu (prajurit TNI) di sana. Fisikmu enggak akan terpelihara. Sakit kamu nanti. Tapi, kalau kamu kembali latihan, fisikmu sehat, matanya menteleng, siap melihat segala sesuatu, maka akan lama masa pakainya. Sehat akhirnya," tandas Zahari. 



    Sumber : Kompas
  • "Itu adalah kedaulatan kita.”

    Menteri Pertahanan Australia, Stephen Smith, menegaskan kembali posisi Australia yang menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia termasuk Papua dan Papua Barat.


    West Papua NKRI - Indonesia

    “Kami menyambut baik komitmen Presiden Yudhoyono untuk memperbaiki standar kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Papua dan Papua Barat melalui investasi ekonomi. Kami juga menyambut baik indikasi Presiden Yudhoyono bahwa dugaan itu akan diinvestigasi,” kata Smith dalam jumpa pers di Kementerian Pertahanan, Rabu (5/9), setelah melakukan kesepakatan perjanjian kerjasama pertahanan Indonesia dan Australia.

    Dalam kesempatan itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan apresiasinya terhadap Australia yang menghormati integritas dan kesatuan teritorial Indonesia, seperti yang tercantum dalam perjanjian bilateral keamanan dan pertahanan Lombok Treaty yang ditandatangani Indonesia dan Australia pada 2006.


    “Negara-negara tetangga kita menghormati kedaulatan kita di Papua dan Papua Barat. Itu adalah kedaulatan kita,” ujar Purnomo.

    Jakarta disebutnya tidak mengirimkan pasukan militer tambahan untuk beroperasi di Papua dan Papua Barat untuk menangani gerakan separatisme.

    “Pasukan yang beroperasi di Papua adalah pasukan lokal. Kalau pun kami mengirimkan pasukan ke sana, mereka adalah pasukan khusus untuk menjaga daerah perbatasan dan itu sesuai dengan peraturan kami,” katanya.

    Untuk penanganan masalah gerakan separatisme, Purnomo menyebut diserahkan kepada polisi. Karena masalah gangguan keamanan dan separatisme adalah masalah kriminal dan penanganannya diatur dalam undang-undang pidana.

    “Situasi di Papua adalah situasi sipil, bukan situasi militer,” katanya.

    Terkait dengan penembakan tokoh gerakan separatisme Papua, Mako Tabuni, yang berdasarkan investigasi media Australia dilakukan pasukan khusus polisi anti terorisme Densus 88, Purnomo mengatakan hal itu tidak ada kaitannya dengan hak asasi manusia karena apa yang dilakukan Mako adalah tindakan kriminal, termasuk sejumlah insiden penembakan yang menewaskan warga sipil dan seorang warga negara Jerman di Papua. 

    “Hal itu terjadi di wilayah yurisdiksi Indonesia dengan aturan dan hukum yang berlaku di Indonesia,” kata Purnomo.



    Sumber : Berita Satu